• Prediksi Harga Komoditas Perkebunan Penghujung 2015

    Oleh: Budi Rahardjo, LPP Kampus Yogyakarta.

    Saat ini kondisi perekonomian dunia sedang dalam situasi pertarungan nilai mata uang, dimana Tiongkok mendahului melakukan devaluasi CNY (ChiNese Yuan) sampai dua kali sebelum Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan tingkat suku bunga USD (United State Dollar), sehingga banyak negara yang merasakan dampak naiknya nilai Super Dollar Amerika terhadap seluruh mata uang di dunia, tak terkecuali IDR (Indonesia Rupiah) juga keok. Indonesia sendiri sudah mengalami kesulitan sejak Triwulan satu tahun ini dengan defisit Neraca Perdagangan dan lambatnya pertumbuhan ekonomi bahkan serapan anggaran Pemerintah baik Pusat maupun Daerah masih rendah, sehingga roda perekonomian belum dapat berputar sesuai harapan.

    Sektor infrastruktur yang digadang-gadang menjadi penggerak perekonomian ternyata belum bergerak kecuali kegiatan ground breaking yang telah dilaksanakan di beberapa tempat.

    Sektor pertanian dan pertambangan selama 2 tahun ini cenderung bearish yang ditunjukkan harga-harga saham kedua sektor tersebut yang terus menurun bahkan saat sektor lain meningkat. Komoditas ekspor utama Indonesia sektor pertambangan batu bara dan sektor pertanian minyak sawit yang pernah menjadi primadona dengan pertumbuhan yang menjanjikan, bahkan indeks kedua sektor tersebut pernah mengalahkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kini juga merosot. Penurunan devisa nilai ekspor negara kita tidak dapat dipungkiri karena turunnya harga komoditas minyak sawit dan batu bara yang merupakan ekspor andalan Indonesia. Dalam artikel ini penulis mencoba memproyeksikan harga-harga komoditas perkebunan, khususnya CPO, karet alam, gula tebu, kopi, dan kakao berdasarkan harga historis 3 tahun terakhir di bursa-bursa yang memperdagangkan komoditas bersangkutan.

    Proyeksi Harga CPO

    CPO diperdagangkan di bursa Rotterdam dan MDEX Kuala Lumpur, yang data harga historisnya selama 5 tahun terakhir terlihat seperti Grafik 1. Harga tertinggi CPO selama 4 tahun terakhir terjadi pada tahun 2012 yaitu USD1,195.00/ton di Rotterdam dan MYR3.650,00/ton di MDEX Kuala Lumpur.

    Berdasarkan data tersebut yang merupakan data harga penutupan harian selama 4 tahun terakhir (2012-2015), dapat dibuat proyeksi harga berdasarkan Analisis Teknikal. Proyeksi harga komoditas CPO di

    Rotterdam untuk tahun 2015 berkisar antara USD490.00 sampai dengan USD680.00 per ton, sedangkan di MDEX Kuala Lumpur harga CPO 2015 berkisar antara MYR1.867,00 sampai dengan MYR2.320,00 per ton.

    Proyeksi Harga Karet Alam

    Karet alam diperdagangkan di bursa TOCOM Tokyo dan SICOM Singapore, yang data harga historisnya di TOCOM selama 5 tahun terakhir terlihat seperti Grafik 2. Harga tertinggi karet terjadi pada tahun 2011 yaitu PY528.00/kg di TOCOM dan USD579.70/kg di SICOM.

    Berdasarkan data tersebut yang merupakan data harga penutupan harian bursa TOCOM dan SICOM selama 5 tahun, dapat dibuat proyeksi harga berdasarkan Analisis Teknikal. Proyeksi harga komoditas karet alam di TOCOM Tokyo untuk tahun 2015 berkisar antara JPY154.00 sampai dengan

    JPY226.00 per kg, sedangkan di SICOM Singapore untuk tahun 2015 berkisar antara USD125.00 sampai dengan USD163.70 per kg. Berdasarkan moving average kecenderungan harga karet alam mengalami rebound di bulan September.

    Proyeksi Harga Gula Tebu

    Gula diperdagangkan di bursa ICE (International Commodity Exchange), NYBOT (New York Board of Trade) dan LTE (London Terminal Exchange), yang data harga historisnya di NYBOT selama 5 tahun terakhir terlihat seperti Grafik 3. Harga gula tebu dunia tertinggi pada tahun 2011 yaitu USD876.30/ton di London dan USD35.31/pon di New York.

    Berdasarkan data tersebut yang merupakan data harga penutupan harian bursa ICE dan NYBOT selama 5 tahun, dapat dibuat proyeksi harga berdasarkan Analisis Teknikal. Proyeksi harga komoditas gula di London untuk tahun 2015 berkisar antara USD333.60 sampai dengan USD407.30 per ton dan di New York berkisar antara USD15.33 sampai dengan USD10.59 per pon. Berdasarkan moving average kecenderungan harga gula masih menurun (bearish) di akhir 2015.

    Proyeksi Harga Kopi

    Kopi diperdagangkan di bursa NYBOT (New York Board of Trade) dan LTE (London Terminal Exchange), yang data harga historisnya di NYBOT selama 5 tahun terakhir terlihat seperti Grafik 4 berikut. Harga tertinggi kopi selama 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2011 yaitu USD306.50 per pon.

    Berdasarkan data tersebut yang merupakan data harga penutupan harian bursa NYBOT selama 5 tahun,dapat dibuat proyeksi harga berdasarkan Analisis Teknikal. Proyeksi harga komoditas kopi di NYBOT untuk tahun 2015 berkisar antara USD103.45 sampai dengan USD196.40 per pon. Berdasarkan moving average kecenderungan harga kopi masih bearish di akhir 2015.

    Proyeksi Harga Kakao

    Kakao juga diperdagangkan di bursa NYBOT (New York Board of Trade) yang data harga historisnya di selama5 tahun terakhir terlihat seperti Grafik 5. Harga tertinggi Kakao selama 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2011 yaitu ¢USD3,733.00 per ton.

    Berdasarkan data tersebut yang merupakan data harga penutupan harian bursa NYBOT selama 5 tahun, dapat dibuat proyeksi harga berdasarkan Analisis Teknikal. Proyeksi harga komoditas kakao di NYBOT untuk tahun 2015 berkisar antara USD2,695.00 sampai dengan USD3,380.00 per ton. Berdasarkan moving average kecenderungan harga kakao masih naik (bullish) di akhir 2015.

    Penutup

    Dengan kondisi perekonomian dunia yang masih penuh dengan ketidakpastian karena perang mata uang yang dilakukan Tiongkok dan kenaikan suku bunga yang direncanakan the FED (Bank Sentral Amerika Serikat), maka banyak pelaku bisnis global mulai menarik dananya keluar dari bursa Indonesia; yang berdampak pada pelemahan mata uang kita IDR.

    Sementara itu dengan kecenderungan harga komoditas perkebunan yang menurun dalam tahuntahun terakhir ini (kecuali Kakao) akan memberatkan pelaku bisnis perkebunan dalam menjalankan usahanya. Namun dengan adanya kebijakan pemerintah dalam membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan untuk Dana Pengembangan Sawit (CPO Supporting Fund) yang akan diarahkan untuk pengembangan Bio Diesel dan Peremajaan Kebun (replanting), maka pasokan CPO Indonesia di pasar dunia akan berkurang karena digunakan untuk bio diesel sehingga harga CPO di Bursa Dunia diharapkan akan kembali meningkat. Semoga peluang tersebut benar-benar terjadi dan dapat dimanfaatkan.■