• Menggapai Kebermaknaan (2)

    Berfikir Lebih Luas

    Setiap orang senantiasa memiliki harapan yang lebih baik di masa datang, kemudian muncullah cita-cita. Cita-cita adalah gambaran keberhasilan atau kesuksesan yang hendak diwujudkan di masa datang. Cita-cita akan menjadi petunjuk arah sekaligus pedoman bagi setiap orang untuk mengarahkan segala sumber daya, sebagai sumber energi, sumber motivasi dan inspirasi bagi seseorang untuk mendapatkan cara-cara yang lebih baik, dan melakukannya dengan penuh kesungguhan.

    Cita-cita pada dasarnya selalu mengandung dua unsur, yaitu simbul dan isi. Simbul adalah sesuatu yang dapat dilihat dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menjadi dokter, insinyur, doktor, professor, pengusaha, pejabat, manajer, direktur, menteri, presiden, atau sesuatu yang hendak dimiliki seperti uang, kendaraan, tanah, perusahaan, atau anak. Dengan berjalannya waktu, sukses simbul pasti akan hilang dan berlalu.

    Kesuksesan dalam bentuk isi merupakan proses, cara memandang, pendekatan, cara, keyakinan untuk mengelola atau mewujudkan simbul. Sukses isi itulah sebenarnya yang dapat berfungsi sebagai sumber semangat, motivasi, gairah, sumber inspirasi, energi untuk keberhasilan berikutnya (berkelanjutan). Isi atau substansi adalah sesuatu yang bukan sekedar memberikan kesenangan, atau kebanggaan, tetapi lebih dari itu, yaitu sesuatu yang memberikan kebermaknaan (meaningful) bagi perjalanan kehidupan berikutnya.

    Makna atau kebermaknaan dalam konteks kehidupan adalah sesuatu yang sangat penting, bahkan esensial bagi seseorang. Oleh karenanya, tentu untuk mendapatkannya tidak mudah; tetapi bisa, yaitu melalui cara atau upaya yang berbeda. Pendekatan untuk mendapatkannya adalah melalui cara pandang, paradigma, atau cara berfikir yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih jauh.

    Pada artikel sebelumnya telah diuraikan pendekatan dengan berfikir lebih dalam. Berfikir Lebih Dalam adalah pendekatan dengan melihat suatu peristiwa bukan dari simbul yang tampak, tetapi dari isi yang dikandungnya, hakekat, atau esensi dari peristiwa tersebut. Esensi yang didapat selanjutnya dipergunakan sebagai pandangan hidup, sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Pada saat seseorang telah mendapatkan isi dari suatu simbul atau peristiwa kemudian mampu wewujudkan dalam sikap, perilaku, dan tindakan yang sesuai dengan isi atau esensi tersebut, pada saat itulah seseorang akan memperoleh kebermaknaan. Orang tersebut mampu menunjukkan wajah asli-nya, sebagai pribadi yang otentik, yaitu pribadi yang menunjukkan jati dirinya, dirinya yang fitrah, menjadi dirinya sendiri, sehingga muncul bentuk sikap perilaku yang positif. Sikap perilaku yang positif dan konsisten akan membentuk karakter yang kuat dan baik (good & strong character).

    Misalnya tentang kerja atau bekerja. Kesuksesan yang mudah dilihat dari kerja atau bekerja adalah dari hasilnya yang tampak (sebagai simbul) misalnya berupa jumlah barang yang dihasilkan (produksi/produktivitas), pendapatan (gaji) yang diperoleh, dan karier (jabatan) yang tinggi. Semakin banyak atau tinggi, dikatakan semakin sukses. Orang yang mampu mendapatkan hasil yang banyak atau tinggi tersebut tentu akan mendapatkan kesenangan. Namun demikian belum tentu dia mendapatkan kebermaknaan. Untuk mendapatkan kebermakanaan dari kerja atau bekerja, kita harus mendapatkan isi atau esensi dari kerja tersebut, yang berarti harus merumuskan jawaban alasan yang paling dalam mengapa bekerja.

    Setelah berpikir secara mendalam, sebagian orang berpandangan bahwa kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada dirinya. Dia berpandangan bahwa keberhasilannya adalah apabila dia mampu menjaga dan menunaikan titipan dan kepercayaan tersebut. Oleh karena itu, orang tersebut melakukan kerja (bekerja) dengan penuh kesungguhan dan penuh tanggung jawab. Dia melakukannya dengan sikap dan perilaku yang positif, sebagai perwujudan bahwa dia layak diberi amanah.

    Sebagian yang lain setelah berfikir dalam menyatakan bahwa kerja adalah ibadah. Kerja atau bekerja merupakan bentuk perwujudan bakti, pelayanan, pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan itu Maha Mulia, Maha Luhur, Maha Terhormat, sehingga orang tersebut melakukan kerjanya dengan sikap dan perilaku yang menggambarkan kemuliaan, keluhuran, dan kehormatan dirinya. Mereka bekerja dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab karena mereka sadar sedang mempersembahkan kepada Dzat Yang Maha Mulia, Maha Luhur, dan Maha Terhormat.

    Mereka yang berpandangan bahwa kerja adalah amanah dan atau kerja adalah ibadah, sebagai hasil dari berfikir dalam, akan bekerja dengan penuh kesungguhan, tanggung jawab, dengan sikap dan perilaku yang mulia, luhur, dan terhormat. Jika mereka berhasil melakukan dengan cara yang demikian, mudah-mudahan mereka telah sukses dalam mendapatkan kebermaknaan. Mereka yang telah melakukan dengan cara demikian, bisa jadi akan memperoleh hasil dalam bentuk jumlah barang yang dihasilkan (produksi / produktivitas), pendapatan (gaji) yang diperoleh, dan karier (jabatan) yang tinggi (sukses dalam bentuk simbul), tetapi bisa jadi tidak mendapatkan hasil yang demikian (tidak sukses dalam bentuk simbul). Mereka yang sukses keduanya (simbul dan isi), mudah-mudahan dia mendapatkan kesenangan sekaligus mendapatkan kebermaknaan. Mereka yang tidak sukses dalam bentuk simbul tersebut tetapi telah sukses dalam bentuk isi, mungkin mereka tidak mendapatkan kesenangan tetapi mudah-mudahan mereka mendapatkan keber-makna-an atas sesuatu yang telah dikerjakannya.

    Bagaimana dengan mereka yang berhasil mendapatkan simbul, tetapi tidak sukses dalam bentuk Isi? Mereka mungkin mendapatkan kesenangan, tetapi tidak mendapatkan kebermaknaan. Dalam bahasa spiritual, mereka itu boleh disebut orang-orang yang rugi. Satu kemungkinan lagi, yaitu mereka tidak mendapatkan sukses baik dalam bentuk simbul maupun isi, mereka itulah yang dapat disebut orang yang celaka. Kemudian siapakah yang disebut dengan orang yang beruntung? Mereka adalah yang berhasil menggapai sukses isi. Kebermaknaan yang telah digapai oleh seseorang, akan menjadi modal perjalanan berikutnya, termasuk modal untuk dijauhkan dari rasa ketakutan dan kekhawatiran. Mereka akan mendapatkan ketenangan, kedamaian dalam kehidupannya, dan memperoleh semangat hidup dari dalam (inner power) secara berkelanjutan. Demikian, hasil dari proses pendekatan pertama, berfikir dalam untuk menggapai kebermaknaan.

    Pendekatan yang kedua untuk mendapatkan kebermaknaan adalah dengan cara pandang atau berfikir (lebih) luas. Pendekatan ini dilandasi oleh kesadaran bahwa sebuah eksistensi (peristiwa) selalu berada dalam dimensi ruang. Maksudnya bahwa eksistensi tersebut tidak berada sendiri, tetapi bersama dengan eksistensi yang lain yang berada bersama-sama dalam kesatuan ruang. Misalnya tentang kerja atau pekerjaan, sebagaimana diambil sebagai contoh dan diuraikan di atas. Kerja atau pekerjaan adalah sebuah proses, dan sebuah proses membutuhkan masukan (input) dan akan menghasilkan keluaran (output). Dalam aspek orang, akan ada orang yang memberikan input, yang melakukan proses, dan yang menggunakan output. Dengan demikian input, proses, output dan pelakunya tidak berada sebagai peristiwa atau eksistensi tunggal, tetapi berada bersama dengan yang lain dalam kesatuan ruang.

    Berfikir luas akan menghasilkan gambar yang besar, yang gambar tersebut akan memuat serangkaian atau sekelompok eksistensi (peristiwa) sesuai dengan besar kecilnya sudut pandang. Semakin besar (luas) sudut pandangnya atau semakin tinggi posisi dalam melihat akan semakin besar gambar yang dapat dilihat. Demikian sebaliknya semakin kecil (sempit) sudut pandangnya atau semakin rendah posisi dalam melihatnya akan menghasilkan gambar yang semakin kecil. Gambar besar akan menghasilkan gambaran peristiwa yang semakin banyak, dan gambar kecil akan menghasilkan gambaran peristiwa yang semakin sedikit.

    Ambilah sejumlah ilustrasi. Di rumah, diri kita adalah bagian dari keluarga kita (ada bapak, ibu, anak, cucu dll); bagian dari komunitas tempat kita tinggal, RT, RW, kampung (ada tetangga dekat atau tetangga jauh); dan bagian dari wilayah yang lebih luas, desa, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, negara, dan benua. Seorang karyawan atau manajer adalah bagian dari unit kerja; unit kerja bagian dari perusahaan; perusahaan bagian dari lingkungan bisnis yang ada.

    Seorang pemimpin berada dalam kesatuan dengan anggotanya, atasannya, dan pihak lain yang berhubungan (stakeholders). Demikian proses melihat peristiwa dengan cara pandang atau Berfikir Luas. Proses tersebut dapat dilanjutkan dengan melihat dari tempat melihat yang jauh lebih tinggi lagi (lebih luas lagi), maka akan tampak kesatuan bumi, planet, galaksi, dan eksistensi alam semesta. Berfikir luas akan menghasilkan kesadaran baru dan berbeda dengan berfikir sempit. Kesadaran baru tersebut dapat menjadi pandangan hidup dan pedoman dalam bersikap dan bertindak. Dengan pendekatan cara pandang ini, seseorang akan mendapatkan kebermaknaan jika sikap dan perilakunya telah sejalan dengan kesadaran yang diperoleh melalui berfikir luas tersebut. Sejumlah kesadaran dapat diperoleh dari cara pandang atau berfikir luas;

    1. Sebuah eksistensi (keberadaan sesuatu) selalu ada maksud
    Dengan cara pandang atau berfikir luas, akan diperoleh kesadaran bahwa sebuah eksistensi pasti memiliki maksud. Maksud sebuah eksistensi tentu bukanlah untuk dia sendiri tetapi untuk kepentingan eksistensi yang lain (stakeholders). Misalnya keberadaan (pengangkatan) seorang karyawan, manajer, atau direktur dalam perusahaan pasti memiliki maksud, dan maksud yang utama adalah agar karyawan, manajer, atau direktur tersebut memberikan manfaat (kontribusi) bagi perusahaan (pencapaian tujuan dan keberlangsungan hidup perusahaan). Oleh karena itu kesuksesan seorang karyawan, manajer, atau direktur pastilah bukan karena mereka telah diangkat sebagai karyawan, manajer, atau direktur (sukses simbul), tetapi disebut sukses apabila karyawan, manajer, direktur tersebut telah menjalankan dan mencapai maksud dari pengangkatan mereka, yaitu memberikan kontribusi kepada perusahaan dalam pencapaian tujuan dan keberlangsungan perusahaan. Dalam mencapai tujuan perusahaan tersebut, karyawan tidak dapat melakukan secara sendiri tetapi bersama dengan orang (satuan organisasi) lain. Demikian halnya dengan perusahaan sebagai sebuah eksistensi, kesuksesan perusahaan bukan hanya diukur dari kinerja fisik atau finansial saja, tetapi dari kontribusinya (nilai manfaat) yang telah diberikan kepada kesatuan yang lain (Stakeholders).

    2. Keterkaitan antar eksistensi
    Dengan cara pandang atau berfikir luas akan diperoleh gambar besar, yang diantaranya akan memberikan kesadaran bahwa selalu ada saling hubungan atau keterkaitan antara eksistensi yang satu dengan yang lain. Dalam istilah spiritualitas, saling hubungan tersebut disebut dengan interkoneksitas. Dalam sebuah keluarga misalnya, terdapat saling hubungan antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain. Bahkan ada saling hubungan antara anggota keluarga (penghuni rumah) dengan eksistensi yangblain dalam keluarga, seperti rumah, halaman, tanaman, dan binatang yang ada (saling hubungan faktor biotik dan abiotik). Kualitas saling hubungan yang terjadi dalam keluarga akan menentukan efektivitas tercapainya membangun keluarga. Demikian juga dalam perusahaan, terdapat saling hubungan antar orang/karyawan, antar unit, antar jenjang dalam perusahaan; saling hubungan antar perusahaan dengan pemasok, pelanggan, partner atau pesaing, dan yang lain. Kualitas saling hubungan yang ada akan menentukan efektivitas tercapainya maksud didirikannya perusahaan.

    Dengan cara pandang atau berfikir luas akan diperoleh kesadaran tentang saling hubungan antar unsur atau faktor yang ada berserta kualitas saling hubungannya. Cara pandang ini dalam ilmu manajemen disebut dengan konsep berpikir sistem (system thinking), yaitu cara pandang yang melihat suatu peristiwa dari perspektif yang luas yang mencakup melihat secara keseluruhan struktur, pola, dan interaksi dalam peristiwa (sistem) tersebut. Cara pandang yang luas ini dapat membantu seseorang untuk lebih mudah mengidentifikasi faktor-faktor utama dari suatu peristiwa (issues) dalam organisasi yang harus diberikan perhatian.

    3. Kontribusi pada eksistensi semakin luas akan menghasilkan kebermaknaan yang semakin dalam
    Dari kesadaran nomor satu dan nomor dua di atas, maka kebermaknaan sebuah eksistensi baru diperoleh jika eksistensi tersebut telah memberikan manfaat (kontribusi) bagi eksistensi yang lain. Kualitas kebermaknaan akan semakin dalam dapat diperoleh jika manfaat atau kontribusi tersebut dapat dirasakanoleh eksistensi (pihak-pihak lain) yang semakin luas atau semakin banyak. Dalam masyarakat dikenal katakata bijak: orang yang baik adalah orang yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dalam masyarakat atau organisasi juga dikenal pernyataan bahwa faktor yang memberikan pengaruh pada pihakpihak yang semakin banyak (luas) disebut sebagai faktor yang strategis. Sejumlah ungkapan dan kesadaran yang diperoleh dari berfikir luas. Kontribusi yang berupa manfaat bagi orang atau pihak lain atau pengelolaan faktor strategis hanya dapat diwujudkan melalui sikap-perilaku dan tindakan dari para pelaku yang mulia, luhur, dan terhormat. Oleh karena itu cara pandang atau berfikir luas akan memberikan kesadaran untuk senantiasa berusaha bersikap, berperilaku, dan bertindak secara mulai, luhur, dan terhormat. Yang demikian itu akan memberikan kebermaknaan bagi yang bersangkutan.

    Demikian upaya untuk mewujudkan dan menunjukkan wajah asli, dalam bentuk sikap perilaku pribadi yang otentik, yaitu pribadi yang menunjukkan jati dirinya, dirinya yang fitrah, menjadi dirinya sendiri, sehingga muncul bentuk sikap perilaku yang positif. Sikap perilaku yang positif yang dilatih, dibiasakan dan menjadi konsisten dengan kesadaran berfikir luas akan membentuk karakter yang kuat dan baik (good & strong character).

    Wallahu a’lam bissawab (Pendekatan Ketiga: Berfikir Lebih Jauh bersambung).

    — Artikel Spiritual oleh Samiyanto, LPP Kampus Yogyakarta, sumber: LPPCom Vol.17 /No. 2/Nov./15 —

Leave a reply

Cancel reply