• Tetap Berkembang Dengan Teh

    Di tengah perekonomian dunia yang sedang melemah, menjalankan perusahaan yang bertumpu pada komoditas kurang populer seperti teh adalah persoalan yang tidak gampang. Harga produk yang rendah dan di sisi lain biaya yang selalu bergerak naik menjadi alasan yang tidak terbantahkan, dan dalam batas-batas tertentu dapat membuat pengelola kehilangan orientasi dalam menjalankan bisnis.

    Belum lagi tantangan menghadapi dampak AEC (Asean Economic Community) atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) dimana salah satu yang akan terjadi adalah free flow of goods. Sebagai perusahaan berbasis komoditas teh dan kakao, PT. Pagilaran mengelola 6 unit produksi, yaitu: UP. Pagilaran, UP. Sidoharjo, UP. Segayung , UP. Kaliboja , UP. Jatilawang dan UP. Samigaluh.

    Menjelang akhir tahun 2005, perusahaan divonis gagal, karena berbagai hal dan hampir ditutup, menyusul naiknya harga BBM yang melampaui 100%. Namun, perusahaan akhirnya dapat bangkit kembali tanpa suntikan dana sama sekali, dan hanya bertumpu pada reformasi bisnis dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

    Perusahaan mereformasi sebagian besar stigma tentang grading teh, pasar, preferensi pembeli dan SOP-SOP di tingkat kebun. Hasilnya dalam waktu yang singkat perusahaan ini dapat bangkit kembali dan bahkan terus berkembang, sehingga mampu berinvestasi secara bertahap menuju PT. Pagilaran baru yang mandiri.

    Reformasi on farm yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui intensifikasi, rehabilitasi, dan peremajaan telah membuahkan hasil. Produktivitas sedikit demi sedikit menunjukkan kenaikan hingga mencapai 3,07 ton/ha. Perbanyakan melalui cangkok telah terbukti dapat menyingkat waktu TBM hingga berkisar 1 tahun 8 bulan.

    Pola pikir yang mendasar bahwa pencapaian produktivitas adalah berbasis areal bukan individu, direalisasikan bertahap melalui peningkatan populasi dari rata-rata saat ini 7.000 pokok per hektar hingga nantinya menjadi 14.000 pokok per hektar. Dengan demikian, pembentukkan bidang petik tidak mengandalkan bending lagi. Hal ini didasari pula bahwa produktivitas dipengaruhi oleh kemampuan daya dukung hamparan areal dan iklim mikro setempat, ditambah manajemen input dengan satuan areal.

    Perubahan teknologi pemetikan yang terjadi karena alasan kelangkaan tenaga petik menjadi petik menggunakan gunting maupun mesin pun disikapi dengan persiapan-persiapan yang matang. Ketika panenan menggunakan gunting yang menghasilkan MS 40, selayaknya diikuti dengan volume produksi yang meningkat dengan standar mutu moderat.

    Di lini off farm yang dilakukan adalah mengikuti dinamika pasar, ”jualan dulu baru produksi” atau memproduksi apa yang dijual. Adjustment-nya dilakukan pada saat grading. Pengolahan dilakukan secara tematik tergantung kepada kebutuhan pasar sehingga saat ini tidak terdapat produk yang unsold. Sisi keleluasaan yang dimiliki PT. Pagilaran untuk melakukan hal ini dikarenakan mempunyai 6 unit produksi.

    Ketika terjadi fluktuasi harga yang cenderung menurun pemegang kendali manajemen melakukan perubahan pada pola bisnis, menjadi bisnis induktif, sehingga tidaklah salah bila PT. Pagilaran ber-jargon ‘start from the end‘.
    Demikian pula ketika perusahaan dihadapkan pada permasalahan mutu di satu sisi dan harga di sisi yang lain. PT Pagilaran mempunyai keyakinan bahwa produsen bertanggungjawab terhadap mutu dan pembeli bertanggung jawab terhadap harga. Pasar punya aturan sendiri apalagi jika produk masih berkarakter bulk dan menjadi common product (komoditas) maka pasar adalah penentu harga. Dalam kondisi ini kejelian dan kecermatan keputusan pengendali perusahaan mengambil peran yang sangat esensial apakah akan mengambil posisi sebagai produsen yang produktif atau menunggu vonis harga atas produksi dihasilkan, dan yang menjadi kunci penting bagi pengambil keputusan adalah keyakinan atas kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan.
    PT Pagilaran menyadari bahwa paradigma bisnis teh yang digunakan terdahulu tentunya menggunakan asumsi-asumsi yang tidak sama lagi dengan masa sekarang, meliputi produk, prosesing, pembeli dan pasar. Keseimbangan permintaan-pasokan berubah, preferensi pengguna atau konsumen berubah, posisi terhadap pesaing berubah, struktur biaya dan pengendali biaya berubah, bahkan iklim juga berubah.

    Sebagai produsen, PT. Pagilaran terbuka dengan perubahan, tidak terbelenggu oleh stigma-stigma lama tentang grading, preferensi pembeli, mutu dan sebagainya. Dulu orang minum teh dengan cara diseduh, sekarang konsumsi teh celup tumbuh luar biasa, dan yang jelas grade yang dipakai sebagai bahan teh seduh dan teh celup berbeda. Contoh fakta seperti ini ditarik mundur sebagai acuan dalam penentuan kebijakan produksi. Bila dikaitkan dengan isu kesehatan, dimana teh hijau diklaim sebagai teh yang mempunyai manfaat positif bagi kesehatan.

    Beberapa fakta di atas kemudian ditarik mundur sebagai acuan dalam penentuan kebijakan produksi. Tidak terjebak pada stigmatisasi grade sementara pada saat yang sama preferensi user terabaikan. Produsen menyesuaikan spesifikasi mutu teh yang demandable ke dalam gradegrade yang mungkin dibuat dengan biaya lebih efisien, dengan demikian omzet tetap tinggi dan bisnis bisa tetap berkembang. Hal ini tidak berarti mengorbankan mutu bagus, produsen mampu memproduksi mutu bagus tetapi tidak kalah penting untuk mengetahui kebutuhan pasar.
    Disadari bahwa kejayaan agribisnis teh memang tidak sebagus di masa lalu, tetapi kondisi ini mengisyaratkan adanya tantangan dan sekaligus peluang. Yang harus difahami secara baik terlebih dahulu adalah apa sebenarnya indikator kejayaan.

    Bila dilihat hasil tea auction di KPB kemudian dibandingkan dengan hasil tea auction negara lain, disimpulkan harga teh Indonesia lebih rendah. Bila dilihat mutu produk teh Indonesia dan dibandingkan teh produksi Srilanka misalnya, secara umum dapat disimpulkan mutu teh Srilanka lebih baik. Artinya memang teh yang mutunya baik harganya juga baik, tetapi sebenarnya harga bukan segala-galanya, keberlanjutan usaha perkebunan teh juga sangat dipengaruhi oleh biaya produksi. Teh bagus dibuat dengan mutu bahan baku yang bagus dan proses yang benar, pemetikan bahan baku yang bagus mengandung konsekuensi kuantitas yang terbatas dan ini berpotensi menaikkan biaya produksi.

    Pilihan yang diambil para pekebun teh di Indonesia sekarang tidak sepenuhnya salah, bisnis akan menarik kalau ada keuntungan, dan peningkatan kualitas bisa dicapai kalau semuanya berjalan secara baik. Kalau penjualan tidak bagus dan perusahaan tidak untung, maka tentu tidak ada ruang untuk memikirkan peningkatan kualitas, itu logika normatifnya. PT. Pagilaran membuat terobosan yang berani dengan mengambil keputusan untuk melakukan investasi dalam perbaikan mutu dan di sisi lain mempunyai kebijakan pemasaran yang jelas, maka diyakini investasi pada saatnya akan memberikan hasil yang memuaskan dan membuat perusahaan mempunyai daya saing yang bagus.

    Pada kenyataannya tidak semua perusahaan yang menghasilkan produk dengan mutu yang bagus menghasilkan keuntungan yang bagus. Strategi penguasaan segmen pasar tertentu menjadi kuncinya. Keputusan bisnis tidak berlaku sepanjang masa, sesekali harus berpikir lebih baik jadi raja di segmen menengah daripada sekedar jadi pelengkap di segmen papan atas, sambil terus berusaha untuk menjadi pemain kunci di segmen pasar papan atas. Keputusan ini mensyaratkan manajemen untuk mengambil kendali perusahaan di semua lini mulai bagian produksi hingga pemasaran. Hal yang sering terjadi adalah produksi dikendalikan oleh perusahaan sementara pemasaran di kendalikan oleh pihak yang lain. Akibatnya manajemen kehilangan ‘magnitude’ terhadap produknya dan tidak dalam posisi terbaik untuk mengambil keputusan cepat untuk bertahan atau melakukan perubahan.

    Akan berbeda ketika perusahaan mengambil kebijakan untuk menghasilkan produk premium. Produk teh premium dan teh bulk (common tea) dihasilkan dari tanaman yang sama, yang ditumbuhkan dari kebun yang sama, yang dirawat dengan cara yang sama, tetapi menjadi berbeda ketika dibalik proses pengolahan ada skenario atau kehendak yang berbeda untuk menampilkan tehnya. Kehendak itu yang kemudian dapat merubah posisi produsen dari ‘price taker’ menjadi ‘price maker’ dan dengan sendirinya produsen akan berpeluang merajai di segmen yang memang tercipta dari sebuah kehendak yang kuat dan spesifik.

    Jelas di sini bahwa kemampuan perusahaan untuk memastikan revenue menjadi kunci dan ini diperoleh melalui strategi pemasaran yang tepat. Dengan demikian maka kegiatan produksi di bagian hulu akan menemukan alasannya yang juga tepat. Strategi bisnis inilah yang digunakan oleh PT. Pagilaran.

    Di sisi lain PT. Pagilaran sekarang juga aktif mengangkat pamor teh melalui berbagai even budaya, ilmiah, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan. Melalui Yogyakarta Tea Talk pada tahun 2012 bersama para teamaster dari berbagai belahan dunia dikumandangkan isu mengenai ‘Premium Tea vs Common Tea’.

    Pada tahun 2014, bersama para pelaku usaha teh di berbagai lini, dikampanyekan bahwa harga teh tidak harus murah, demi keberlanjutan usaha di bagian hulu agribisnis teh.

    Merujuk berbagai pengalaman, PT. Pagilaran yakin bahwa agribisnis teh tidak selalu dapat dikambing hitamkan selalu merugi, pada saatnya harga yang lebih baik akan menjadi milik produsen menyusul keputusan investasi yang berhasil meningkatkan kualitas teh Indonesia yang memenangi persaingan di pasar pada segmen yang dipilih.
    Ke depan akan terjadi perubahan keseimbangan permintaan dan pasokan, perubahan pangsa suplai dan yang menarik adalah tumbuhnya permintaan baik ekspor maupun domestik. Dari catatan yang diambil dari berbagai survey media menunjukkan perkembangan permintaan pasar domestik yang tinggi untuk produk olahan teh.
    Jangan berhenti bermimpi, pastikan terus berinovasi dan biarkan ilmu dan teknologi memberikan solusi.

    Rachmad Gunadi PT. Pagilaran | LPPCom Vol. 18 – No.2 • Juli 2016

    DATA media
    Teh Olahan 90 RIBU TON /tahun
    Permintaan pasar domestik 90 RIBU TON/tahun permintaan Teh Celup 20% dari
    permintaan teh domestik tumbuh menjadi 50% atau dari 18Ribu Ton menjadi 45Ribu Ton/tahun
    WAMENDAG – 28 September 2012

Leave a reply

Cancel reply