• Jebakan Hedonic Treadmill

    Artikel Psikologi oleh Zakaria E. Bahar – LPP Kampus Yogyakarta

    Di dalam sebuah fitness center seringkali  ditemukan sebuah alat yang bernama Treadmill. Sebuah alat olahraga yang digunakan dengan cara berlari/jalan di tempat, sehingga sebanyak apapun langkah yang kita lakukan, kita akan tetap berada di tempat yang sama. Dewasa ini Treadmill telah banyak masuk di dunia kerja dan menjangkiti banyak pegawai kantoran, yaitu Hedonic Treadmill Syndrome. Tentu saja treadmill yang di sini bukan sebuah alat fitness, akan tetapi suatu keadaan yang dapat disebut sebagai sebuah “gangguan psikis” jika tidak mampu mengatasinya.

    Istilah Hedonic Treadmill pertama kali di kemukakan oleh Brickman dan Campbell (1971). Hedonic Treadmill adalah sebuah tendensi level emosi kebahagian seseorang yang cenderung kembali kepada keadaan asal, tidak berubah, tetap atau berada di tempat meskipun mencapai kesuksesan maupun terlanda musibah. Oleh Michael Eysenck konsep tersebut disempurnakan menjadi sebuah teori tentang pencarian kebahagiaan yang diibaratkan seperti  seseorang yang sedang berada dalam sebuah treadmill, yang akan terus berjalan namun tetap berada tempat yang sama. Hedonic Treadmill secara umum ditunjukkan bahwa kebahagiaan jangka panjang (long term happiness) secara signifikan tidak dipengaruhi oleh hal-hal di luar diri.

    Menurut teori ini, seseorang yang mendapat promosi  jabatan/kenaikan gaji, maka akan meningkat pula harapan dan keinginannya akan rasa “bahagia”, sehingga ia akan terus mengejar materi-materi baru secara tidak berkesudahan, di mana hal ini mengakibatkan tidak adanya peningkatan kebahagian secara permanen, rasa “bahagia” atau “puas” hanya sesaat saja dirasakan untuk kemudian kembali kepada keadaan asal. Secara gampangnya, seorang karyawan dengan income 3 juta merasa gundah karena menganggap gajinya tidak cukup, namun ketika gajinya dinaikkan menjadi 10 juta-pun, ia akan tetap merasa kegundahan yang sama. Mengapa? karena ekspektasi akan rasa “bahagia”nya menjadi berubah / meningkat seiring peningkatan kemampuan diri / income. Seolah olah berada dalam sebuah treadmill, kebahagiaan tidak maju-maju dan stagnan di tempat. Contoh di atas, ketika seorang karyawan bergaji 3 juta, ekspektasinya akan transportasi adalah sepeda motor, ketika bergaji 10, ia memilih mobil minibus, ketika bergaji 50 juta ia memilih mobil mewah, dan seterusnya. Rasa bahagianya hanya sesaat setelah membeli mobil saja.

    Pada dasarnya, rasa bahagia/puas pada manusia adalah sebuah emosi yang merupakan fitrah Tuhan. Manusia diberi kecerdasan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan luar. Oleh karena itu, manusia akan terus beradaptasi seiring perubahanan dunia luarnya. Tuhan membekali kemampuan beradaptasi dan ambisi tidak berujung untuk kebaikan manusia sendiri, karena jika tidak, maka sepanjang sejarah manusia, akan puas tinggal di dalam gua, berburu hewan, tidak akan tercipta listrik, komputer, kendaraan dan lain-lain. Tanpa hal ini, bisa jadi manusia akan punah, karena nenek moyang kita tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan.

    Penelitian pada seorang pemenang lotere sebesar sekian juta dollar, ketika enam bulan kemudian dilacak kebahagiannya, ternyata level kebahagiaanya adalah SAMA seperti sebelum memenangkan undian. Pada sebuah eksperimen sederhana tentang rasa bahagia, apa yang membuat anda BENAR BENAR BAHAGIA ….misalnya dijawab “mendapat undian 1 Milyar !” …

    Apakah jika mendapat 2 M tidak menjadikan anda bahagia? apakah melihat anak diwisuda dengan Cumlaude tidak menjadikan anda bahagia? Lalu apa yang membuat anda BENAR BENAR BAHAGIA?

    Penelitian lainnya pada seorang atlet yang ingin bermain di Liga Pro, namun karena cedera parah memaksanya pensiun dini dari dunia olah raga dan kemudian beralih mendalami seni misalnya, setelah beberapa waktu diukur dan diketahui jika level  kebahagiannya adalah sama jika ia menjadi pemain di Liga Pro!

    Perasaan benar-benar bahagia? Setengah bahagia? agak bahagia? Pura-pura bahagia? Semua dapat diketahui diantaranya dari refleks dan keadaan emosi  seseorang. Di dalam Psikologi, pasti tidak akan lepas dari Psikometri, yaitu suatu metode untuk menguji validitas alat ukur psikologis. Sehingga dapat diketahui  secara sahih keadaan emosi/psikologis seseorang  tersebut karena Psikometri juga bertujuan untuk menemukan dan mengeliminasi bias suatu pengukuran. Secara psikometri, penelitian-penelitian terkait Hedonic Treadmill di atas, diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan pada rasa bahagia yang berhasil dicapai, sehingga keadaan ini banyak menjebak orang untuk terus “mengejar kebahagiaan” semu yang diibaratkan seperti berada dalam sebuah treadmill, terus bergerak namun tetap ditempat.

    Kajian di atas, terdapat fakta bahwa sekalipun keadaan eksternal menekan dan mempengaruhi bahkan mengubah kehidupan seseorang (misal menang lotre/kena musibah), maka untuk sesaat emosi (bahagia/sedih) akan naik secara drastis, untuk kemudian berangsur akan kembali pada titik stabil karena “kebahagiaan” relatif berada pada keadaan yang konstan. Sesungguhnya hal ini adalah fitrah bagi manusia untuk bangkit dan mengadaptasi ancaman untuk mencapai  kebahagiaan. Yang menjadikan masalah adalah, ketika fitrah “pencarian kebahagiaan” tadi menjadi tidak berujung, menjadi berlebihan dan menutupi tujuan awal dari fitrah untuk survive dengan beradaptasi terhadap perubahan.

    Jebakan yang lainnya adalah, manusia sangat fasih untuk beradaptasi ke arah yang positif (promosi, naik gaji, dll) namun tidak terbiasa beradaptasi ke arah perubahan yang negatif. Ketika hal negatif terjadi, dengan Ego Defenxe Mechanism-nya manusia akan mengeluh dan menyalahkan lingkungan daripada mencari jalan keluarnya. Contoh nyata saat ini adalah ketika penjualan turun, pasar sedang lesu, dan lain-lain lebih mudah menemukan orang yang menyalahkan sesuatu di luar dirinya (misalnya) pasar saham yang turun, naiknya dollar, karyawan malas, pasar dikuasai China, dan lain sebagainya dibanding mereka-mereka yang struggle mencari jalan keluar.

    Namun yang terpenting adalah untuk terlepas dari jebakan Hedonic Treadmill adalah moral dan perasaan cukup. Banyak orang yang terjebak Hedonic Treadmill karena lalai memberi “makan psikisnya” karena terkadang bukan materi (harta) yang membahagiakan kita, tetapi bisa jadi sekedar aktifitas sederhana namun sarat dengan emosi-emosi positif, seperti segelas coklat panas dari istri di pagi hari, menyaksikan pentas anak di sekolahnya atau memberi sebuah bantuan sederhana kepada orang lain.

    — Sumber: Majalan LPPCom Vol.17 – No. 2 November 2015 —

Leave a reply

Cancel reply