• Perubahan Tiada Henti

    Judul Buku : Perubahan Tiada Henti: 25 Tahun Perjalanan QCC Toyota Indonesia
    Tahun Tebit : 2016
    Penulis : PT. Toyota Indonesia, diedit oleh “ Joice Tauris Santi”
    ISSBN : 978-602-412-111-2

    PT. Toyota Indonesia yang beroperasi melalui dua perusahaan, yakni PT. Toyota Astra Motor (TAM) dan PT. Toyota Manufacturing Indonesia (TMMIN), sudah dikenal sebagai Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) terbesar di Indonesia saat ini dan semua masyarakat mengakui bahwa Toyota adalah “raksasa” otomotif di Indonesia atau bahkan dunia. Pencapaian PT. Toyota Indonesia tentunya melewati pasang surut dan perjuangan yang tidak mudah, terutama dalam menghadapi perubahan yang terjadi di pasar otomotif dan perubahan internal terkait berubahnya pola pikir karyawannya. Melalui buku ini, Toyota mencoba berbagi pengalaman bagaimana mengatur sumber daya yang ada, baik manusia dan material dengan QCC (Quality Control Circle)-nya, dimana harus menghadapi perubahan yang tiada henti dari pasar dan paradigma masyarakat terhadap produk otomotif.

    Buku ini akan menarik untuk dibaca para manager bahkan CEO, karena berisi sedikit banyak tips dari PT. Toyota dalam mengelola sumber daya di tengah perubahan yang tiada henti, apakah PT. Toyota berpegang teguh pada prinsip awal sistem dibentuk di PT. Toyota ataukah berubah terus sesuai perubahan yang terjadi. Isi buku ini ditekankan pada peran QCC di Toyota, sehingga Toyota bisa bertahan dan tumbuh menjadi perusahaan yang tangguh, QCC sendiri adalah tools dalam upaya pengendalian mutu dan pengawasan pelaksanaan sistem kerja yang ada di PT. Toyota. Kesuksesan PT. Toyota, masih sangat ditentukan oleh implemantasi “Toyota Way”, yaitu perbaikan terus-menerus (continous improvement) yang tercemin dalam sikap hidup kaizen dan menghormati sesama (respect others) yang tercermin dalam bentuk kerjasama tim dan pemberian apresiasi kepada yang berprestasi. Buku ini akan banyak bercerita tentang bagaimana QCC menjaga agar “Toyota Way” dapat terlaksana dengan baik, dan tertanam di seluruh elemen karyawan sampai tingkat pejabat puncak di Toyota, terutama adalah menjaga semangat kaizen tetap terpelihara sehingga perbaikan berkesinambungan ke arah yang lebih baik dapat terus terpelihara tanpa jeda.

    Seperti halnya ilmu-ilmu pengendalian mutu di perusahaan, sebenarnya QCC lekat dengan implemantasi PDCA (Plan-Do-Chek-Action) yang sudah lazim diketahui seluruh pebisnis nasional maupun global, namun seringkali ditemui kegagalan dan implementasinya sehingga menyebabkan pengendalian mutu di industri tidak terjaga dan akhirnya industri tersebut tumbang. Di sinilah inti buku ini bercerita, bagaimana Toyota menjaga PDCA ini tetap bisa diimplementasikan secara konsisten. Berikut ini adalah langkah QCC dalam menjaga implementasi PDCA, yaitu dengan 8 Step Problem Solving yang dikenal pula dengan sebutan 8 Langkah QCC yang terdiri dari :

    • Identifikasi masalah dan menentukan tema
    • Analisis kondisi yang ada
    • Menetapkan target dan membuat rencana kerja
    • Analisis penyebab yang mungkin dan menentukan penyebab yang dominan
    • Merencanakan penanggulangan
    • Melaksanakan penanggulangan
    • Evaluasi hasil
    • Standarisasi dan tindak lanjut

    Dan dalam buku ini akan dijelaskan secara rinci mengenai 8 langkah QCC tersebut. Dalam pelaksanaan aktvitas QCC, banyak dirasakan manfaatnya oleh PT. Toyota baik bagi karyawan maupun perusahaan. Dengan QCC kemampuan karyawan dapat digali secara optimal, terbentuknya paradigma positif, dan mempelajari sesuatu sehingga wawasan akan lebih luas sambil melakukan dan menjalankan tugasnya. Di samping itu, QCC juga dapat menciptakan suasana kerja menjadi menyenangkan sehingga dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja, sehingga akhirnya kinerja perusahaan naik dan tentunya profit naik, sustainability perusahaan terjamin. Belajar dari QCC Toyota? Bacalah buku ini halaman demi halaman dengan detail, sebenarnya konsep-konsep pengendalian mutu cukup banyak, tetapi di PT. Toyota yang ditekankan adalah bagaimana implementasinya sehingga perusahaan ini bisa survive di tengah iklim bisnis dan paradigma karyawan yang terus-menerus berubah. (KNT)

    LPPCom Vol. 19 – No 2 Agustus 2017 Hal 51