• In a VUCA World

    VUCA adalah adalah akronim yang pada awalnya digunakan oleh militer Amerika untuk menggambarkan kondisi ekstrem di Afganistan dan Irak yang menggambarkan situasi volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Dalam dunia bisnis VUCA dapat digambarkan sebagai perubahan dunia bisnis yang amat cepat karena pengaruh politik, ekonomi, sosial, teknologi, ekologi dan lingkungan. Revolusi digital mengubah cara berpikir, cara hidup, cara kerja, dan cara berkomunikasi kita, dan kita akan sangat sulit memprediksi perkembangan apa lagi yang akan terjadi pada masa yang akan datang (Daniele Pigni, 2015).

    Perubahan dan perkembangan yang pesat di bidang teknologi, telekomunikasi, transportasi dan turisme berdampak sangat mendasar pada perekonomian dan hubungan ekonomi antar bangsa. Pergerakan barang dan jasa serta faktor-faktor produksi bagaikan arus air yang mengalir deras ke segala arah di dunia. Berikutnya kita semakin akrab dengan kata globalisasi yang menggambarkan dunia tanpa batas (borderless world), meski sebenarnya globalisasi bukanlah fenomena baru dalam sejarah peradaban dunia. Perdagangan dan migrasi antar benua sebenarnya telah lama berlangsung, sejak masa nenek moyang kita. Jauh sebelumnya, perdagangan regional telah membuat interaksi antar suku bangsa terjadi secara alamiah (Faisal Basri dalam Friedman, 2006).

    Thomas L. Friedman dalam bukunya The World is Flat membangunkan kita agar lebih sigap memahami dan menyikapi realitas baru. Bahwa konsekuensi logis dari dunia yang semakin datar adalah begitu banyak industri yang homogen dan dengan harga yang cenderung sama di seluruh dunia. Hal senada disampaikan oleh CEO GE Indonesia, Handry Satriago, yang menyatakan bahwa saat ini kita berada dalam surplus society yaitu masyarakat yang sangat mudah menjadikan industri yang homogen. Teknologi yang ada saat ini membuat suatu perusahaan begitu mudah merekayasa kembali suatu produk dan memproduksinya. Sulit bagi sebuah perusahaan untuk benar-benar merahasiakan hak milik intelektualnya, karena begitu mudah perusahaan lain mencontoh sebuah produk, memproduksi, serta mendistribusikannya. Kondisi ini tentu membutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk tetap memiliki daya saing dan menjadi ’’pemenang’’pada sebuah bisnis.

    Dunia yang Terus Berubah dan Penuh Ketidakpastian
    Penelitian Andrew Day dan Kevin Power (2009) yang dilakukan pada 50 orang executive dan senior manager menemukan bahwa pengalaman yang dirasakan para pemimpin perusahaan yang terlibat langsung dalam turbulensi dan ketidakpastian yang bermula dari krisis ekonomi dunia adalah perubahan yang terjadi sangat dramatis, lebih cepat, dan unpredictable. Hal ini,sangat berbeda dengan pengalaman yang mereka rasakan sebelum-sebelumnya dalam memimpin perusahaan. Mereka merasa bahwa proses bisnis, perencanaan rutin, dan sistem yang ada dalam organisasi kehilangan kredibilitasnya dalam memenuhi tuntutan produk dan jasa yang berubah secara dramatis. Para pemimpin ini merasakan kecemasan yang tinggi pada perusahaan yang dipimpinnya akibat perubahan cepat yang tidak terprediksi dan krisis yang terjadi. Pada situasi seperti ini, terdapat berbagai pertanyaan sulit dan menantang bagi pemimpin perusahaan yaitu bagaimana saya memahami apa yang sedang terjadi di pasar? Bagaimana dunia bisnis berubah dan akan seperti apa ke depannya? Apa dampaknya bagi bisnis yang dilakukan? Risiko dan peluang apa yang ada? Dan pertanyaan terpenting adalah apa yang seharusnya dilakukan untuk merespon situasi perubahan ini?

    Secara umum, respon dalam menghadapi perubahan yang cepat dan tak pasti adalah ’diam’, tidak melakukan perubahan, karena dengan tetap melakukan sesuatu sesuai dengan kebiasaan yang selama ini dijalankan paling tidak, orang akan mendapatkan perasaan aman. Sebenarnya hal ini adalah perilaku naluriah. Sama seperti saat seekor rusa saat tertangkap sorot lampu pemburu, dalam situasi ketidakpastian tersebut maka reaksi pertama rusa adalah tidak bergerak, karena diam inilah yang dianggap aman. Saat memulai bangkit dari krisis keuangan tahun 2008, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat cenderung ragu-ragu untuk berinvestasi dan cenderung tidak segera bergerak melakukan sesuatu yang signifikan (Jonathan Berman, 2015). Lalu benarkah ’diam’ adalah tindakan yang tepat bagi seorang pemimpin dalam merespon perubahan yang dramatis dan terus berlangsung ini? Tentu tidak. Karena saat seorang pemimpin diam maka perlahan-lahan organisasi yang dipimpin akan semakin tertinggal dari pesaing akhirnya berujung pada terpuruknya organisasi. Lalu bagaimana pemimpin harus beradaptasi?

    Risiko terbesar dalam situasi VUCA, adalah diam dan tidak melakukan sesuatu (David W, 2014). Hal ini, sejalan dengan sebuah qoute yaitu: “If you don’t walk today, you have to run tomorrow”. Menurut saya, dalam konteks apapun quote tersebut benar adanya, karena saat kita tidak berjalan maka kita akan tertinggal dari yang lain dan jika kita tidak ingin semakin tertinggal maka kita harus berlari untuk mengejar ketertinggalan. Dalam konteks perubahan dunia bisnis yang penuh turbulensi dan ketidakpastian kita dituntut untuk tetap bergerak melakukan sesuatu, segera menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi daripada sekedar diam dan merasa masih aman berada dalam situasi statusquo.

    Mengembangkan Kapasitas Pemimpin dalam Mengelola VUCA
    Dunia bisnis telah berubah dengan karakteristik perubahan yang amat cepat, discontinyu, dan multi tafsir/ambigu. Hal ini adalah konsekuensi dari ekonomi global dan sistem sosial yang memiliki keterhubungan dengan kompleksitas yang tinggi. Oleh karena dibutuhkan respon yang kreatif, inovatif, dan adaptif. Merujuk pada hasil penelitian Andrew Day dan Kevin Power (2009) maka learning & development center suatu organisasi/perusahaan harus membantu pemimpin untuk mengembangkan:

    1. Kemampuan berpikir dengan perspektif ekologis mengenai peran organisasi mereka yang saling terhubung dan saling tergantung di luar lingkup kepentingan ekonomi yang biasa. Kemampuan ini perlu dibangun, mengapa? Mari kita lihat ilustrasi berikut bahwa keterhubungan dan saling tergantungan ekonomi sebuah negara dengan negara lain dalam berbagai sektor sangat kompleks. Hal ini menyebabkan apa yang terjadi di sebuah negara akan berdampak dan dirasakan di negara lain, yang mau tidak mau berdampak pada organisasi/ perusahaan. Yang paling mudah kita lihat saat ini adalah sebelumnya tidak ada pemimpin perusahaan minyak yang memprediksi bahwa harga minyak dunia akan dibawah US$100 per barel tetapi kenyataannya saat ini harga minyak dunia menyentuh US$37 per barel dan ini menyebabkan negara-negara penghasil minyak mengalami kerugian. Secara umum, daya beli pada negara-negara penghasil minyak menurun maka pasokan barang dan jasa ke negara tersebut pasti akan berkurang, hal ini berdampak pada perusahaan negara-negara lain sebagai pensuplai. Jika pemimpin perusahaan tidak mampu melihat keterkaitan dan pola perubahan antar sektor maka akan terlambat mengantisipasi dan hal ini sangat berisiko. Mengembangkan pemahaman mengenai bagaimana hubungan antar bisnis, antar sektor dan melihat pola perubahan antara sektor adalah hal yang mendasar agar dapat melakukan antisipasi dan peluang lebih cepat. Perspektif ekologis menuntut pemimpin bekerja dengan fenomena beragam yang merepresentasikan interaksi individu, organisasi, masyarakat, dan konteks budaya dan lingkungan. Pemimpin perlu mengembangkan kemampuan untuk melihat bagaimana perusahaan terlibat dalam hubungan yang kompleks, tidak dapat diprediksi, paradoks, dan rekursif. Ecological thinking menuntut seorang pemimpin untuk melihat pola dan hubungan antara sektor, pasar, pelanggan, pemasok, dan masyarakat dan lingkungan yang lebih luas dimana organisasi/ perusahaan menjadi bagian, meningkatkan hubungan kerjasama dengan suplier dan pelanggan sehingga dapat saling bertukar cara pandang dan pengalaman, mempercayai intuisinya sebaik saat ia menggunakan kemampuan analisisnya, mengeksplore kemungkinan-kemungkinan bagaimana lingkungan dapat berubah, mempertanyakan strategi dan tindakan jangka panjang untuk keberlangsungan ’’ekosistem’’ yang lebih luas yang mendukung eksistensi organisasi.
    2. Kemampuan membantu orang lain untuk memiliki pemahaman mengenai kejadian dan perubahan cepat yang dialami bersama. Dalam situasi turbulensi dan lingkungan yang tidak dapat diprediksi, pemimpin harus mampu menciptakan strategi yang membantu karyawan mendapatkan makna atas pekerjaan mereka dan memungkinkan tindakan kolektif dan koheren. Pemimpin perlu terlibat dalam melakukan refleksi atas pengalaman bersama tersebut dan mendorong karyawan untuk melakukan tindakan yang mengarah pada tujuan yang sama. Agar karyawan dapat memiliki pemahaman yang sama atas pengalaman perubahan yang dihadapi maka pemimpin perlu memfasilitasi dialog antara individu dan kelompok dalam organisasi, sehingga melibatkan karyawan untuk sharing pemahaman dari sudut pandang masing-masing. Sepanjang proses interaktif tersebut diharapkan muncul pemahaman dan makna baru yang menjadi dasar untuk beradaptasi secara kreatif dan bertindak mengantisipasi risiko dan mendapatkan peluang-peluang baru. Dalam proses mengarahkan orang lain untuk mendapat pemahaman ini menuntut pemimpin untuk: membuat ruang bagi tim untuk dapat berbagi pengalaman dan berefleksi mengenai apa yang mereka lihat dan bagaimana perubahan interaksi mereka dengan stakeholder, memunculkan keingintahuan mengenai asumsi dan hal-hal terkait organisasi (termasuk peran, tujuan, dan cara kerja), menghubungkan individu dan kelompok lintas fungsi dan profesi, menumbuhkan insight pada pelanggan dan pasar untuk menginformasikan desain produk, aktivitas operasional, dan pelayanan pada pelanggan. Pada proses interaktif ini, pemimpin diharapkan dapat mendorong orang lain untuk belajar lebih cepat dari pesaing yang mengarah pada perubahan perilaku yang mendukung, fokus pada isu yang lebih besar, dan mempersiapkan diri untuk mengeksploitasi berbagai kemungkinan peluang yang mengejutkan (Jonathan Berman, 2015). Dengan demikian memungkinkan organisasi untuk lebih fleksibel dalam merespon perubahan yang terjadi. Organisasi lebih percaya diri dalam mengambil risiko bukan karena organisasi memiliki lebih banyak keunggulan, namun mereka dapat segera mengambil langkah tertentu ketika keputusan yang diambil salah. Mereka mampu belajar dari kesalahan dan segera memperbaikinya.
    3. Kemampuan memahami dan bekerja secara konstruktif dengan situasi kecemasan akut yang dipicu oleh berbagai turbulensi dan perubahan yang amat cepat dan tidak dapat diprediksi. Kecemasan karyawan mengenai kemungkinan kehilangan pekerjaan akibat situasi yang tidak menentu yang dikomunikasikan dari individu ke individu atau dari satu kelompok ke kelompok lain dan menjadi rumor dapat meningkatkan tingkat kecemasan. Dalam situasi ini, secara psikologis orang akan mengurangi tingkat kecemasannya dengan mengulang respon yang pada masa lalu memberikan keberhasilan. Apa yang dilakukan ini membuat frustrasi karena respon yang sama tersebut saat ini tidak memberikan hasil karena semua disekelilingnya telah berubah. Atau respon lain pada kecemasan yang lebih buruk adalah saat individu atau kelompok mulai menyalahkan dan menyerang orang lain untuk membuat dirinya tetap memiliki citra diri yang positif, namun ’merugikan’ orang lain. Pemimpin memainkan peran penting untuk memberikan dukungan pada karyawan agar mereka tidak terlalu terpengaruh dengan kecemasannya. Pemimpin perlu membantu karyawan untuk mengidentifikasi apa perubahan yang dapat dilakukan, menumbuhkan harapan, dan tidak menyalahkan orang lain, namun mendorong daya juang bersama dan saling mendukung serta mengambil tanggung jawab bersama sehingga ada perasaan yang lebih aman, karena dalam situasi kecemasan individu membutuhkan sosial support dari lingkungannya. Pemimpin yang mampu menciptakan kebersamaan ini akan membantu karyawan mengelola ketakuan dan kecemasannya. Hal ini menuntut pemimpin untuk mampu berempati dengan kekhawatiran, kebingungan, dan mungkin rasa marah karyawan, dan membantu mereka untuk memanfaatkan energi dibalik emosi mereka. Untuk melakukan hal ini pemimpin harus terlebih dahulu mampu mengelola emosi mereka dan memiliki toleransi yang tinggi pada kecemasan. Hal ini dapat dikembangkan melalui pengalaman hidup ataupun proses belajar melalui action learning dan executive coaching.

    Kesimpulan
    Pada masa depan pemimpin organisasi dihadapkan pada turbulensi dan kondisi yang penuh ketidakpastian. Hal ini membutuhkan pemimpin yang dapat mengambil langkah yang tepat dan sesuai dalam mengelola lingkungan bisnis yang berkarakteristik volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Menurut penelitian yang dilakukan Andrew Day dan Kevin Power, terdapat tiga kapasitas yang harus dibangun seorang pemimpin dalam menghadapi karakteristik VUCA yaitu kemampuan berpikir dengan perspektif ekologis, kemampuan membantu orang lain untuk memiliki pemahaman mengenai kejadian dan perubahan cepat yang dialami bersama, dan kemampuan memahami dan bekerja secara konstruktif dengan situasi kecemasan.

    Perubahan terus berlangsung dan kita akan sangat sulit memprediksi perkembangan apa lagi yang akan terjadi di depan sehingga ada baiknya kita mengikuti apa yang disampaikan Aristotles ’’Kita harus belajar dengan cara melakukan sesuatu, karena meskipun kita berpikir kita tahu, kita tidak memiliki kepastian hingga kita mencobanya’’. Berani mencoba, berani salah, berani belajar dan memperbaikinya.

    (Feby Dwiardiani, Psikolog | LPPCom vol. 18 no.1- 02-16)

Leave a reply

Cancel reply