• Memanfaatkan Optimisme dan Kesempatan

    Dalam kondisi ketidakpastian saat ini, apakah strategi perusahaan anda sudah tepat? Apakah akan melakukan merger dengan perusahaan lain, atau tetap bertahan beroperasi sendirian, atau menjadi bagian dari rantai bisnis perusahaan lain? Dimana anda akan mengembangkan usaha? Atau sudah benarkah divestasi yang dilakukan?

    Anda mungkin sudah melakukan kerjasama usaha dengan perusahaan yang lebih unggul, namun sampai saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan, atau sudah investasi ke perusahaan hilir, namun malah menambah defisit, bahkan anda sudah melakukan pengetatan biaya dimana-mana, sudah melakukan pemangkasan karyawan dan asset, namun perusahaan tidak menunjukkan hasil yang lebih baik. Kelihatannya semua strategi yang dilakukan malah membawa perusahaan semakin terpuruk. Sering timbul pertanyaan, apakah semua yang terjadi karena kesalahan pemilihan strategi atau pengambilan keputusan sehingga menempatkan perusahaan pada posisi yang semakin sulit?

    Mendapatkan strategi yang tepat dalam kondisi ketidakpastian seperti ini sangatlah penting. Memperhatikan perubahan bisnis, teknologi, kebutuhan bahkan selera konsumen, gaya hidup, nilai-nilai dan budaya, serta politik dan regionalisasi, dapat menjadi pengaruh yang sangat penting untuk keberhasilan perusahaan.

    Kita sudah tidak dapat lagi mengandalkan strategi perusahaan sebagai perusahaan yang beroperasi sendiri (single operation). Baik buruknya perusahaan juga sangat bergantung pada kondisi pesaing. Sebaik apapun strategi perusahaan, kalau pesaing mempunyai strategi yang lebih baik, maka perusahaan kita akan tetap kalah. Sebaliknya sesederhana apapun strategi perusahaan, kalau belum ada pesaing, atau pesaing masih lemah, kita akan menang.

    Indikator-indikator keberhasilan yang selama ini digunakan mungkin akan menghasilkan ukuran yang bias. Ukuran-ukuran tingkat laba, pertumbuhan, dan rasio keuangan lain yang dijadikan standar keberhasilan berdasarkan pada penelitian akademis yang berjangka panjang, sehingga sering mengabaikan beberapa kondisi bisnis dan ekonomi yang bergelombang. Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, ukuran-ukuran itu akan membiaskan bahkan menyesatkan manajemen dalam mengambil sebuah keputusan yang cepat dan tepat. Apalagi kalau keputusan ini harus mengubah strategi atau haluan perusahaan.

    Mengukur Ketepatan Strategi
    Dengan demikian, daripada hanya terfokus pada perubahan strategi yang akan mengotak-atik input, mari kita kenali beberapa output yang mengukur ketepatan strategi dalam masa turbulensi ini. Yang pertama adalah apakah strategi perusahaan telah memberikan maximum value pada perusahaan?

    Menghasilkan laba yang maksimum bukan ukuran yang terpenting. Laba maksimum dapat dihasilkan dengan mengabaikan beberapa biaya yang berdampak jangka panjang, atau melewatkan aktivitas operasional yang tidak berdampak jangka pendek, atau malah mengabaikan hak-hak dan kesejahteraan karyawan. Oleh karena itu, maximum value harus diukur dari keseluruhan aspek perusahaan, seperti peningkatan nilai perusahaan, kesejahteraan karyawan, kesejahteraan masyarakat sekitar, dan kesejahteraan bangsa.

    Value tidak hanya sekedar laba, ataupun ukuran-ukuran keuangan lainnya, value creation akan terlihat perubahannya apabila ada perbaikan pada input, kelancaran proses, kemudahan akses, edukasi dan riset kepada masyarakat, yang kesemuanya akan menghasilkan value perusahaan yang komprehensif. Sebaliknya strategi cost reduction yang mengabaikan keluaran, akan membahayakan bahkan menggagalkan capaian kinerja perusahaan, akan menggiring kearah efisiensi yang semu, sehingga berpotensi mengurangi kualitas hasil maupun penurunan pelayanan.

    Yang kedua adalah apakah strategi didefinisikan secara jelas asal sumber daya yang akan menghasilkan value perusahaan? Sering kali kita jumpai, dalam kondisi ketidakpastian ini, manajemen menetapkan suatu strategi dan ukuran keberhasilannya yang terlampau tinggi tanpa memperhitungkan sumberdaya yang dimiliki ataupun yang dikuasai. Akibatnya, ketika strategi itu dijalankan perusahaan kekurangan sumber daya, sumberdaya yang dimiliki tidak cukup atau bahkan tidak dapat menjalankan strateginya karena memang sumberdaya tersebut tidak terkuasai.

    Perusahaan harus jujur menilai keunggulannya. Keberanian manajemen dalam mengakui keunggulannya secara jujur akan mengurangi potensi kegagalan dalam menjalankan strateginya. Kemampuan manajemen dalam melihat dan menempatkan keunggulan perusahaan akan menghasilan pengelolaan usaha yang efisien dan efektif. Sebaliknya, ketidakmampuan mengukur dirinya sendiri (perusahaan) akan membawa perusahaan mengikuti arus turbulensi sehingga menyedot energi dan sumberdaya yang banyak di perusahaan.

    Demikian pula, perusahaan harus mampu melihat kemampuan yang unik/ istimewa (special capabilities) dari perusahaannya, contohnya: lokasi yang strategis, lahan yang subur, produk yang unik, teknologi dan inovasi yang tidak dapat ditiru. Yang utama, manajemen harus mampu mengoptimalkan special capabilities untuk menghasilkan value bagi perusahaan. Bagaimana menonjolkan special capabilities, dan mengemas serta mengkomunikasikan ke masyarakat membutuhkan suatu ketrampilan tersendiri.

    Banyak ahli mengatakan bahwa dalam masa turbulensi, strategi perusahaan yang paling tepat adalah menaiki gelombang perubahan itu sendiri (riding the wave). Ukuran yang ketiga adalah apakah strategi perusahaan mampu mengikuti trend yang sedang terjadi, atau malah berlawanan dengan gelombang perubahan. Banyak strategi menyebabkan perusahaan kehilangan kesempatan. Kemampuan memprediksi perubahan dan mengetahui pusat perubahan itu sendiri akan membantu perusahaan dalam mengarahkan strateginya, namun demikian kecepatan pengambilan keputusan itu yang terpenting karena pesaing akan siap mencuri kesempatan yang kita punya.

    Ketika menghadapi banyak rintangan, atau ketidakpastian yang tinggi, manajemen sering menahan keputusan untuk menjalankan strateginya, dengan harapan menunggu badai reda, dan ketika badai sudah reda ternyata kesempatan itu telah diambil perusahaan lain. Dan sering tidak disadari bahwa perusahaan telah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk menciptakan strategi tersebut, keterlibatan SDM sudah cukup besar, atau bahkan akan mengecewakan harapan stakeholders.

    Keberanian menciptakan bisnis transisi juga akan membantu perusahaan pada saat kondisi ketidakpastian yang tinggi. Selain strategi ini akan membawa perusahaan bertahan dalam mengarungi badai, sering kali hal ini akan mengagetkan para pesaingnya sehingga mampu menarik perhatian masyarakat. Yang harus diperhitungkan adalah jangan sampai bisnis sementara yang diciptakan ini justru menyerap sumber daya perusahaan yang tinggi dengan hasil yang tidak sebanding.

    Yang terakhir adalah apakah strategi perusahaan mampu menyeimbangkan antara komitmen dan fleksibilitas. Pada masa yang tenang, komitmen yang tinggi, yang menghasilkan program yang rigid dan detail akan memudahkan perusahaan mengimplementasikan strateginya. Namun, pada masa turbulensi yang tinggi, komitmen yang rigid ini sering kali tidak dapat memanfaatkan informasi baru atau bahkan kesempatan yang datang. Oleh karena itu, manajemen perlu menyiapkan ruang agar setiap level manajemen mampu mengeksekusi kesempatan yang datang.

    Fleksibititas harus dikaitkan dengan kemampuan secara akurat membaca perubahan dan memanfaatkan kesempatan. Proses learning terus menerus harus diciptakan oleh perusahaan dengan melibatkan seluruh level manajemen. Perubahan akan dapat dideteksi oleh semua lini, dan kesempatan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh perusahaan.

    Halo Effect
    Halo effect adalah ukuran-ukuran keberhasilan yang palsu / keliru oleh karena adanya keluaran / hasil yang bias. Hasil yang bias yang dikarenakan adanya perubahan faktor eksternal akan membuat suatu strategi kelihatan unggul. Namun demikian, itu adalah semu, terkena goncangan sedikit, kinerja itu akan cepat menurun. Kadangkala, manajemen akan beralasan penurunan itu disebabkan karena kondisi lingkungan yang berubah, padahal hal ini disebabkan karena halo effect yang terjadi yang membuat perusahaan kelihatan “cantik”.

    Halo effect yang sering terjadi pada perusahaan adalah kenaikan volume penjualan, kenaikan profit, meningkatnya minat konsumen, dan lain-lain. Apabila hal ini terjadi, maka perusahaan akan dipuji seperti memiliki pemimpin yang visioner, memiliki strategi yang tepat, memiliki kompetensi yang unggul, dan sebagainya, sehingga menjadi buah bibir masyarakat kalangan industry yang sama.

    Halo effect berpotensi membawa kerusakan, karena akan melenakan manajemen dalam mengendalikan perusahaan, kecenderungan mengkompromikan data sehingga quality control menjadi bias, menggerus pengukuran kinerja yang sesungguhnya, sampai pada terlalu prematur untuk berpuas diri. Ketika ada goncangan sedikit yang mengakibatkan kinerja perusahaan jatuh, akan terjadi kecenderungan saling menyalahkan.

    Bagaimana menghilangkan pengaruh halo effect ini? Pada saat ada kenaikan kinerja perusahaan, maka harus ditelusur kembali apakah keberhasilan ini memang hasil dari implementasi strategi, ataukah ada faktor keberuntungan dari luar. Pada saat ini kesuksesan dan kegagalan suatu perusahaan bukan hanya disebabkan oleh aksi perusahaan itu sendiri, tetapi juga dari aksi perusahaan pesaing. Dibutuhkan kejujuran dan keikhlasan manajemen untuk mengakui apakah kinerjanya disebabkan oleh halo effect atau karena jerih payahnya sendiri.

    Pada akhirnya, tidak ada formula strategi apapun yang mampu menjamin kesuksesan suatu perusahaan. Untuk menjalankan strategi yang telah ditetapkan, yang pertama manajemen perlu memahami fundamental perubahan yang terjadi, pengaruh perubahan itu pada perusahaan dan kapabilitas internal yang dimiliki. Kemampuan dan kecepatan menyesuaikan diri inilah yang akan menggerakkan perusahaan mengarungi gelombang perubahan.

    (Dwi Aryani Suryaningrum | LPPCom vol. 18 no.1- 02-16)

Leave a reply

Cancel reply