• SEA-TVET

    Sebagai konsekuensi AEC (Asean Economic Community) atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015 sudah sangat dipahami akan terjadi: free flow of goods, free flow of services, free flow of invesment, free flow of capital, free flow of professionals and skilled labours.

    Salah satunya, akan terjadi keleluasaan mobilitas tenaga terampil pada industri-industri di Asean dari negara Asean. Ini merupakan tantangan bagi pendidikan tinggi, khususnya penyelenggara program vokasi.

    Penyesuaian-penyesuaian dan pengakuan kualifikasi pendidikan maupun pelatihan di masing-masing negara akan dibandingkan dengan AQRF (Asean Qualification Reference Framework). Misalnya di Thailand mempunyai TNQF (Thailand National Qualification Framework) dan TPQF (Thailand Professional Qualification Framework), Brunei dengan Post Secondary Multi-Pathways, Cambodia mempunyai CQF (Cambodia Qualification Framework), Indonesia KKNI  (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), Malaysia dengan MQF (Malaysia Qualifications Framework), Singapura dengan WSC (Work force Skills Qualification) dan SSEC (Singapore Standard Education Classification).

    Melalui kesepakatan pengakuan ini  diharapkan dapat meminimalkan kesenjangan yang mungkin timbul karena perbedaan dalam leveling kualifikasi di masing-masing negara Asean.

    Perubahan dalam sistem pendidikan memberikan informasi berharga pada peng-kualifikasian kompetensi agar mampu mengatasi gelombang pendatang tenaga kerja terampil yang besar (Bockerman, 2006). Bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk dapat melakukan persaingan di tingkat regional maupun global dibutuhkan eksistensi keterampilan yang memperhitungkan keunggulan ekonomi dan potensi masing-masing (Asia Pacific Education System Review Series No. 8, 2014).

    Ber tahun-tahun pendidikan di Politeknik telah memainkan peran penting dalam menyiapkan tenaga kerja berkualitas di bidang teknis dan profesional untuk memenuhi kebutuhan industri. Bahkan Technical and Vocational Education and Training (TVET) merupakan salah satu dari tujuh bidang prioritas untuk pendidikan di wilayah Asia Tenggara dan SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organisation) mulai tahun 2015 -2035. SEAMEO adalah organisasi yang anggotanya 11 Kementrian Pendidikan di Asia Tenggara.

    Dengan investasi yang lebih dari peserta didik (bayar agak mahal), disertai kurikulum yang fokus pada kreativitas dan inovasi, TVET dapat menjadi unggulan pendidikan tinggi sebagai penyedia tenaga kerja regional, maupun dalam melakukan mobilitas peserta didik ke lain negara di Asean. Dengan demikian akan terdapat peningkatan kompetensi melalui pengalaman yang diperoleh dari satu atau lebih negara dan dapat menunjukkan kapabilitasnya untuk pendidikan atau pelatihan lanjutan di beberapa negara Asean.

    Sederhananya, seorang lulusan pendidikan vokasi sudah dipersiapkan untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan / pelatihannya di negara lain di Asean, dengan tidak mengalami kesenjangan baik dalam kompetensi, budaya, maupun bahasa.

    Sehubungan dengan hal ini untuk memudahkan dalam implementasi bagi pendidikan vokasi khususnya Politeknik, SEAMEO telah memprakarsai jaringan SEAMEO-Politeknik sebagai bagian dari SEA-TVET konsorsium. Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperdalam keterampilan yang relevan dengan industri setempat, memperkecil kesenjangan komunikasi dan budaya, kebiasaan kerja, dan lain-lain.

    Jaringan yang dirintis SEAMEO ini sifatnya akan berkelanjutan bagi Politeknik, TVET, dan industri di Asia Tenggara, serta industri di luar Asia Tenggara yang melakukan mobilitas mahasiswa, penempatan magang dan industri yang terlibat dalam mendukung kesuksesan pendidikan TVET di wilayah Asia tenggara. Partisipan yang ditargetkan adalah:

    • Politeknik, Universitas bidang Teknik, institusi TVET di Asia Tenggara yang melakukan pendidikan diploma, sarjana terapan dan sarjana. Adapun program ini difokuskan pada bidang Pariwisata dan Perhotelan, Pertanian & Perikanan, Elektronika/ Mekatronika / Manufaktur, dan Konstruksi.
    • Industri mitra dengan skala internasional, industri rancang bangun di Asia Tenggara maupun di luar Asia Tenggara.
    • Politeknik, Universitas bidang Teknik, institusi TVET di luar Asia Tenggara, seperti: Jerman, Tiongkok, Jepang, dan Korea. Mengingat terdapat perbedaan dan persamaan dalam sistem pendidikan TVET di Asia Tenggara, maka diperlukan diskusi antara Kementrian Pendidikan dan Politeknik yang sudah mempunyai ‘track record‘ baik, serta institusi TVET, untuk menggali kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan melalui konferensi jarak jauh, sehingga tidak membebani biaya.

    Adapun jalinan jaringan SEAMEO Politeknik bertujuan:

    • Meningkatkan daya saing, pengetahuan dan keterampilan mahasiswa diploma melalui pengalaman magang lintas negara di wilayah Asia Tenggara,
    • Untuk membangun landasan jaringan antara Politeknik dan institusi TVET di Asia Tenggara, dan untuk mengembangkan kemitraan dengan institusi TVET di luar Asia Tenggara, seperti Jerman, Inggris, Jepang, Tiongkok dan Korea, dan
    • Untuk mendorong dan memperkuat partisipasi industri dalam menyempurnakan pendidikan vokasi di Asia Tenggara.

    Pengembangan dari kemitraan/ kerjasama dan model implementasinya dapat berupa pertukaran mahasiswa:

    • Untuk sarjana terapan: tahun pertama pembelajaran di negara asal, tahun kedua ditempuh di negara partisipan pertama, tahun ketiga ditempuh di negara partisipan kedua, dan tahun keempat kembali ditempuh di negara asal
    • Untuk diploma III: tahun pertama di negara asal, tahun kedua ditempuh di negara partisipan pertama, tahun ketiga di negara partisipan kedua
    • Untuk diploma II: tahun pertama ditempuh di negara asal, setengah tahun kedua di negara partisipan pertama, dan setengah tahun kedua di negara partisipan kedua.

    Kendala yang hampir pasti dialami untuk implementasi ini adalah: perbedaan kurikulum, pengakuan kredit, konsekuensi biaya, visa dan pengaturan perjalanan. Hal ini memerlukan kesepakatan-kesepakatan antar institusi yang berkolaborasi. Kolaborasi dapat pula berbentuk pertukaran pengajar, kerjasama riset, kegiatan mahasiswa, kerjasama praktikum/ praktek, dan masih banyak lagi aktivitas-aktivitas yang dapat digali.

    Sebagai langkah akhir sebelum implementasi, diperlukan adanya nota kesepahaman (MoU) antar institusi yang berkolaborasi, karena akan menyangkut perijinan antar negara.

    Hasil akhir yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:

    • Terciptanya program pemagangan lintas negara antar negara-negara di Asia Tenggara, dimana dapat meningkatkan daya saing global dan kualitas mahasiswa,
    • Jaringan yang berkelanjutan antarken institusi vokasi diantara negara di Asia Tenggara, bahkan di luar Asia Tenggara yang menjadi partisipan kegiatan ini,
    • Pengembangan kemitraan yang erat diantara institusi vokasi dengan industri skala internasional maupun industri multinasional.

    Kegiatan yang diinisiasi oleh SEAMEO tidak lain adalah untuk menyikapi dan mempersiapkan mobilisasi tenaga kerja terampil lintas negara di Asia Tenggara dengan meminimalkan kesenjangan yang mempunyai potensi akan timbul akibat perbedaan perbedaan dalam sistem pendidikannya. Politeknik LPP sebagai partisipan SEAMEO-Politeknik tengah bersiap untuk melakukan uji coba aktivitas dari yang paling sederhana dalam waktu dekat. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan lulusan agar mempunyai wawasan yang luas dan siap untuk memasuki dunia kerja di negaranegara wilayah Asia Tenggara.

    — Galuh Banowati, Politeknik LPP | LPPCom Vol. 18 – No.2 • 06-16 —

Leave a reply

Cancel reply