• Kopi itu bukan diseduh, namun diracik

    Cerita tentang kopi tidak terlepas dari legenda, mitos, dan drama…

    Legenda tentang penemuan biji kopi dipercaya terjadi sekitar abad 8 Masehi. Penemuannya terjadi secara tidak sengaja ketika penggembala bernama Khalid seorang Abyssinia, mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga dan nampak gembira setelah memakan buah sejenis bery. Ia pun mencoba memasak dan memakannya, dan diapun merasakan kesegaran dalam tubuhnya. Kemudian kebiasaan memasak dan meminum kopi menyebar ke berbagai negara Afrika, Arab, dan berkembangan ke seluruh dunia dengan beraneka ragam cara meracik minuman kopi.

    Asal Usul Coffee Break

    Ternyata kata coffee break memiliki sejarah menarik. Pada tahun 1902, salah satu perusahaan di Amerika memasang iklan lowongan pekerjaan dengan iming-iming bahwa karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut akan mendapatkan secangkir minuman kopi gratis, dengan istilah disebutkan bahwa karyawan akan mendapatkan coffee break dalam arti yang sebenarnya. Kemudian lambat laun istilah coffee break tersebut digunakan sebagai hak karyawan untuk mendapatkan istirahat selama 15 menit di sela-sela kerja sehariannya. Saat ini coffee break diartikan sebagai istirahat sejenak untuk membuat kerja makin optimal karena dengan istirahat sejenak, orang akan kembali bersemangat dan mampu menghasilkan kerja yang kreatif.

    Kopi dan Arti Kehidupan

    Suatu cerita tentang kehidupan melalui secangkir kopi diceritakan terjadi dalam sebuah reuni dari alumni fakultas ternama bersama seorang dosen senior. Dosen tersebut ingin mengetahui pandangan bekas mahasiswanya tentang kehidupan melalui secangkir kopi. Dosen tersebut menyuguhkan minuman kopi dalam berbagai bentuk dan kualitas cangkir. Kemudian dia meminta mahasiswanya untuk memilih sendiri cangkir yang sangat beragam tersebut. Kemudian bekas mahasiswanya dengan setengah berebut ingin mendapatkan cangkir yang paling indah dan nampak mahal, sementara ada alumni yang hanya mendapatkan cangkir yang biasa saja dan nampak murah.

    Kemudian dosen menyuguhkan minuman kopi dalam teko yang besar dan para alumni harus menuang sendiri kopinya. Dalam adegan tersebut nampak bahwa alumni yang mendapatkan gelas yang nampak mewah dan mahal dengan bangga menuangkan minuman kopi dalam cangkirnya sambil melirik ke cangkir temannya. Nampak alumni yang mendapatkan cangkir yang kurang baik sedikit ogah-ogahan dalam menuang minuman kopi.

    Setelah semua alumni memegang cangkir yang berisi minuman kopi, dosen tersebut kemudian menyampaikan pengamatannya “Saya mengamati anda yang mendapatkan cangkir yang baik nampak senang dan bangga, sementara yang mendapatkan cangkir yang murah merasa sedikit kecewa. Padahal saya menyuguhkan minuman kopi yang sama enaknya. Itulah kehidupan, kadang kita lupa bahwa kehidupan itu adalah kopinya, sementara status dan jabatan yang kita peroleh adalah cangkirnya”. Kadang kala kita terlalu sibuk mempermasalahkan cangkir (status / jabatan) dan lupa untuk bisa menikmati kopinya (kehidupan).

    Hidup itu seperti kopi: Kalau tidak bisa menikmati rasanya pahit

    Dalam sebuah meme tertulis kata-kata : Urip kuwi koyo kopi, nek nggak iso ngrasake, rasane pahittt… Memang begitulah perjalanan hidup manusia, kalau kita tidak bisa menikmati atau mensyukuri kehidupan ini maka rasanya sangat pahit bahkan getir. Namun kalau kita bisa menikmatinya, justru kepahitan itulah yang membuat hidup menjadi bergairah dan nikmat. Bahkan rasanya belum lengkap kalau kita belum menyeruput secangkir kopi. Kopi itu enak karena ada rasa pahit, asam dan manisnya, begitu juga dalam kita mengarungi kehidupan ini dengan segala variasi senang dan susahnya.

    Kopi yang paling enak pun ada rasa pahitnya

    Dalam film Filosofi Kopi, yang menceritakan perjalanan seorang barista Ben dan Jody untuk mendapatkan kopi terbaik di dunia. Setelah dia mampu meracik kopi sesuai dengan karakter peminumnya, kemudian ada pelanggan yang menantang untuk minta diracikkan kopi yang paling enak. Setelah dia berkeliling Indonesia, dia akhirnya berjumpa dengan paracik kopi tradisional yang sangat sederhana namun mampu meracik minuman kopi dengan cita rasa yang sangat enak dan kopi itu diberi nama “Kopi Tiwus”. Perjumpaan dengan peracik kopi tradisional itulah yang pada pada akhirnya menyadarkan Ben dan Jody bahwa kopi yang paling enakpun ternyata ada rasa pahitnya. Begitu juga dengan kehidupan yang jalani manusia, tidak ada sempurna.

    Kisah: How Starbucs Saved My Life

    Dulu dilayani sekarang melayani Diceritakan seorang profesional di dunia periklanan yang sukses dan telah mengabdi selama 25 tahun di sebuah perusahaan periklanan ternama di Amerika. Dia sering minum kopi di kedai Starbuck disela-sela kesibukan kerjanya, dia merasa senang dengan pelayanan di kedai tersebut. Namun karena ada perampingan organisasi maka dia mendadak harus di PHK dalam usia 53 tahun. Orang tersebut kemudian merasa tidak berguna dan tidak dipedulikan oleh orang lain, sehingga ia bermaksud akan bunuh diri. Namun pada saat dia termenung di kedai Starbucks itulah dia merasakan sebuah suasa pekerjaan yang sangat akrab dan saling menghargai baik antar barista maupun antara barista dengan para pelanggan. Akhirnya dia tertarik untuk bekerja di kedai Strarbuck tersebut. Kemudian dia melamar kerja di salah kedai Starbucks dan diterima kerja bersama pada barista yang usianya relatif masih muda-muda.

    Melalui tugasnya meracik dan melayani secangkir kopi dia merasakan menemukan kehidupannya kembali. Ternyata dalam kehidupan dilayani dan melayani merupakan sebuah kenikmatan hidup.

    Dari Chiken Soup for Coffee Lover’s

    Orang membawa tindakan meracik dan meyeduh kopi ke kehidupan sehari-hari. Buih yang keluar dari perkolator, desisan udara dari kaleng hampa yang dibuka, dan suara bubuk kopi yang dituangkan kesaringan tertanam akan dinikmati oleh jutaan para pecinta kopi. Namun daya tarik kopi yang paling memikat adalah aromanya. Menggenggam cangkir mengepul dan menghirup aroma kuatnya, membangkitkan semangat kehidupan. Puncak gairah akan terjadi saat mengecap rasanya. Dengan inspirasi terjaga, pecinta kopi mengenali kekentalan dan keenceran racikan kopi. Marilah, duduk sejenak sambil menikmati minuman kopi kita, bukan sekedar jumlahnya (portion), atau karena gaya hidup (fashion), namun semoga membuat kita lebih bergairah (passion). Selamat menikmati aroma dan rasanya secangkir kopi…

Leave a reply

Cancel reply