• Pengembangan Karakter Berbasis Spiritual

    Berfikir Lebih Jauh, Jika saat ini kita berada di akhir tahun, tentu kita masih ingat peristiwa yang kita alami atau aktivitas yang kita lakukan pada tahun ini. Tidak jarang orang mengalami atau melakukan banyak peristiwa atau kegiatan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mereka tidak berhasil mengetahui maksud atau esensi dari peristiwa atau kegiatan yang dilakukan. Tentu jika demikian, mereka tidak akan mendapatkan makna dari yang dialami / dilakukan. Mereka yang mengetahui pun sering tidak berhasil mendapatkannya. Dengan demikian, bisa saja tahun 2016 ini sekedar berlalu saja, dengan seluruh peristiwa / aktivitas yang ada. Di sisi lain terdapat orang yang sebelum melakukan aktivitas, mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami maksud, isi, atau esensi dari kegiatan tersebut. Selanjutnya mereka merancang dan melakukannya untuk tidak sekedar bahwa aktivitas itu selesai dan menghasilkan output, tetapi mendapatkan makna dari yang telah dilakukan, yaitu melakukannya dengan penuh kesungguhan sesuai dengan maksud, isi, atau esensi kegiatan/ peristiwa yang dijalaninya.

    Mengetahui dan mendapatkan makna atau kebermaknaan dalam konteks kehidupan adalah sesuatu yang sangat penting, bahkan esensial. Tentu untuk mengetahui dan mendapatkannya tidaklah mudah; tetapi bisa, yaitu melalu cara atau upaya yang yang sungguh-sungguh atau cara yang ‘berbeda’ dari biasanya. Pendekatan untuk mengetahui dan mendapatkannya adalah melalui cara pandang, paradigma, atau cara berfikir yang Lebih Dalam, Lebih Luas, dan Lebih Jauh. Pendekatan dengan Berfikir Lebih Dalam dan Lebih Luas telah diuraikan pada dua artikel sebelumnya. Ringkasannya sebagai berikut.

    Berfikir Lebih Dalam adalah pendekatan dengan melihat suatu peristiwa/ aktivitas bukan dari simbul yang tampak, tetapi dari isi yang dikandungnya, hakekat, atau esensi dari peristiwa tersebut. Esensi yang didapat selanjutnya dipergunakan sebagai pandangan hidup, sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kerja atau bekerja itu dipandang bukan sekedar cari uang untuk hidup, tetapi kerja adalah bentuk ibadah kepada Sang Pencipta, kerja adalah amanah/ kepercayaan, kerja adalah aktualisasi potensi diri. Oleh karena itu, orang tersebut melakukan kerja (bekerja) dengan penuh kesungguhan dan penuh tanggung jawab. Dia melakukannya dengan sikap dan perilaku yang positif, mulia, luhur, dan terhormat. Sikap perilaku yang positif dan konsisten akan membentuk karakter yang kuat dan baik (good & strong character). Untuk evaluasi diri, bagaimana dengan kerjaku di tahun ini? Semoga kita telah melakukannya dengan yang terbaik, sebagai ibadah yang diterima oleh Allah SWT, menjadikan diri kita lebih dipercaya, dan potensi diri kita telah teraktualisasikan secara optimal, sehingga tahun tersebut memberikan makna dan sebagai sumber enerji bagi kehidupan kita selanjutnya.

    Berfikir Luas adalah melihat sesuatu dengan cara atau sudut pandang yang luas, sehingga akan menghasilkan gambar yang besar (big picture). Semakin besar besar (luas) sudut pandangnya atau semakin tinggi posisi dalam melihat akan semakin besar gambar yang dapat dilihat. Gambar besar akan menghasilkan peta peristiwa dan informasi yang semakin banyak dan lengkap. Dengan cara pandang atau Berfikir Luas, akan diperoleh kesadaran bahwa sebuah eksistensi (termasuk keberadaan diri kita) pasti memiliki maksud; bahwa selalu ada saling hubungan atau keterkaitan antara eksistensi (peristiwa/ faktor)yang satu dengan yang lain dalam kehidupan. Maksud keberadaan diri kita tersebut utamanya adalah untuk memberikan manfaat bagi eksistensi yang lain (stakeholders). Dengan demikian, sebuah eksistensi (keberadaan diri kita) baru memiliki arti (kebermakanaan) jika eksistensi tersebut telah memberikan manfaat (kontribusi) bagi eksistensi (pihak-pihak) lain. Kualitas kebermaknaan akan semakin tinggi diperoleh jika manfaat atau kontribusi tersebut dapat dirasakan oleh eksistensi (pihak-pihak lain) yang semakin luas atau semakin banyak. Tentang siapa saja yang telah mendapatkan manfaat dari keberadaan diri kita? Semoga kita telah berbuat sesuatu yang berarti dan memberikan manfaat (kebaikan) kepada orang lain.

    Pendekatan yang terakhir adalah Berfikir Jauh, yaitu cara pandang yang menempatkan peristiwa / aktivitas yang kita alami / lakukan dimasa lalu dan atau saat ini dengan keberadaan diri kita di masa mendatang. Sebagaimana kita alami bahwa waktu berjalan terus, hari, minggu, bulan, tahun terus berganti. Walaupun sebetulnya waktu tidak berubah atau bergerak, tetapi yang berubah / bergerak adalah bumi dan matahari (beserta benda langit yang lain), sehingga ada gelap atau malam (matahari tidak tampak) dan ada terang atau siang (matahari tampak), demikian seterusnya.

    Berfikir Jauh diperlukan jika kita punya pandangan atau keyakinan bahwa masa lalu dan saat ini memiliki hubungan dengan masa yang akan datang, bahwa peristiwa/ aktivitas yang kita lakukan di masa lalu dan sekarang memiliki peran dan menentukan keberadaan (keberhasilan) kita dimasa datang. Oleh karena itu, cara Berfikir Jauh ‘mengharuskan’ kita untuk mengetahui dan merumuskan lebih dahulu keberadaan, situasi dan kondisi (keberhasilan atau kesuksesan) yang hendak kita lalui atau kita wujudkan dimasa datang sebelum kita mimilih aktivitas dan cara melakukan. Pilihan aktivitas dan cara melakukan yang tepat akan menjadikan kita dimasa datang berada pada situasi dan kondisi yang diharapkan.

    Perwujudan akan cara Berfikir Jauh dalam bidang manajemen misalnya, dalam bentuk perumusan Visi. Visi merupakan sesuatu yang hendak diwujudkan di waktu mendatang, sebuah kehendak keberhasilan atau kesuksesan jangka panjang, gambaran yang seharusnya terjadi pada saat berhasil dan sukses. Dalam organisasi Visi akan berperan sebagai petunjuk arah perjalanan, sumber inspirasi, sumber enerji, dan motivasi untuk bergerak maju dengan penuh kesungguhan bagi seluruh jajaran organisasi, yaitu pimpinan, manajemen, dan seluruh karyawan. Visi tersebut menjadi pedoman dalam menentukan jalan yang ditempuh (strategi), kegiatan (program) yang dipilih, dan cara kerja yang dilakukan (budaya) agar visi tersebut dapat diwujudkan.

    Dalam bidang kepribadian, perwujudan Berfikir Jauh misalnya oleh Steven Covey disebut sebagai Start From The End Of Mind (Mulai Dari Akhir). Artinya agar kita menjadi pribadi yang efektif, salah satunya harus melatih dan membiasakan menetapkan tujuan akhir terlebih dahulu, yaitu mengembangkan dan menetapkan gambaran yang jelas, yang hendak dicapai di masa datang sebagai awal memulai. Penetapan tujuan akhir ini akan menentukan jalan dan cara menempuhnya.

    Dua contoh tersebut sebagai ilustrasi untuk menggambarkan pentingnya cara Berfikir Jauh. Oleh karena tema besar tulisan ini adalah dalam konteks Pengembangan Karakter Berbasis Spiritual, masih diperlukan penjabaran lebih lanjut dari pemahaman yang ada pada Visi dalam bidang manajemen dan kebiasaan Mulai dari Akhir dalam bidang kepribadian tersebut. Tinjauan Berfikir Jauh dalam konteks spiritualitas menyangkut dimensi waktu yang menembus batas, yaitu menggambarkan situasi dan kondisi diri kita bukan saja selama berkarya dalam organisasi atau pada saat tua saja. Namun dimensi waktu tinjauan spiritualitas juga menggambarkan situasi dan kondisi setelah tua atau setelah kehidupan kita di dunia berakhir (mati). Cara Berfikir Jauh yang menembus batas ini merupakan bagian dari kesadaran bahwa manusia pada saatnya akan mati. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana dengan situasi dan kondisi diri kita sesudah itu?

    Sebagian orang berpandangan bahwa sesudah mati, ya sudah, semua urusan selesai, tidak perlu dipikirkan. Misalnya, pandangan ini ada pada orang-orang yang menganut paham Hidonisme dan Nihilisme. Hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak-banyaknya dan berusaha keras menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan atau menyengsarakan diri. Bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup utama manusia. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan aktivitas dan tujuan hidup mereka. Mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. Slogan mereka adalah “Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati”. Persoalan hal tersebut menyenangkan orang lain atau tidak, tidak menjadi penting bagi mereka. Mereka menempuh berbagai jalan dan cara untuk bisa mendapatkan kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan saat ini.

    Pada aliran Nihilisme dipahami bahwa keberadaan manusia di dunia tidak memiliki suatu tujuan. Mereka menyatakan bahwa tidak ada bukti yang mendukung keberadaan Sang Pencipta, tidak ada moral sejati dan etika, tidak ada namanya nilai kehidupan luhur. Nihilisme menolak padangan tentang adanya arti penting dari tujuan mulia hidup manusia. Nihilisme cenderung tidak mengakui moralitas agama, tidak percaya pada kehidupan sesudah kematian, dan mengingkari keberadaan Tuhan.

    Bagi mereka yang menganut paham Hodonisme dan Nihilisme, cara Berfikir Jauh tidak memiliki arti dalam kehidupannya. Di sisi yang lain, terdapat sekelompok orang lain yang berpandangan bahwa keberadaan dan kehidupan manusia itu memiliki arti penting, maksud yang luhur, dan misi agung sehingga mereka menjalani kehidupan dan melakukan sesuatu dengan cara terbaik sebelum kematian tiba. Sebagian dari mereka kemudian berusaha merancang dan melakukan aktivitas yang penting, yang bermanfaat, dan melakukannya dengan berpegang pada nilai-nilai luhur kemanusian agar dapat menjadi tinggal (legacy) setelah kematian. Sebagian yang lain berusaha merancang dan melakukannnya dengan cara-cara terbaik bukan hanya untuk tinggalan yang baik bagi anak cucu dan generasi berikutnya, tetapi untuk mewujudkan kehidupan baru setelah kematian. Suatu kehidupan yang bahagia, sejahtera, abadi, dan jauh lebih lama dibandingkan dengan sekejab kehidupan di dunia.

    Hal yang terakhir itulah gambaran pendekatan Berfikir Jauh dalam tinjauan spiritual, yang seharusnya menjadi pandangan bagi orang Indonesia, bangsa yang ber-Ketuhanan dan beragama, yang menyakini tentang kehidupan baru setelah kematian. Suatu kehidupan yang orang dapat sukses dan dapat juga gagal. Oleh karena itu, agar termasuk orang-orang yang sukses, mereka merancang, mereka merumuskan gambaran kesuksesan itu sebagai tujuan akhir atau visi kehidupan. Dengan visi tersebut mereka memilih secara cermat jalan dan cara menjalaninya dalam kehidupan di dunia agar visi terwujud.

    Dengan uraian tersebut, seseorang dikatakan mendapatkan kebermaknaan apabila sesuatu yang mereka lakukan itu memberikan kebaikan bagi dirinya dan orang lain dihari esok. Jalan atau cara melakukan sesuatu yang memberikan manfaat dan dapat dirasakan atau dibawa atau sebagai modal / bekal untuk waktu yang semakin jauh ke depan merupakan jalan atau cara yang memiliki kualitas kebermakanaan yang semakin tinggi. Itulah yang disebut kebaikan dalam konteks spiritualitas. Sebaliknya, disebut keburukan atau kesia-siaan jika suatu peran, jalan, atau cara yang ditempuh itu tidak memberikan manfaat atau kontribusi bagi tujuan masa datang. Walaupun mungkin saja hal tersebut memberikan kesenangan saat ini, lebih-lebih jika saat ini saja tidak memberikan manfaat, itulah seburuk-buruknya jalan dan cara bertindak. Semoga kita dijauhkan dari jalan dan cara bertindak yang demikian.

    Demikian upaya untuk mewujudkan dan menunjukkan wajah asli, melalui cara Berfikir Jauh. Suatu upaya untuk membangun sikap perilaku pribadi yang otentik, pribadi yang menunjukkan jati dirinya, dirinya yang fitrah, menjadi dirinya sendiri, sehingga muncul bentuk sikap perilaku yang positif. Sikap perilaku yang positif tersebut kemudian dilatih, dibiasakan dan menjadi konsisten yang dilandasi dengan kesadaran Berfikir Jauh, akan membentuk karakter yang kuat dan baik (good & strong character). Orang-orang yang sukses kehidupannya setelah kematian adalah mereka yang memiliki good & strong character selama hidup di dunia.

    Wallahu a’lam bissawab. Salam Sukses, Bergerak, Bermanfaat, dan Bermakna.

    (Samiyanto, Spiritualis | LPPCom vol. 18 no.1- 02-16)

Leave a reply

Cancel reply