• Petruk: “Gitu Aja Koq Repot”

    Pagi yang cerah, Petruk duduk santai di teras rumahnya menikmati udara pagi yang segar. Ia menikmati suasana, ditemani dengan gorengan dan teh manis spesial yang disiapkan oleh sang Istri. Segala permasalahan di kerajaan Amarta telah selesai. Hampir saja dirinya di penjara ketika mengungkapkan kebenaran, namun akhirnya sang Raja menyadari kesalahannya. Akhirnya Petruk diperbolehkan pulang dan orang-orang yang bermasalah seperti Bagong, Gareng, Togog, Mbilung dinyatakan bersalah oleh sang Raja. Hal itu berimbas ke tingkat ekonomi mereka menjadi kurang baik setelah peristiwa itu.

    Tiba-tiba Bagong datang dengan sepeda motor yang sudah butut. Sepeda motor keluaran 30 tahun yang lalu dengan warna hijau yang sudah mulai memudar. Kemudian ia sandarkan sepeda motornya dan masuk ke dalam rumah. Setelah berbasa-basi, akhirnya Bagong mengutarakan maksudnya, yaitu meminta bantuan dan solusi kepada Petruk mengenai permasalahan tersebut. Bagong ingin memperbaiki kondisi ekonominya. Petruk yang saat ini hidup sangat sederhana dan hanya memiliki penghasilan yang sedikit tidak bisa membantu dalam bentuk uang, tetapi hanya bisa menasehati supaya Bagong terus berusaha untuk mencari solusi, bekerja keras dan berdoa.

    Beberapa hari kemudian bertemulah Bagong, Gareng, Mbilung dan Togog. Mereka mencari solusi terhadap permasalahan mereka. Setelah lama mereka berpikir dan berdiskusi, akhirnya mereka memperoleh satu kesepakatan bersama. Gareng memiliki majalah yang saat ini oplahnya masih rendah sehingga perusahaan dalam kondisi hidup segan mati tak mau. Mereka berusaha meningkatkan oplah majalah tersebut sehingga diharapkan kehidupan materi mereka menjadi lebih baik. Untuk itu mereka membutuhkan tema yang menarik perhatian banyak orang, sehingga mereka akan mewawancarai orang yang saat ini dikenal baik oleh masyarakat, yaitu Petruk. Menurut mereka tema yang saat ini menarik adalah pluralisme dalam beragama menjadi sangat pas, dimana Petruk dikenal orang yang dihormati dan disegani.

    Akhirnya waktu yang telah dijanjikan tiba. Gareng dan Bagong bertemu dengan Petruk di rumah Petruk yang sangat sederhana. Setelah mengucapkan salam kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Petruk menerima mereka dengan tangan terbuka. Setelah berbasa-basi mereka mengutaraan rencana untuk melakukan wawancara dengan Petruk. Berikut hasil wawancara mereka. Bagong : ”Bagaimana menurut Anda mengenai pluralisme internal umat Islam?”. Petruk: ”Kemajemukan umat Islam di Indonesia sudah terjadi sejak lama. Sebagian besar mengambil madzhab Syafi’i, namun sebagian besar mengambil madzhab yang lain. Bahkan realitasnya ada yang Syi’ah, Ahmadiyah, abangan dan lain-lain. Tingkat penghayatannya pun bervariasi, dari yang berkhitan dan bersyahadat waktu menikah, ada yang sampai tingkat ulama ataupun kyai. Akan tetapi kemajemukan itu harus tetap terikat dalam ukhuwah Islamiyah atau ikatan persaudaraan Islam, sehingga semua yang berbeda aliran maupun berbeda tingkatan pemahaman tetap saling menghormati. Dengan agama lain pun dalam Islam diajarkan untuk saling menghormati. Bagong: “Bagaimana kalau ada istilah Islam abangan atau Islam KTP?”. Petruk: ”Aku tidak setuju. Semua yang sudah bersyahadat dan berkelakuan baik ya muslim. Mereka yang ketika bertamu mengucapkan kulo nuwun bagi orang Jawa ataupun punten bagi orang Sunda ya tetap Muslim karena syahadatnya. Bagong: ”Kalau begitu ucapan Assalamu’alaikum bisa diganti dengan selamat pagi?”. Petruk: ”Ya bagaimana kalau petani atau orangorang lugu itu biasanya bilang kula nuwun atau selamat pagi dan belum terbiasa dengan Assalaamu’alaikum seperti dirimu yang sudah fasih berbahasa Arab”. Bagong: ”Baik, sudah cukup wawancaranya, saya pamit dulu, terima kasih”. Setelah wawancara Bagong pun kembali ke rumahnya.

    Setelah beberapa hari, Bagong dan teman-temanya mengadakan rapat untuk melakukan langkah selanjutnya. Mereka berpikir setelah melakukan wawancara, bagaimana cara mendongkrak oplah penjualan majalah. Bagong memberikan usul yang mengagetkan. Bagong mengusulkan: “Bagaimana kalau kita tulis saja Petruk merubah Assalaamu’alaikum menjadi selamat pagi? Dengan berita seperti itu maka akan terjadi kontroversi sehingga oplah majalah kita kemungkinan akan meningkat tajam”. Gareng menimpali: ”Baiklah, saya setuju”. Togog menyela: ”Saya tidak setuju, karena berarti kita telah merubah isi wawancara, bukankah Petruk tidak mengatakan hal tersebut?”. Bagong menjawab: ”Ini hanya trik pemasaran saja, apabila hal ini telah kita muat, maka aku rasa Petruk akan memberikan klarifikasi, kita berikan ruang untuk menjelaskan. Hal ini akan menjadi polemik yang akan menarik perhatian, namun kita

    juga memberikan kesempatan Petruk menjelaskan sehingga permasalahan selesai. Bantahan itupun kemungkinan akan meningkatkan oplah kita juga”. Togog menolak usulan tesebut dan berkata: ”Saya kira tidak bisa, kita bermain api dengan menulis seperti itu, di masyarakat akan terjadi kegaduhan dan bagaimana pandangan masyarakat terhadap Petruk, kemungkinan akan dihujat oleh masyarakat”. Gareng pun menengahi: ”Baiklah, kita putuskan saja siapa yang setuju dan siapa yang tidak”. Orang yang menghadiri rapat cukup banyak, dari pejabat penerbit sampai dengan wartawan, setelah dilakukan voting, ternyata lebih banyak yang setuju daripada yang tidak, sehingga berita itupun dimuat.

    Berdasarkan hasil keputusan rapat, maka berita itupun dimuat menjadi headline majalah. Setelah majalah dicetak dan diedarkan di masyarakat, maka seperti perkiraan sebelumnya berita tersebut menjadi polemik di masyarakat.

    Banyak orang yang tidak setuju dan tidak terima dengan perlakuan tersebut. Petruk dihujat di sana-sini. Oplah majalah naik sehingga memberikan keuntungan yang banyak. Bahkan media lainpun ikut mengutip berita tersebut sehingga benar-benar menjadi berita yang sangat luar biasa. Perang opini terjadi di masyarakat.

    Akhirnya sesuai dengan rencana semula, perwakilan majalah datang ke rumah Petruk untuk memberikan bantahan terhadap berita yang telah beredar. Togog mewakili perusahaan pergi ke rumah Petruk. Togog: ”Kang Petruk, saat ini telah beredar kabar yang ramai dan saya rasa Kang Petruk tahu, yaitu mengenai peruabahan Assalaamu’alaikum menjadi selamat pagi dan saya tahu Anda tidak mengatakan hal tersebut. Saat ini sebaiknya Kang Petruk memberikan bantahan terhadap berita yang telah beredar selama ini. Hal ini akan menjelaskan duduk perkaranya sehingga polemik di masyarakat kemungkinan akan mereda dan Kang Petruk tidak dihujat dan di caci maki lagi. Petruk: ”Tidak usah dibantah, biarkan saja”. Bagai di sambar petir, Togog kaget dengan jawaban yang diberikan Petruk. Walaupun Togog berusaha membujuk Petruk agar memberikan klarifikasi, namun Petruk tetap tidak mau memberikan bantahannya. Bagong berpikir mungkin Petruk berharap bahwa agar masyarakat kemudian menjadi terbiasa berpikir secara utuh dalam berbagai aspek serta masyarakat menjadi dewasa dalam menghadapi suatu masalah.

    Togog melaporkan apa yang diperoleh setelah ke rumah Petruk. Suasana kantor menjadi riuh. Mereka tidak menyangka Petruk tidak mau memberikan klarifikasi. Hal tersebut di luar dugaan mereka semua. Bagong menjadi panik, merasa serba salah. Dia yang paling disalahkan dalam hal ini. Ia termenung menyadari kesalahannya. Ia telah bermain api dan membakar dirinya sendiri. Sesuatu yang tidak dimengerti mengapa Petruk melakukan hal tersebut. Petruk membiarkan dirinya menjadi caci maki dan hujatan dari banyak orang, bahkan menikmati hujatan tersebut. Hal tersebut sudah di luar nalarnya.

    Bagi Petruk, dihujat atau dibenci justru jalan semakin mendekat kepada Tuhan. Ia tidak memikirkan ataupun memperhitungkan perbuatannya di mata manusia, semua didasarkan pada keridhaan Tuhan. Pujian manusia tidak menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan tindakannya. Ia berlepas dari penilaian manusia sehingga jauh dari unsur pencitraan. Pencitraan dikhawatirkan bertujuan menampakkan kebaikan sehingga mendapatkan pengaruh dari individu yang lain kemudian muncul rasa ingin dihormati, disegani, dan diperhitungkan. Petruk tetap berusaha berbuat yang terbaik meskipun banyak rintangan dan prasangka buruk, semua dilakukan dengan berprasangka baik. Seperti dalam perusahaan apabila ada tata nilai yang ada dalam perusahaan, hal tersebut merupakan tata nilai yang harus dijalankan bukan penghakiman atas perbuatan sebelumn y a . Misalnya , t a t a nilai perusahaan adalah integritas, maka bukan berarti karyawan dituduh tidak berintegritas, namun agar karyawan tetap berusaha berintegritas dalam menjalankan aktivitas bekerja sehingga meningkatkan kinerja, bermanfaat bagi pribadi maupun perusahaan. Petruk selalu berbuat berdasarkan aturan Tuhan, karena manusia dapat membedakan benar dan salah tetapi dengan petunjuk Tuhan dalam beragama, manusia dapat membedakan yang haq dengan yang bathil.

    Dalam Al-Hikam “Sebodoh-bodohnya manusia yaitu orang yang meninggalkan (mengabaikan) keyakinannya karena mengikuti sangkaan orangorang”, yang oleh KH. Soleh Darat dalam kitab Syarahnya bahwa orang yang paling bodoh adalah orang yang mengabaikan keyakinan atas kejelekan yang sungguh ada padanya, karena mengikuti persangkaan yang mengatakan ia baik. Seperti ketika orang mengatakan bahwa yang keluar dari perut kita berbau harum, maka diapun mempercayainya, padahal sifat buruk kita seperti riya’ (pamer), ujub (bangga atau memuji diri sendiri), suka dipuji dan dosa hati kita lebih busuk dibanding bau kotoran itu. Terlepas yang dilakukan Petruk benar atau salah ketika memutuskan untuk tidak melakukan klarifikasi, namun kemampuan Petruk untuk menerima hujatan mengajarkan bahwa seseorang yang selalu berbuat dengan mensandarkan pada Tuhan dan bukan pada manusia akan kuat dalam menghadapi segala hambatan dan rintangan.

    Mustangin, LPP Kampus Yogyakarta | LPPCom Vol. 19 – No 2 Agustus 2017