• Gaya Kepemimpinan Blusukan

    Oleh Esmet Untung M.- LPP Kampus Yogyakarta

    Yang namanya pemimpin, gampang menjadi perhatian media. Apapun yang dilakukan pemimpin bisa jadi berita koran yang menarik. Termasuk gaya Pak Jokowi yang suka keluar masuk kampung dan mendatangirakyat alias blusukan. Dari blusukan itu Pak Jokowi mendapat banyak pembelajaran dari rakyat yang didatangi. Bisa jadi itu keluhan kepada pemerintah,bisa harapan, saran bahkan sumpah serapah. Meski demikian banyak hal yang positif yang bisa dipetik dari blusukan itu. Salah satu diantaranya adalah menjalin silaturahmi dengan rakyat yang dipimpinnya.Pada kondisi normal tentunya sangat susah bagi anak buah yang berharap menemui pimpinannya. Bisa dibayangkan betapa susahnya seorang rakyat kecil yang hendak ketemu pak Jokowi. Banyak prosedur dan protokoler yang harus dilalui. Ujung-ujungnya dan kesimpulannya sulit sekali untuk ketemu pimpinan.Hubungan pemimpin dan rakyat bisa diibaratkan hubungan antara ibu jari tangan (jempol) dengan kelingking. Kalau jempol adalah analogi dari pemimpin maka jari kelingking adalah ibarat rakyat. Kalau tidak percaya lakukan exercise ini. Silahkan anda luruskan jari-jari tangan anda. Kemudian cobalah si kelingking mendekatkan dirinya ke ibu jari. Susah bukan? Dan kelingking mustahil bisa mendekati ibu jari kalau ibu jarinya tidak mau (menjauh). Ini berbalikan, bila yang mendekati adalah ibu jari tangan, maka kelingking pasti bisa didekati, bahkan meskipun jari kelingking mencoba menghindar. Artinya, kedekatan pemimpin dengan rakyat akan terjadi bila pemimpin yang menghendaki.

    Silaturahim adalah kata kuncinya Kata orang bijak silaturahmi bisa memperlancar rejeki,memperbanyak kawan, membuat sehat serta membuat umur panjang. Khusus untuk yang terakhir ini beredar cerita lucu. Suatu saat malaikat pencabut nyawa hendak mencabut nyawa seseorang yang senang bersilaturahmi. Sampai di rumah orang tersebut sedang silaturahmi. Malaikat jadi batal mencabut nyawanya. Lain hari malaikat datang lagi. Lagi-lagi orang tersebut sedang silaturahmi. Begitu terus kejadiannya. Akhirnya orang yang suka bersilaturahmi tidak jadi dicabut nyawanya. Itulah sebabnya orang yang suka bersilaturahmi diberi umur panjang oleh Tuhan.

    Silaturahmi adalah konsep ketimuran. Tentu saja aplikasinya di lapangan sangat cocok dengan kondisidan situasi bangsa Indonesia termasuk sangat cocok diterapkan di perkebunan. Beberapa manajemen perusahaan perkebunan menerapkan silaturahmi. Setiap bulan Ramadhan tiba, Direksi membuat jadwal safari tarawih ke kebun serta unit usaha yang dikelolanya. Semua anggota direksi muslim inilah yang bersafari keliling ke luar masuk kebun. Tentu saja tidak hanya melakukan ibadah puasa dan tarawih yang penting.

    Stephen Covey dalam bukunya Seven Habits of Highly Effective People menyebutkan empat aspek dalam kehidupan manusia yang harus terus menerus diasah.Keempat aspek itu adalah aspek fisik, aspek mental,sosial dan spiritual. Safari tarawih meningkatkan keempat aspek sekaligus dengan titik berat untuk meningkatkan aspek spiritual. Kesadaran aspek spiritual akan menghasilkan sumber daya manusia yang tahu visi dan misi hidupnya serta mampu memberi makna kepada organisasi dan sesamanya.PTP Nusantara III (Persero) sangat peduli dengan peningkatan aspek spiritual ini. Sebagai rasa syukur atas tercapainya sasaran, perusahaan mengirim karyawan untuk menunaikan ibadah haji atas biaya dinas. Tiap tahun ada 5 orang muslim yang dipilih dengan kriteria yang transparan. Penganut agama Kristen juga diberi kesempatan untuk mengikuti ziarah rohani atas biaya perusahaan.

    Safari tarawih dimaksudkan untuk meningkatkan aspek spiritual. Tetapi tentu bukan hanya itu tujuan bersafari tarawih. Ada beberapa keuntungan lain yang diperoleh manajemen dengan bersafari tarawih.Sangat berbahaya melihat masalah dari belakang meja, sebuah ungkapan yang sangat dipercaya. Tidak mengherankan bila banyak waktu yang digunakan direksi untuk berkeliling mengunjungi kebunkebunnya. Dan hal itu pulalah yang membuat jajaran manajemen di bawahnya sering kalang kabut karena gaya direksi. Memang direksi pasti memberi tahu lebih dahulu tentang kunjungannya ke kebun. Bawahan tentu saja ingin menghadirkan kesan yang baik di mata direksinya. Sehingga merekapun mengatur kunjungan-kunjungan ke afdeling atau blok yang relatif bagus. Tetapi direksi bukan orang bodoh, yang selalu mengikuti cara yang disiapkan bawahannya. Bisa saja direksi justru minta mengunjungi daerah yang tidak dipersiapkan pimpinan kebun atau unit. Dari kunjungan itulah direksi kemudian tahu betul-betul fakta di lapangan. Ia tidak segan-segan memperingatkan pimpinan kebun yang membuat kesalahan.

    Sebaliknya ia juga dengan senang memberi pujian kepada pimpinan kebun yang bagus kinerjanya. Dalam konteks manajemen modern direksi telah menerapkan apa yang dinamakan Management by Wandering (Walking) Around yang secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai Manajemen Dengan Berjalan Berkeliling alias blusukan. Memang MBWA tidaklah sepopuler dibanding dengan Management by Objectives (MBO), Manajemen Mutu Terpadu (MMT) atau Management by Exception (MBE) pada masa-masa kepopulerannya. Meskipun kurang begitu populer, banyak perusahaan terkemuka di Amerika Serikat mengakui menggunakan MBWA untuk mengelola perusahaannya. Perusahaan Hewlett Packard (HP), merupakan perusahaan komputer yang percaya pada MBWA. Tidak terkecuali United Airlines,IBM, Boeing, Johnson and Johnson menerapkan MBWA. Di Indonesia MBWA diterapkan dengan baik sekali oleh PT Pembangunan Jaya pimpinan Ir. Ciputra. Meskipun teori MBWA menjadi terkenal di tahun 1980–1990an, di subsektor perkebunan MBWA sudah diterapkan secara meluas di onderneming-onderneming milik Belanda sebelum nasionalisasi perkebunan 1957. Ada pameo yang mengatakan:”Baik buruknya kebun tergantung pada kaki administratur” membuktikan hal itu. Makna pemeo itu jelas. Apabila para pimpinan sering ber-MBWA di wilayahnya, maka kebun atau pabrik yang dipimpinnya akan maju.

    Inti dari MBWA adalah penekanan akan pentingnya komunikasi informal untuk mengelola perusahaan dan bukannya dengan jenjang birokrasi yang rumit. Perusahaan merupakan jaringan komunikasi informal yang terbuka bagi semua karyawan. Komunikasiinformal memungkinkan semua orang saling mengadakan kontak satu sama lain secara teratur. Dengan komunikasi informal yang baik maka semua orang dapat saling membuka diri, melakukan evaluasi bersama dan saling belajar satu sama lain. Dengan demikian akan tumbuh forum koreksi yang sehat,karena banyak kritik dapat dilontarkan dan berbagai kesalahan operasi dapat dibahas bersama.

    Di Balik Blusukan Kunci MBWA adalah berjalan-jalan dan berkeliling. Kegiatan utamanya hanya berjalan-jalan meninjau proyek atau pusat produksi, atau kebun. Tapi di balik wandering around-nya sang manajer, banyak sekali fungsi manajer dan pemimpin yang dapat dipetik untuk kemajuan perusahaan.

    Memperluas Jangkauan Komunikasi
    Dengan kunjungan langsung ke lapangan baik pada jam kerja maupun jam lembur, maka karyawan lapis bawah mempunyai kesempatan untuk bertatap muka dan secara langsung dapat mendengar petunjuk-petunjuk yang diberikan pimpinan. Hal ini akan memberikan motivasi tersendiri bagi mereka. Sangatlah tidak adil bila hanya karyawan yang bekerja di kantor dan pada waktu jam kerja saja mereka dapat melihat dan bertemu muka dengan pimpinan. Padahal untuk menggenjot produksi, karyawan yang kerja pada shift I, II sampai shift III tak kalah pentingnya.

    Memperoleh Informasi Pertama (First Hand Information)
    Seorang manajer yang baik haruslah seorang pendengar yang baik pula. Ketika ia langsung inspeksi ke proyek atau kebun, kemungkinan besar ia akan memperoleh laporan tentang sesuatu yang terjadi di perusahaannya. Laporan itu ada saja yang menyenangkan dan seringkali merupakan masalah yang harus segera dipecahkan. Tak jarang manajer dituntut untuk memecahkan masalah on the spot pula. Dengan turun ke lapangan maka para manajer yang umumnya mempunyai wawasan yang lebih luas dapat memberikan pengarahan atau petunjuk yang berguna untuk kemajuan perusahaan. Tanpa kunjungan langsung para bawahan akan cenderung menyimpan masalah, karena mereka yakin bahwa mereka akan dapat memecahkanmasalah itu sendiri. Mereka khawatir kalau laporan yang tidak baik mengenai kebun yang mereka kelola dapat mempengaruhi dan menurunkan nilai kredibilitas mereka sebagai orang yang diserahi tanggung jawab di wilayah itu. Sebagai akibatnya laporan yang sampai di atas hanya laporan yang baik-baik saja untuk membuat atasan senang (ABS). Budaya ABS akan sangat membahayakan perusahaan apabila para asisten atau mandor tidak mampu memecahkan masalah yang disimpan tadi. Karena keterlambatan pemecahannya, masalah kecil tadi bisa menjadi masalah besar yang dapat merugikan ratusan juta bahkan milyaran rupiah.

    PengawasanDengan MBWA maka penyimpangan dapat dikendalikan secara maksimum. Bawahan tak perlu tahu kapan atasannya akan muncul di kebun untuk mengadakan peninjauan. Sebagai tindakan berjaga-jaga mereka akan bekerja sebaik mungkin. Kecurangan dan pencurian haruslah mendapat hukuman yang setimpal. Kultur kerja yang bersih mestinya merupakan budaya perusahaan yang harus dijunjung tinggi oleh semua karyawan dan pihak manajemen. Perencanaan Terkadang ide perencanaan datang pada waktu peninjauan di lapang. Tidak jarang pula perencanaan yang sudah dibuat terpaksa direvisi sebagai hasil peninjauan di lapang ini. Agar rencana lebih pas, tidak ada jeleknya bila rapat atau perencanaan dilakukan ”on the spot” sambil ber”wandering around” di proyek atau gedung.

    Kesehatan jasmani
    Betapa menjemukannya duduk terus menerus dibelakang meja dengan berbagai permasalahan perusahaan yang menumpuk. Fisik dan pikiran tentu akan cepat lelah. Sebagai akibat duduk dan kurang gerak sendiri dapat mengundang berbagai penyakit dan menurunkan kesegaran jasmani seperti obesitas (kegemukan), bosan, wasir, stress, jantung koroner, tekanan darah tinggi dan lain-lain. Dengan ber-MBWA keluar kantor akan memberi kesegaran, dan situasi udara segar akan mengusir kebosanan dan stress. Berjalan merupakan olah raga yang baik sekali untuk mengurangi kegemukan, resiko sakit jantung dan tekanan darah tinggi.

    Ada Sejak Zaman Majapahit
    Kalau kita melihat sejarah, sebenarnya MBWA sudah diterapkan oleh Raja Hayam Wuruk yang memerintah Majapahit sejak tahun 1350 s.d 1389, pada masa itulah Majapahit mencapai masa keemasannya. Daerah kekuasaannya meliputi hampir seluas Indonesia sekarang ini.

    Menurut kakawin (baca: kitab) Nagarakartagama karya Mpu Tantular, sebagai Raja Hayam Wuruk sangat memperhatikan rakyat dan daerah kerajaannya. Raja ini senang mengadakan perjalanan yang ratusan kilometer untuk menemui punggawa dan rakyatnya. Pada awal tahun 1351 tercatat perjalanan Hayam Wuruk ke Pajang, ke Lasem pada tahun 1354 dan ke berbagai daerah selatan (Lodaya) di tahun 1357, kemudian ke Lumajang pada tahun 1359, dan daerah Tirib serta Sempur pada tahun 1360. pada tahun 1363 Hayam Wuruk mengunjungi Simping sambil meresmikan candi yang baru saja diselesaikan. Di antara tahuntahun di atas, raja juga sering ber”wandering around” ke daerah yang dekat dengan pusat kerajaan. Pada tahun berkunjung ke berbagai daerah itu, raja selalu menyempatkan diri bertatap muka dengan rakyatnya. Kepada rakyat atau punggawa yang berbakti pada kerajaan diberi tanah perdikan.Banyak keputusan penting yang dibuat raja pada waktu ber-MBWA. Diperintahkannya pembuatan bendungan dan saluran pengairan, serta pembukaan tanah baru untuk perladangan. Untuk memecahkan masalah transportasi antar daerah, diperintahkannya pembuatan penyeberangan di berbagai tempat.Semua ini terjadi karena adanya komunikasi informal raja dengan rakyatnya saat raja mengunjungi daerah kekuasaannya. Nampaknya Raja Hayam Wuruk merupakan raja yang kurang begitu percaya akan laporan yang dibuat punggawanya. Raja lebih suka melihat sendiri daerahnya dan berdialog dengan rakyatnya. Hasil yang dicapai dari usaha itu sungguh menakjubkan: rakyat makin hormat dan mencintai rajanya.

    — Sumber: Majalan LPPCom Vol.17 – No. 2 November 2015 —

Leave a reply

Cancel reply