• Kebahagiaan Ala Ki Suryamentaram

    Semua manusia dipastikan ingin hidup bahagia. Keinginan bahagia ini sejajar dengan keinginan untuk selalu hidup beriman, sehat, dan sejahtera. Buku mengenai kebahagiaanpun banyak ditulis orang. Berikut ini adalah sedikit yang bisa disebutkan di sini. Martin E.P. Seligman menulis Authentic Happiness yang menjadi best seller. Gobind Vashdev menulis buku Happiness Inside yang juga laku keras. Sejak jaman dahulu, banyak pemikir mencoba merumuskan bagaimana manusia bisa merasa bahagia.

    Dari negeri kita sendiri pernah ada pemikir yang mengajarkan ilmu bahagia. Siapakah dia gerangan? Dia adalah Ki Ageng Suryomentaram, yang idenya diharapkan menjadi cikal bakal lahirnya local wisdom.

    Ki Ageng Suryomentaram lahir pada 20 Mei 1892. Ia adalah putra ke-55 Sri Sultan Hamengku Buwono VII dari pasangan Bendoro Raden Ayu Retnomandojo, putri Patih Danurejo VI. Ki Ageng Suryomentaram wafat tanggal 18 Maret 1962 pada umur 69 tahun, dengan meninggalkan ilmu begja (keberuntungan).

    Perjalanan hidupnya telah membawanya menanggalkan gelar Pangeran Surya Mataram dan ia lebih suka dipanggil Ki Ageng Suryomentaram. Suatu ketika, ia pernah turut dalam rombongan jagong manten ke Surakarta. Selama perjalanan dengan kereta api, ia melihat berbagai kegiatan rakyat biasa seperti petani yang sedang bekerja di sawah, mbok bakul yang menjual dagangannya, kuli bangunan bekerja membanting tulang di tengah terik matahari yang menyengat. Hal ini menyentuh hatinya, dan mulai merasakan betapa beratnya beban hidup para kawula cilik itu. Lalu ia sering keluar istana untuk bermeditasi di tempat-tempat yang biasa dikunjungi para leluhurnya, seperti Gua Langse, Gua Semin dan Parangtritis. Ki Ageng juga malakukan laku pergi mengembara di daerah Kroya, Purworejo, sambil bekerja serabutan sebagai pedagang batik pikulan, petani dan kuli.

    Karena gemar membaca, wawasan Ki Ageng sangat luas. Namun ia tidak pernah berpuas diri, ia memilih keluar dari Keraton dengan menjadi petani di Desa Bringin, Salatiga. Sepanjang hidupnya, ia mencurahkan perhatian terhadap masalah kejiwaan. Ki Ageng melakukan perjalanan spiritualitas dengan pencarian jati diri, untuk mengetahui makna bahagia. Bahagia itu bukan karena mendapat untung, prestasi, atau pengakuan, tapi bejo (beruntung).

    Salah satu ajaran Ki Ageng adalah memaknai rasa senang dan tidak senang. Menurutnya, senang atau tidak senang itu bukan fakta, tetapi reaksi kita atas fakta. Manusia itu makhluk dengan rasa. Walaupun ada bermacam rasa, tapi dapat diringkas menjadi dua: rasa enak dan tidak enak. Dalam pergaulan, seseorang harus mengerti rasa dari yang lain. Ketidak-mengertian akan menimbulkan rasa yang tidak enak dan akhirnya timbul perselisihan. Karenanya, untuk mengerti rasa orang lain, ia harus mengerti rasa diri yang menghalanginya.

    Konsep Ki Ageng mendahului konsep Steven Covey yang terkenal itu. Hanya saja bahasa atau istilah yang digunakan berbeda. Steven Covey dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People menyebut sebagai stimulus-respons. Konten (isi) konsepnya sama persis. Yang menyebabkan kita senang atau tidak senang adalah respon kita terhadap stimulus yang diberikan. Ketika melihat tetangganya membeli mobil baru, respon atau reaksi orang bisa bermacam macam. Dan itu merupakan pilihan. Salah satu tetangga langsung kumat migren dan pusing, iri serta tidak senang dengan tetangga yang baru saja membeli mobil anyar. Alasannya bermacam-macam. Bisa alasannya karena ia merasa tersaingi, terkalahkan, tertandingi. Sementara tetangga yang lainnya lagi mendapat fakta yang sama reaksinya berbeda. Tetangga itu malah bahagia dengan fakta bahwa tetangganya baru saja membeli mobil baru. Tetangga tersebut dalam hati berkata demikian,”Alhamdulilah, dia sudah punya mobil baru. Berarti dia tidak lagi meminjam mobilku yang sudah tua”. Atau bisa juga dengan alasan lain seperti misalnya: “Kalau mobilku yang tua pas ngadat aku gantian bisa pinjam mobil dia” .

    Seorang karyawan tiba-tiba mendapati fakta bahwa mobilnya tidak bisa dihidupkan dalam waktu dekat. Respon karyawan tersebut bisa macam-macam. Yang biasa terjadi adalah mengumpat nasibnya yang kurang baik, “Waduh mobil saya berulah lagi”, atau menyesal demikian, “Andaikan kemarin saya servis tentu tidak akan terjadi kejadian yang tidak mengenakkan ini”. Bisa juga reaksi atau respon yang sama sekali berbeda, “Alhamdulilah mobil saya tidak bisa dihidupkannya di rumah. Saya tentu akan lebih sengsara kalau mobil ini mogok ketika di jalan”. Atau merespon demikian, “Terima kasih ya Tuhan, telah diperingatkan untuk memelihara mobil dengan baik sehingga tidak rusak.”

    Menerapkan Ilmu Mulur Mungkret Ki Ageng
    Saya punya seorang kawan. Sejak kecil ambisinya sangat besar. Ia ingin jadi pembesar, rumah besar dan nama besar. Singkatnya, karena kawan tadi memang berbakat dan punya motivasi yang tinggi, maka cita-citanya menjadi pembesar tercapai. Tidak cuma itu, perutnya yang dulu kecil itupun ikut-ikutan menjadi besar setelah ia menjadi orang besar. Paling tidak untuk ukuran kampung kami yang miskin. Semua orang tahu bahwa si Banu anak Pak Kromo Pitik itu telah menjadi orang sukses. Sukses menurut orang kebanyakan biasanya diukur dengan apa yang kita punya. Untuk bisa dibilang sukses kita harus bisa membuktikan dengan apa-apa yang kita punyai. Sudahkah kita punya jabatan, penghasilan besar, rumah besar, mobil mahal, gelar yang panjang serta mempunyai kesempatan pergi ke berbagai belahan dunia. Bahkan punya isteri yang cantik, sukses, berpendidikan serta anak-anak yang sukses sering dijadikan kriteria kesuksesan seseorang. Bila deretan panjang tadi belum semuanya atau paling tidak sebagian besar belum dipunyai, orang belum bisa dibilang sepenuhnya sukses. Untuk itu, orangpun melakukan dengan berbagai upaya untuk mempunyai yang macam-macam tadi.

    Cita cita atau tujuan hidup harus selalu mulur (berkembang, tinggi, panjang, ideal). Pada kenyataannya, tidak semua tujuan hidup itu akan tercapai. Untuk hidup kita harus siap mungkret (mengecil, menerima keadaan, menurunkan target, mensyukuri apa yang telah dicapai dan sebagainya). Ini adalah hal sulit dari kehidupan. Pada banyak kejadian justru banyak orang menderita stres dan penyakit lainnya gara gara tujuannya yang tinggi tidak tercapai. Orang itu tidak bisa memungkretkan dirinya. Tidak bisa mengevaluasi kembali, mawas diri, bersabar, iklas, dan pasrah.

    Kehidupan pembesar tadi sangat kontras dengan kehidupan para rohaniawan; apakah ia kiai, pastur, pendeta, bhiksu, atau pedanda. Kehidupan mereka tidak terpusat dengan kehendak serta keinginan untuk mempunyai. Inilah gambaran kehidupan mereka yang me-mungkret-kan dirinya. Mereka tidak termotivasi oleh apa yang mereka akan atau telah alami. Hal-hal seperti materi kebendaan tidak menjadi orientasi pada kehidupan mereka. Mereka bahagia hidup secara sederhana, Menurut mereka, materi kebendaan adalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Materi bukanlah sesuatu yang harus dikejar-kejar. Cita-cita mereka bukanlah untuk mempunyai (to have atau to own), tetapi bagaimana bisa menjadi pribadi yang mereka inginkan (to be). Suatu pribadi yang lebih baik dan lebih berguna dan bermanfaat bagi kemanusiaan pada umumnya.

    Mereka tidak seperti kawan saya tadi yang selalu siap berkompetisi dengan manusia-manusia lain untuk memperebutkan materi. Rohaniawan lebih banyak melawan diri mereka sendiri terutama melawan nafsu dan kehendak-kehendak yang muncul untuk menjadi manusia yang lebih baik. Rohaniawan tidak dikuasai oleh nafsu dan keinginannya tetapi malahan menguasainya. Itulah sebabnya kenapa para rohaniawan lebih tenang hidupnya, jauh dari stres. Meskipun mereka tidak punya apa-apa, mereka lebih bahagia. Kehadiran mereka menyejukkan, membuat orang lain yang dekat dengan mereka menjadi lebih tenang. Mereka adalah orang-orang yang pinter me-mungkret-kan dirinya.

    Kembali ke diri kita sendiri, kehidupan seperti apakah yang sebaiknya kita jalani? Kita ingin meniru seperti kehidupan pembesar yang selalu mulur atau rohaniawan yang mungkret. Masing-masing pilihan mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

    Dalam era seperti sekarang, dimana materi dan kekayaan didewakan, pilihan hidup sebagai pembesar yang selalu mengulur cita-citanya yang tinggi tentu lebih membanggakan. Jadi pembesar atau jadi orang kaya memang enak. Tetapi patut dipertimbangkan pula, agar kita tidak begitu mendewakan materi dan jabatan. Tentu sangat baik memiliki materi yang berlimpah. Namun, kita akan repot sendiri bila kita sampai diperbudak atau dimiliki oleh kekayaan yang kita punyai. Kitalah yang seharusnya menguasai kekayaan tersebut. Sejalan dengan itu, Alexander dan Annellen Simpkins dalam bukunya Simple Taoism TIDAK menterjemahkan pengertian kaya dengan mendasarkan kekayaan yang dipunya. Kaya menurut kedua penulis itu tergantung pada seberapa baik seseorang menikmati serta mensyukuri hidupnya. Dalam buku tersebut, Simpkins mengutip pernyataan seorang guru yang bernama Yang Chu tentang the correct course for life (jalan hidup yang benar). Yang Chu, dalam menjawab pertanyaan seorang muridnya berpendapat bahwa those who are good at enjoying life are not poor. Jadi, mereka-mereka yang dapat menikmati hidup adalah pada dasarnya orang kaya.

    Untuk memberi gambaran apakah kita memiliki atau dimiliki benda tersebut, maka saya lanjutkan cerita saya tentang pembesar si Banu tadi. Sebagai seorang pembesar, Banu mempunyai banyak rumah. Ada rumah dinas yang letaknya di kota. Selain itu, ia mempunyai pula rumah adat di daerah tempat kelahirannya. Rumah tersebut sangat luas dan penuh dengan tanaman buah-buahan. Pada akhir pekan, dia menghabiskan waktunya di villa lain yang berada di tempat wisata lereng gunung yang dingin. Selain itu, dia juga mempunyai beberapa hektar sawah di tempat kelahirannya yang digarap oleh orang kepercayaannya. Mobilnya juga banyak. Banu sendiri selalu naik mobil pribadinya yang sangat mahal harganya. Seorang isteri dan ketiga anaknya semua diberi hak memegang sebuah mobil. Sebagai orang yang punya pergaulan luas Pak Banu memperoleh bermacam-macam jabatan, disamping jabatannya sebagai pembesar di kota X tadi.

    Pada suatu waktu, Pak Banu mengeluhkan tentang betapa stresnya dia. Semua yang dipunyainya memberikan konstribusi masalah kepadanya. Banyak masalah yang pelik berasal dari jabatan yang ia pangku. Keluarganya, terutama anak-anaknya menambah beban berat Pak Banu. Anak pertamanya terkena razia polisi atas obat terlarang yang dibawanya di salah satu kafe. Anak keduanya, seorang remaja wanita, asyik pacaran dengan orang kebanyakan. Sesuatu yang sangat menyedihkan bagi Pak dan Bu Banu yang menghendaki punya menantu dari kalangan orang terpandang pula. Sedang anak bungsunya yang masih duduk di sekolah dasar keasyikan main internet game. Bahkan sampai lupa pulang ke rumah dan lupa sekolah. Rumah-rumah mewahnya penuh barang antik juga menambah derita Pak Banu. Villa di daerah wisata itu sekarang dipenuhi rumput liar, penjaga yang menjaga Villa itu menuntut upah bulanannya dinaikkan, sawah yang digarapkan tetangga di tanah kelahirannya sudah perlu dipupuk dan disiangi. Ia harus kedesa membereskan semuanya. Makin kesalah Pak Banu demi melihat mobil pribadinya yang mewah ternyata dipakai oleh sepupunya untuk kebut-kebutan di jalan raya dan menabrak pohon sampai ringsek.

    Melihat betapa menderitanya Pak Banu, bisa disimpulkan bahwa Pak Banu bukannya menguasai atau mempunyai benda dan materi tersebut. Sebaliknya, Pak Banu telah dikuasai atau dipunyai oleh benda-benda tersebut. Namanya saja dikuasai, seperti halnya suami yang dikuasai isteri atau sebaliknya, bawahan yang dikuasai atasan, buruh yang dikuasai majikan, tentu tidak menyenangkan. Pak Banu menuai kelelahan mental dan stres. Konsekuensi logis dari seseorang yang stres biasanya berakibat pada penurunan daya tahan seseorang terhadap berbagai penyakit. Berbagai keluhan seperti depresi, imsomnia (sulit tidur), sakit lever, kordiovaskuler dan penyakit degeneratif lain bisa setiap saat menyerang. Demikian juga jalan hidup Pak Banu. Ia tinggal nama saja. Penyakit lever (hati) yang dideritanya untuk beberapa lama telah mengantarkannya ke Alam Baka.

    Agar hidup kita lebih bahagia dan bermakna ada baiknya kita mengikuti ajaran Ki Ageng Suryomentaram untuk selalu mulur mungkret. Ajaran ini sesuai dengan Sunah Nabi, “Kejarlah duniamu seolah olah kamu masih lama hidup dan kejarlah akhiratmu seolah olah kau akan mati esok hari.” Untuk perkara dunia kita sebaiknya selalu mempunyai tujuan yang tinggi, action terus, tak kenal lelah, selalu fokus dan bersemangat. Kita bisa saja menjadi manajer yang sehat, sukses, sejahtera, kaya raya sekaligus mempunyai mempunyai karakter rohaniawan yang penuh syukur dan keiklasan. Setelah melakukan semua itu dengan totalitas kita ungkret-kan diri kita, kita refleksikan, mawas diri kita terhadap capaian kita untuk selalu merayakannnya dengan rasa syukur, baik itu cita-cita atau tujuan yang sudah berhasil atau belum berhasil.

    (Esmet Untung Mardiyatmo, Spiritualis | LPPCom vol. 18 no.1- 02-16)