• Peluang Emas dalam Perubahan Paradigma Bisnis

    Salah satu kunci kesuksesan perusahaan dalam peningkatan kinerja adalah memiliki perencanaan bisnis yang matang. Perencanaan perusahaan biasanya disusun berdasarkan pembacaan terhadap realitas internal dan eksternal yang kemudian dijadikan dasar dalam pengembangan strategi dan program jangka pendek dan jangka panjang. Titik kritis dalam penyusunan rencana bisnis adalah ketika menentukan kondisi internal dan eksternal perusahaan. Bukan seberapa detil perencanaan itu dibuat akan tetapi seberapa komprehensif dalam membaca realitas internal dan eksternal perusahaan. Kondisi internal perusahaan biasanya bisa dipahami dari data-data masa lampau dan kemudian diformulasikan dalam bentuk analisis terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan saat ini. Kondisi eksternal perusahaan dipahami dengan mencerna data-data ekonomi, sosial, politik, regulasi, perkembangan teknologi dan lingkungan. Dengan perencanaan yang baik maka perusahaan akan memiliki arah yang tepat untuk mencapai sasaran yang diharapkan dicapai bersama dan rangkaian akitivitas untuk mewujudkannya.

    Kemampuan perusahaan untuk membaca kondisi internal dan eksternal ini sangat menentukan dalam kesuksesan pengembangan rencana perusahaan. Dua hal yang krusial dalam hal ini adalah validitas data ekstenal dan pandangan kita terhadap fakta. Misalnya ketika aktivitas perusahaan menghasilkan limbah, jika padangan bisnis kita melihat limbah sebagai barang sisa produksi yang harus dibuang maka perusahaan akan mengalokasikan sejumlah dana untuk memproses pembuangan limbah. Tetapi jika padangan bisnis kita melihat bahwa limbah dapat diproses kembali dan dimanfaatkan untuk keperluan lain maka perusahaan akan mengalokasikan sejumlah dana untuk melakukan riset dan memproses limbah menjadi produk yang bisa dimanfaatkan kembali.

    Dua pandangan bisnis tersebut akan memiliki dampak yang signifikan terhadap aktivitas perusahan dan ujungnya adalah peningkatan kinerja perusahaan. Obyeknya sama yaitu limbah tetapi karena paradigma bisnis yang berbeda maka akan menghasilkan langkah dan tindakan yang berbeda dan diakhir akan menghasilkan keluaran yang berbeda pula. Tulisan ini akan fokus membahas cara pandang perusahaan, disebut sebagai paradigma bisnis, dalam menyikapi fakta internal dan eksternal yang dia dapatkan. Asumsinya data yang mereka dapatkan tidak diragukan lagi validitasnya.

    Pentingnya Mengevaluasi Paradigma Bisnis Kita

    Padangan bisnis perusahaan didasari oleh keyakinan dan asumsi berfikir dalam melihat fakta. Dengan keyakinan dan asumsi tersebut perusahaan kemudian mengembangkan serangkaian strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Akan tetapi jika serangkaian aktivitas yang kita jalani tidak mampu mencapai tujuan dan sasaran yang telah kita tetapkan mungkin salah satu sebabnya adalah keyakinan dan asumsi berfikir kita yang kurang relevan lagi. Sebagaimana kisah Nokia yang akhirnya harus menjual unit teleponnya kepada Microsoft karena lebih memilih pengembangan hardware dibanding software sehingga kalah dengan IOS dan Android. Begitu juga dengan Blackberry yang meyakini bahwa masa depan bisnis ada pada konsumen level perusahaan sehingga tidak bisa memahami dorongan konsumen individu untuk mendapatkan alat komuikasi yang tidak sekedar untuk komunikasi tetapi juga sebagai alat untuk hiburan.

    Berdasarkan fenomena tersebut di atas dapat disimpulkan sementara bahwa jika kinerja perusahaan ada kencerungan turun dari tahun ke tahun maka bisa jadi paradigma bisnis yang digunakan oleh perusahaan tidak kompatibel lagi sebagai pijakan untuk bersaing dan sudah saatnya mengevaluasi paradigma bisnis tersebut. Mengevaluasi paradigma bisnis yang selama ini dipakai bukan suatu perkara yag mudah karena menyangkut the way of thinking kita selama ini. Oleh karena itu sebaiknya pimpinan perusahaan menutup buku cara berpikir selama ini  dan mencari bentuk paradigma bisnis lain yang memberikan cara pandang baru dalam melihat lingkungan bisnis sehingga bisa menumbuhkan motivasi untuk meningkatkan daya saing. Caranya adalah dengan banyak membaca baik dari seminar, workshop, pelatihan, maupun membaca buku.

    Para pelaku bisnis saat ini dihadapkan pada tantangan baru yakni cara dan model berbisnis dengan paradigma baru yang didasarkan pada keyakinan dan asumsi berfikir yang berbeda. Paradigma baru akan mendorong pelaku bisnis mengembangkan model bisnis dan teknik produksi yang baru, mengembangkan bentuk kolaborasi dan kerja sama yang baru, pendanaan bisnis dan pola kepemilikan yang baru, dan format pembelajaran yang baru. Jika tidak ingin tertinggal maka pelaku bisnis perlu untuk memahami perubahan paradigma yang saat ini sedang terjadi. Pemahaman tersebut akan menumbuhkan kepekaan dalam membaca realitas bisnis yang terjadi saat ini. Jika para pelaku bisnis telah memahami paradigma baru dalam bisnis maka mereka akan mampu melihat banyak peluang emas dalam bisnis yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kinerja perusahaan di masa yang akan datang.

    Mengutip rumusan dari THNK forum, setidaknya ada enam perubahan paradigma yang akan mengubah cara kita memandang dunia dan bisnis. Perubahan paradigma ini akan membantu pemimpin yang inovatif untuk dapat menemukan banyak kesempatan dalam banyak bidang dan mengembangkan model bisnis yang baru. Tetapi sebelum membahas lebih lanjut ada baiknya kita memahami terlebih dahulu perbedaan antara tren dan paradigma.

    Tren vs Paradigma

    Tren adalah kecenderungan kejadian yang muncul di dunia yang bisa mengubah realitas yang kita pahami saat ini. Para pemerhati tren biasanya akan mendeteksi sinyal yang lemah dari lingkungan bisnis dan riak-riak yang semakin membesar sehingga diprediksi menjadi kecenderungan yang memiliki kekuatan besar. Jika kecenderugan tersebut mengakibatkan perubahan yang mendasar dan signifikan dalam kehidupan bisnis atau sosial masyarakat maka disebut sebagai megatrend. Di dalam bisnis megatrend adalah perubahan massif dalam dunia kita yang akan berpengaruh besar terhadap kita semua seperti meningkatnya kelangkaan terhadap sumber daya, semakin banyak populasi yang tidak produktif, dan ketergantungan kita terhadap internet. Tren selalu berbasis fakta dan didukung data dan dapat diukur.

    Sedangkan paradigma adalah cara pandang untuk melihat dunia. Paradigma adalah prespektif terhadap fakta yang kita miliki. Misalnya saja paradigma berbisnis perkebunan yang muncul sampai tahun 1970-an adalah bahwa perusahaan mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang banyak itu merupakan kondisi yang normal, dimana selain pertimbangan bisnis maka ada pertimbangan kemanusiaan dan pembangunan negara untuk menyerap sebanyak-banyaknya tenaga kerja untuk menggerakkan roda pembangunan. Tetapi ketika kondisi bisnis mulai berubah karena persaingan dengan perusahaan lain semakin kuat maka mempekerjakan karyawan dalam jumlah banyak bukanlah sesuatu yang baik untuk bisnis sehingga kemudian mulai muncul paradigma baru bahwa perusahaan harus meningkatkan efisiensi dalam mempekerjakan karyawan. Perkembangan paradigma baru ini akan lebih powerful dan mendorong perusahaan untuk melakukan perencanaan ulang kebutuhan karyawan sehingga diharapkan akan berkontribusi dalam menurunkan harga pokok produksi.

    Paradigma baru membantu kita untuk melihat situasi dari perspektif yang berbeda, pemimpin yang inovatif membutuhkan kewaspadaan  terhadap apa yang disebut sebagai observational selection bias. Apakah itu? untuk memudahkan memahami istilah tersebut maka bisa diilustrasikan sebagai berikut; jika seseorang tertarik untuk membeli kendaraan tertentu, misalnya innova, maka orang tersebut cenderung tidak akan lagi melihat yang lainnya. Yang ada di dalam pikirannya adalah bahwa mobil innova adalah mobil terbaik, padahal di pasaran banyak mobil sekelas Innova yang kualitasnya belum tentu lebih buruk. Jadi karena preferensi pribadi kita yang secara sadar atau tidak sadar telah menjadikan kita hanya melihat fakta yang ada melalui salah satu lensa paradigma saja. Melihat dunia melalui lensa yang berbeda memunculkan keuntungan yang besar, tetapi kita harus memastikan apakah pendekatan baru yang kita gunakan merupakan cara yang efektif dalam mengatasi masalah atau justru kita hanya menjadi korban terhadap penglihatan yang ingin kita lihat saja?  inilah yang disebut sebagai observational selection bias.

    Terdapat tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk mengeliminir dampak dari observational selection bias. Pertama adalah, pemimpin yang inovatif membutuhkan pemahaman mengenai megatrend yang didukung oleh fakta. Kedua, pemimpin yang inovatif membutuhkan pemahaman mengenai paradigma baru yang saat ini sedang berkembang. Ketiga, pemimpin yang inovatif dapat mengeksplorasi kesempatan dan model bisnis yang muncul dari paradigma tersebut. Sebagai contoh, jika pemimpin yang inovatif dapat merubah perspektif dari ide yang dulu merupakan masalah kemudian bisa mengubahnya menjadi solusi, kemudian bisa menjadikan semua kesempatan tersebut dikembangkan dan dikomesialisasikan.

    Sebuah forum yang memperbincangkan perubahan paradigma dalam berbisnis yakni TNHK forum berusaha merumuskan beberapa perubahan besar yang mereka lihat dalam dunia bisnis. Dari hasil diskusi tersebut, dirumuskan enam 6 perubahan paradigma yang memberikan pengaruh yang besar di masa yang akan datang.

    Push to Pull

    Paradigma ini memandang bahwa untuk meningkatkan keunggulan kompetitif produk dan jasa yang diproduksi oleh perusahaan maka perusahaan tidak bisa lagi memiliki pandangan bahwa merekalah yang paling memahami produk yang diinginkan oleh karyawan, tetapi harus berubah pandangannya bahwa yang paling paham kualitas produk yang diharapkan oleh konsumen adalah konsumen itu sendiri, sehingga dalam merencanakan produksi perusahaan perlu melibatkan pelanggan dalam menentukan produk dan jasa yang akan dihasilkan oleh perusahaan.

    Para pemimpin perusahaan perkebunan diharapkan bisa mengevaluasi sejauhmana mereka telah melibatkan aspirasi dari konsumen produk mereka dalam perencanaan produksi produk yang akan mereka hasilkan. perubahan orietansi bisnis dari sebelumnya production oriented berubah ke arah customer oriented menjadi tantangan yang krusial bagi mereka.

    Consume to create

    Jika saat ini kecenderungan perusahaan hanya mengkonsumsi produk dari perusahaan lain sebagai bahan untuk memproduksi produknya maka perlu dipikirkan apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk menciptakan bahan subtitusi sehingga ketergantungan dengan supplier menjadi lebih rendah. Misalnya saja ketergantungan perusahaan terhadap energi listrik, maka bisa dimulai difikirkan bagaimana membangkitkan energi listrik dari aset dan sumber daya yang kita miliki. Saat ini berbagai macan alternative pembangkit listrik telah tersedia, misalnya solar cell, PLTBS, PLT Mikro Hidro, dsb. Jika memungkinkan ke depan justru kita bisa berkontribusi terhadap barang dan jasa yang kita konsumsi saat ini.

    Asset to access

    Aset perusahaan terdiri dari yang tangible dan intangible. Jika dahulu aset da informasi yang terkait dengan aset ini terbatas pada penguasaan salah satu divisi atau bidang saja, akan tetapi saat ini aset dan informasi aset hendaknya dibuka untuk semua komponen perusahaan sehingga jika masing-masing membutuhkan dukungan atau ingin menggunakan aset tersebut dapat mudah untuk mengaksesnya.

    Aset yang dimiliki perusahaan seringkali tidak bisa digunakan secara optimal untuk berkontribusi dalam pencapaian sasaran perusahaan. Pengelolaan aset yang mereka lakukan hanya sebatas pada inventarisasi aset saja dan jika telah masuk pada kategori aset non produktif maka akan dihapuskan. Padahal jika aset tersebut (termasuk aset non produktif) bisa dioptimalisasikan maka mungkin akan membantu perusahaan dalam penyediaan sumber daya yang mendukung pencapaian sasaran perusahaan.

    Aset perusahaan perkebunan sebagian besar adalah aset fisik yang optimalisasinya belum maksimal. Inventarisasi yang baik yang diikuti oleh strategi optimalisasi aset akan menjadikan aset yang mereka miliki bisa memberikan kontribusi maksimal untuk membantu pencapaian sasaran perusahaan.

    Linear to complex

    Paradigma linear melihat bahwa segala sesuau berjalan berurutan secara sistematis, sehingga ketika memandang proses bisnis maka logika yang dikembangkan adalah mulai dari pemahaman kondisi perusahaan, sampai forcasting laba/rugi yang akan diterima. Pandangan bisnis ini bisa dijalankan dengan asumsi bahwa lingkungan bisnis bisa dipahami secara utuh dan controllable. Akan tetapi saat ini kondisi lingkungan bisnis yang bergerak dan berubah secara dinamis membutuhkan padangan bisnis yang lebih kompleks.

    Bisnis tidak bisa lagi dipahami secara linear tetapi bisnis berjalan secara simultan, dimana faktor-faktor lain juga dimasukkan ke dalam model bisnis sehingga bisa dikembangkan berbagai strategi kontinjensi. Misalnya saja ketika perusahaan akan mengembangkan produk baru yang sifatnya inovatif maka logika business plan tidak bisa lagi digunakan untuk merunning bisnis tersebut karena lingkungan yang volatile dan dinamis. Oleh sebab itu pemimpin perusahaan harus mengubah paradigma bisnisnya bahwa karena pengalaman yang minim dan kurangnya pemahaman mengenai lingkunga bisnis maka perlu memasukkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan bisnis misalnya beberapa alternative kesukaan pelanggan, model aftersales service-nya, dsb.

    Scarcity to abundance

    Pemimpin seringkali mengeluhkan mengenai keterbatasan sumber daya yang mereka miliki untuk menggerakkan strategi yang telah dirancang. memang sumber daya semakin hari akan semakin terbatas karena jumlahnya yang memang terbatas. Misalnya saja SDM, seringkali pimpinan perusahaan mengeluh sulitnya mencari SDM yang dapat membatu dirinya mencapai sasaran perusahaan.

    Pandangan ini sebaiknya sudah mulai digeser karena pada dasarnya sumber daya yang ada itu melimpah, tetapi memang tidak dalam kendali kita. Oleh karena itu perlu dikembangkan paradigma bahwa sumber daya itu melimpah dan ada dimana saja hanya kita yang harus paham dimana sumber daya yang kita butuhkan itu berada dan bagaimana mendapatkannya. Misalnya saja kita membutuhkan SDM yang memiliki pemahaman agribisnis yang bagus, maka jika tidak kita dapatkan di internal perusahaan maka kita bisa cari dimana saja, melalui, jaringan head hunters, social media, atau jaringan pertemanan lainnya.

    Universal to unique

    Pemimpin perusahaan hendaknya memahami bahwa pandangan yang menyatakan bahwa konsumen produknya memiliki kebutuhan yang sama sehingga mereka memproduksi barang dan jasa yang sama setiap saat adalah pandangan yang sudah tidak relevan lagi. Karena pada kenyataaanya konsumen itu unik, kebutuhan mereka tidak sama antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu perusahaan perlu mengembangkan instrument untuk menangkap kebutuhan unik konsumen dan kemudian menjadi bahan masukan untuk mengembangkan desain produk yang sesuai dengan kebutuhan unik konsumen tersebut. Dengan menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen tersebut maka kepuasan konsumen dapat dipenuhi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan.

    Jika para pemimpin  perusahaan yang memiliki jiwa inovatif mampu memahami paradigma baru dalam berbisnis tersebut dan menerapkannya dalam bisnis, maka paradigma tersebut akan  mendorong mereka untuk meraih kesempatan sebanyak-banyaknya, beragam kesempatan akan mereka temukan baik yang kecil maupun yang besar. Tinggal bagaimana menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Tentu saja hal tersebut titak serta-merta bisa dilakukan. Pemimpin perusahaan perlu mereview ulang model bisnisnya atau bahkan mengganti dengan model bisnis yang baru sehingga dapat mentransformasi peluang tersebut menjadi produk yang memiliki daya kompetitif yang tinggi.

    Perlu juga diperhatikan masalah-masalah yang seringkali muncul ketika mencoba mengembangkan produk baru. Ada dua permasalahan utama yakni, pertama adalah masalah pendanaan. Jika pemimpin perusahaan tidak bisa meyakinkan keuntungan yang akan didapat akan jauh lebih besar dari risiko yang akan ditanggung, maka perusahaan akan mengalami kesulitan untuk pembiayaan produksi. Kedua, jika pimpinan perusahaan kurang jeli terhadap regulasi yang ada atau potensi berbeturan dengan badan pembuat regulasi maka jalan bisnis juga akan terhambat atau bahkan akan sulit untuk berkembang.

    Muhammad Hamdi