Sabtu, 22 November 2014
home ENGLISH
LPP  |  Pusinfo  |  Perpustakaan  
Tentang Kami Produk Agenda Berita Galeri Alumni
 
 
 
 

 
Majalan Empat Bulanan LPPcom Perpustakaan LPP
 
 
 

Sabtu, 12 Januari 2008
80 Ribu Ha Tanaman Karet Sumut Mendesak Diremajakan

Waspada (3/1) MEDAN; Dinas Perkebunan Sumatera Utara tahun 2008 akan memperluas dan meremajakan tanaman karet menyusul adanya 80 ribu hektar tanaman karet di daerah itu yang sudah mendesak diremajakan.

Kepala Dinas Perkebunan Sumut, Batara Girsang, di Medan, Rabu mengatakan, 80 ribu hektar lahan karet yang terdapat di 11 kabupaten Sumut merupakan sebagian dari 480 ribu hektar lahan karet di provinsi itu.
 
"Dinas Perkebunan Sumut mulai tahun ini konsentrasi penuh pada peremajaan tanaman itu di luar kopi, kakao dan sawit yang masuk dalam program revitalisasi perkebunan," katanya.
 
Tahun 2008, Pemprov Sumut menargetkan peremajaan dan perluasan tanaman karet sekitar 50 ribu hektar sebagian di antaranya masuk dalam program revitalisasi perkebunan di daerah itu.
 
Dia menjelaskan, sebanyak 80 ribu hektar tanaman karet yang harus diremajakan itu telah berumur di atas 20 tahun dan berproduksi rendah di bawah 500 kilogram per hektar per tahun.
 
"Tanaman yang mendesak diremajakan itu juga merupakan dampak dari penggunaan bibit yang tidak bagus," kata Batara yang didampingi Kasubdis Bina Usaha Tani Disbun Sumut, Washington Siregar.
 
Menurut dia, karet merupakan salah satu komoditi utama ekspor Sumut karena itu tanaman tersebut harus mendapat perhatian penuh dengan dukungan untuk perbaikan dan pengembangan tanaman itu.
 
Perhatian Dinas Perkebunan Sumut itu antara lain sudah ditunjukkan dengan pemberian bantuan dana untuk pengurusan surat tanah lahan karet petani seluas 1.200 hektar di Tapanuli Tengah.
 
Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah, menyebutkan tanaman karet memang harus dikembangkan di Sumut mengingat prospek ekspor komoditi itu masih besar.
Dewasa ini, pabrikan kesulitan mendapatkan Bokar dari pedagang pengumpul atau petani karena produksi getah petani maupun kebun swasta dan PT.Perkebunan Nusantara di Sumut terus menurun.
 
Kondisi itu diakibatkan cuaca jelek yakni panas yang berkepanjangan dan diikuti langsung curah hujan yang tinggi di tengah banyaknya tanaman tua.
Produksi Bokar Sumut berdasarkan data tahun 2005 yang sebesar 356.577,48 ton, kata dia, memang dibawah angka ekspor karet kering daerah itu yang berkisar sebesar 450 ribu hingga 500 ribu ton per tahun.
Akibatnya pabrik karet remah (crumb rubber) di Sumut terus mengalami kekurangan bahan baku setiap tahun yang diantaranya sehingga harus ditutupi dengan pasokan Bokar dari daerah lain seperti Jambi, Riau dan Sumbar.
Tahun 2006, realisasi ekspor karet Sumut bahkan sudah mencapai 512.267,63 ton dan periode Januari-Oktober 2007 sebesar 420.544 ton.
Harga Bokar yang menguat terus hingga Rp20 ribu per kg dan harga ekspor karet jenis TSR 20 di pasar bursa komoditi Singapura (SICOM) yang berkisar 250.25 sen dolar AS per kilogram untuk kontrak pada Januari ini menunjukkan bahwa prospek tanaman karet masih cukup bagus, kata Eddy Irwansyah. (SLt)


Dibaca : 3077 kali   |    Versi cetak   |    Kirim ke teman   |    Komentar 0

Lima Berita Terbaru Lainnya

Jum'at, 21 November 2014
Pengumuman Tes Tahap IV PTPN IX
Jum'at, 7 November 2014
Pengumuman Tes Tahap III PTPN IX
Selasa, 28 Oktober 2014
Pengumuman Tes Tahap II PTPN IX
Senin, 20 Oktober 2014
Pengumuman Tes Tahap I PTPN IX
Senin, 29 September 2014
Kesempatan Berkarya di PTPN IX
INDEX BERITA


 
Kantor Pusat LPP / Jl. LPP No.1 (Jl. Urip Sumoharjo) Yogyakarta 55222 Telp.: +62 274 586201 / Fax: +62 274 513849 / e-mail: pusat@lpp.ac.id
Hak Cipta © 2009. Lembaga Pendidikan Perkebunan. Hak Cipta Dilindungi.