• Pengembangan SDM Pariwisata

    Oleh: Indi Printianto

    Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan diberlakukan pada tahun 2015 memaksa setiap negara anggota ASEAN harus siap menghadapi persaingan usaha dan pergerakan SDM antar negara ASEAN. Demikian juga halnya yang akan terjadi pada industri pariwisata. Meskipun kita yakin bahwa dari aspek sumber daya alam dan budaya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai tempat tujuan wisata, karena kita memiliki banyak keunggulan dari aspek alam dan budaya sebagai daya tarik wisata yang tidak dimiliki oleh negara tetangga, namun pengalaman membuktikan bahwa Indonesia masih kurang dalam kemampuan untuk mengemas dan melayani wisatawan. Oleh karena itu, kunci utama untuk menghadapi dan memenangkan persaingan dalam Era MEA terletak pada kesiapan sumber daya manusia.

    Sebagaimana disyaratkan dalam UU No. 9 Tahun 2010, tentang Kepariwisataan, sertifikasi kompetensi dan sertifikasi usaha menjadi suatu keharusan. Namun kadang dilupakan bahwa pariwisata adalah bisnis pelayanan (hospitality industry) sehingga bila kita membahas tentang kompetensi ada hal yang lebih mendasar yang harus diperhatikan di samping kompetensi teknis yaitu adanya soft competency yang terdiri atas kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient – IQ), kecerdasan emosi (Emotional Quotient – EQ) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient– SQ), yang memandang sumber daya manusia secara utuh.

    PARADIGMA BARU PARIWISATA

    Pariwisata pada awalnya lebih dipandang sebagai kegiatan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi semata. Padahal, jika dipahami dari sudut pandang yang lebih luas, pariwisata adalah fenomena perjalanan manusia baik secara individual maupun kolektif, dengan berbagai macam motivasi dan tujuan yang melibatkan berbagai macam keperluan. Oleh karena itu, belakangan ini aspek nilai dan etika mulai diperhatikan dalam pembangunan pariwisata, bukan hanya sekedar aspek ekonomi.  Di kalangan ahli pembangunan mulai muncul wacana bahwa pembangunan sesungguhnya adalah untuk manusia sehingga manusia merupakan pusat dan penggerak, sekaligus untuk siapa pembangunan tersebut dilakukan, sesuai dengan konsep people-centered development.

    Kajian pariwisata yang menyangkut persoalan manusia dengan masyarakat, manusia dengan alam, dan bahkan manusia dengan Tuhan, menjadi paradigma baru dalam pengembangan pariwisata, hal ini menyangkut berbagai alasan:

    • Pariwisata bukanlah suatu kegiatan yang berada di ruang hampa namun bersentuhan langsung dengan hidup dan kehidupan
    • Pariwisata bersifat sangat dinamis dan kreatif
    • Pariwisata tidaklah eksklusif, dalam arti bahwa pariwisata tidak hanya menyangkut suatu bangsa tertentu.
    • Pariwisata selalu mempertemukan dua atau lebih kebudayaan yang berbeda.

    Berdasarkan paradigma baru dalam pengembangan pariwisata tersebut di atas maka aspek manusia baik sebagai wisatawan (visitors) maupun sebagai tuan rumah (host) menjadi sangat penting untuk menunjang keberhasilan pengelolaan daerah tujuan wisata.

    PEMAHAMAN MANUSIA SEUTUHNYA

    Manusia dikarunia Tuhan Yang Maha Kuasa potensi luar biasa berupa pikiran yang perlu dikelola dengan baik. Dalam pikiran tersebut ada dua hal yang melandasi yaitu pikiran yang negatif dan positif. Dalam kehidupan nyata sifat positif dan negatif tersebut tercermin dalam perbuatan baik dan buruk. Pikiran yang dapat terkelola dengan baik akan berdampak positif dalam kehidupan, orang yang cerdas mempunyai kelebihan dalam mengolah dan menggunakan informasi yang terekam dalam otaknya.

    Akan tetapi dalam kehidupan tidak hanya cukup dengan kecerdasan otak (Intelektual Quotient disingkat dengan IQ), perlu diseimbangkan dengan kecerdasan emosional (Emotional Quotient disingkat dengan EQ), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient disingkat dengan SQ). Sehingga dengan pengelolaan pikiran yang seimbang terhadap ketiga kecerdasan tersebut yaitu IQ, EQ, dan SQ maka kehidupan yang diharapkan oleh semua orang atau suksesnya seseorang dalam berkarir akan mudah didapatkan.

    Kecerdasan intelektual (IQ) adalah ukuran kemampuan menggunakan logika untuk menganalisis permasalahan. Kadang disebut juga sebagai kecerdasan otak, yaitu kemampuan untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi data.

    Kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan mengenali perasaan sendiri dan perasaan orang lain,kemampuan memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri & orang lain. Kecerdasan emosional menyangkut bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia (habluminannas) yang kadang disebut sebagai hubungan horisontal.

    Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti & menerima makna pada apa yang dihadapi dalam kehidupan, sehingga seseorang akan memiliki arah dalam menghadapi persoalan hidup. Kecerdasan spiritual menyangkut bagaimana hubungan manusia dengan alam semesta (habluminallah) yang kadang disebut sebagai hubungan vertikal.

    Kecerdasan spiritual atau yang biasa dikenal dengan SQ (spiritual quotient) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif. SQ merupakan fasilitas yang membantu seseorang untuk mengatasi persoalan dan berdamai dengan persoalannya itu. Ciri utama dari SQ ini ditunjukkan dengan kesadaran seseorang untuk menggunakan pengalamannya sebagai bentuk penerapan nilai dan makna. Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik akan ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bersikap fleksibel dan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, mampu menghadapi penderitaan dan rasa sakit, mampu mengambil pelajaran yang berharga dari suatu kegagalan, mampu mewujudkan hidup sesuai dengan visi dan misi, mampu melihat keterkaitan antara berbagai hal, mandiri, serta pada akhirnya membuat seseorang mengerti akan makna hidupnya

    Orang sukses tidak hanya cukup dengan kecerdasan intelektual tetapi juga perlu kecerdasan emosional dan spiritual agar merasa gembira, dapat bekerja dengan orang lain, punya motivasi kerja, dan bertanggung jawab.

    Keunggulan dalam menghadapi persaingan bisnis pariwisata dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN, di samping dari aspek sumber daya alam dan budaya, yang tidak kalah pentingnya adalah dari aspek sumber daya manusia yang menjadi pengelola dan pelaku bisnis.

    Aspek yang mendasari untuk manusia bekerja dengan baik dan benar adalah soft competency (kompetensi lunak) dan hard competency (kompetensi keras/teknis)

    — Sumber: Majalah LPPCom Edisi Khusus Vol 17 No. 1 Februari 2015 [Pengembangan SDM Pariwisata, Berbasis Hubungan Manusia Seutuhnya] —