• Semut dan Adversity Quotient

    Semut; banyak predikat yang diberikan manusia pada semut. Serangga yang berpinggang ramping ini merupakan mahluk yang suka hidup berkelompok. Serangga social ini membuat sarangnya di bawah tanah, kadangkala pada pepohonan dan tetumbuhan. Yang bersarang di pepohonan seringkali menjadi sasaran pemburu sarang semut, karena telurnya sebagai makanan bagi burung. Bahkan di Jogja, semut dan telurnya (kroto) sudah menjadi entitasbisnis tersendiri.

    Jika kita amati koloni semut, kita akan dibuat kagum oleh perilaku dalam kehidupan serangga ini. Semut yang Anda lihat bergegas melewati tanah waktu mencari makan adalah semut pekerja , yaitu betina mandul yang kecil tubuhnya dan tanpa sayap. Pekerja ini mencari makan, memelihara semut yang baru ditetaskan, merawat ratu dan memperbaiki sarang. Hanya semut ratu yang memiliki tugas khusus, dan hanya pejantan berumur pendeklah yang bersayap. Ini sekedar gambaran struktur organisasi koloni semut dan pembagian tugas.

    Semut memang mengagumkan, bahkan dikatakan bahwa mereka adalah serangga yang “mulia”. Di dalam Kitab Suci Al-Quran kita jumpai Surah Annaml (Semut), yang kisahnya terkait dengan kehidupan Nabi Sulaiman. Di samping itu semut juga menunjukkan daya juang yang tinggi, karena Allah SWT memberi kelebihan berupa kekuatan kepada mereka. Seekor semut pekerja mampu mengangkat beban yang beratnya puluhan kali berat tubuhnya. Di dalam beroperasi mereka membentuk teamwork, mereka mempunyai kemampuan bersama untuk membawa makanan ke rumah dalam “perut sosial” dan kerap kali mereka bertukar makanan. Watak sosial ini tampak pada semut pemotong daun. Dedaunan yang dikumpulkan dikerumuni dan mereka memakan dan mengunyah untuk dijadikan kompos bagi kebun bawah tanahnya tempat pembudidayaan jamur makanannya. Selama tahap larvanya, pekerja betina selalu menjilati dan membersihkan anaknya.

    Masih banyak lagi perilaku semut yang memberi contoh (pelajaran) kepada kita, manusia. Apa yang sudah dikemukakan di atas paling tidak memberi gambaran bahwa semut mempunyai management of life. Bukankah manajemen kita ujungnya juga ke situ? Namun demikian pelajaran yang paling berharga yang dapat kita saksikan dalam kehidupan dan manajemen semut di atas adalah upayanya untuk sukses di dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kita saksikan bagaimana dia mengulang usahanya berkali-kali sehingga berhasil mencapai tujuannya, dia mendaki pohon dan terjatuh, kemudian mendaki lagi, hingga berhasil mendaki dan mencapai tujuannnya tanpa rasa letih dan lelah. Bila jalan menuju sasaran tertutup, dia akan berupaya dengan gigih mencari jalan lain.

    Alkisah seorang yang sedang melakukan perjalanan melalui hutan menuju kesatu tempat untuk mencari barang yang sangat bermanfaat yang diabutuhkan. Perjalanan tersebut cukup berat, karena jauh dan naik turun bukit dan dilakukannya dengan berjalan kaki. Karena lelah dia berhenti untuk istirahat. Perjalanan masih jauh, dan ditengah rasa lelah orang ini mulai berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan.

    Di tengah nafasnya yang terengah-engah, dia memperhatikan seekor semut yang menyeret daun ke atas gundukan tanah. Daun itu terjatuh dan semut tadi turun kembali menyeret daun, dibawa lagi ke atas, jatuh lagi dan diambil kembali serta tetap diseret ke atas gundukan tanah. Orang tadi mulai tertarik melihat perilaku semut yang pantang gagal. Dia pun mulai merasa mendapat pelajaran dari tingkah laku semut tersebut. Kemudian dia berkata pada diri sendiri: “Mestinya saya lebih pantas untuk bersabar dan berketetapan hati dari pada semut ini”.

    Maka setelah direnungkan, keinginan tidak melanjutkan perjalanan, hapus dari pikiran. Dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga tercapai tujuannya. Orang ini telah memperoleh pelajaran dari semut. Memang sesungguhnya dari pengamatan terhadap kehidupan semut, ada pelajaran bagi orang yang berakal berupa insting perjuangan, kesabaran, kekuatan tekad, konsisten dan tak pernah putus asa. Faktor-faktor inilah yang dikemukakan di dalam konsep Adversity Quotient. (Paul G. Stoltz).

    Mari kita dengarkan apa yang dikatakan oleh Paul G. Stoltz, Ph.D. di dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient: Turning Obstacles Into Opportunities. Stoltz mengemukakan konsep Adversity Quotient( A.Q ) sebagai berikut: Keberhasilan Anda di dalam kerja dan kehidupan banyak dipengaruhi oleh kecerdasan Adversity (AQ). Ini berarti AQ member informasi kepada Anda seberapa jauh Anda mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan mengatasinya. Menurut Stoltz selanjutnya, dengan mengetahui AQ anak buahnya, seorang manajer dapat memprediksi mereka yang mampu mengatasi kesulitan dan mereka yang kecil sekali kemungkinan berhasil. Selain itu dengan mendeteksi AQ, manajer mampu menandai personnel yang mampu memproduksi di atas target dan mereka yang tidak berhasi, siapa yang menyerah dan siapa yang akan bertahan.

    Di dunia kerja yang riil, manajer memperoleh informasi tentang kadar AQ anak buah melalui komunikasi. Pada cerita semut di atas, kadar AQ-nya terdeteksi melalui perilaku yang menunjukkan orientasi pada keberhasilan atau sukses. Namun pada kenyataan di tempat kerja, komunikasi yang terjadi adalah people communications. Masalah ini sangat erat hubungannya dengan kadar AQ mereka.

    Dalam hal ini Stoltz mengemukakan tiga macam tipologi anak buah berdasarkan kadar AQ yang dimiliki:

    1. Tipe Quitters. Kadar AQ rendah, kurang gigih, mudah frustasi jika menghadapi hambatan. Bekerja sekedar untuk hidup, kurang semangat, mutu kerja dibawah standar, kurang berani mengambil resiko. Anak buah Anda yang tergolong tipe Quitters jika menghadapi masalah, atau merespon situasi yang dinilainya sulit, lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat yang bernada “melarikan diri” seperti: Mustahil. Sulit dilaksanakan! Begini saja sudah cukup, mengapa cari cara yang sulit! Percuma resikonya berat.!

    2. Tipe Campers. Masih punya sedikit inisiatif, mempunyai kemampuan tetapi motivasi rendah, lebih senang mengambil jalan aman. Mereka yang tergolong Tipe Campers cenderung berhenti berusaha karena rasa takut dan kurang nyaman, mempertahankan kenyamanan, kurang inisiatif untuk mengikuti perubahan. Di tempat kerja mereka tidak gigih mencapai goal. Kata–kata yang sering terucap di dalam komunikasi kerja: Saya rasa ini sudah memenuhi syarat. Saya rasa ini sudah sesuai dengan permintaan. Lain kali sajalah kita tingkatkan. Kita perlu istirahat. Kan kita tidak dikejar waktu.!

    3. Tipe Climbers. Senang tantangan, motivasi diri yang kuat, semangat tinggi, selalu berusaha mengerjakan yang terbaik. Climbers menunjukkan penampilan kerja seperti: peningkatan, perbaikan kinerja. Seringkali mengungkapkan sikap optimis dan kemantapan, seperti: ”Meskipun belum pernah kita lakukan, belum tentu kita tidak mampu. Kita harus mencoba. Saya yakin kita mampu.”

    Butir-butir di atas menggambarkan sikap kerja. Bagaimana manajer menandai perilaku atau penampilan kerja anak buahnya. Kita mengamati mereka dalam hal kebiasaan menggunakan kata-kata tertentu sebagai ekspresi sikap dari tipologi yang terkait.

    Kembali kita pada kisah semut di muka dan orang yang memperoleh pelajaran dari semut tadi. Ketika memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, dia telah memperoleh pencerahan tentang perilaku gigih, pantang menyerah, optimis dan motivasi yang tinggi, yang kesemuanya menggambarkan Adversity Quotient yang tinggi. Orang ini mengalami perubahan pola pikir yang positif.

    Diantara ketiga Tipe di atas, tipe Climbers yang cenderung mempunyai perilaku kerja yang berorientasi pada perubahan ataupun mendorong adanya perubahan. Mereka tidak menghindari tantangan yang dikandung perubahan. Mereka justru melihat tantangan sebagai peluang untuk berkembang. Berlawanan dengan Climbers, Quitters cenderung menolak perubahan. Bahkan cenderung melakukan sabotase untuk menghalangi keberhasilan, menghindari dan “tidak mau ikut-ikut”. Repot, karena menikmati berada di zona nyaman. Mereka memang tidak pernah mengamati “semut” yang jungkir balik .

    (Abubakar Faris, Psikolog | LPPCom vol. 18 no.1- 02-16)

Leave a reply

Cancel reply