• LSP Perkebunan Nusantara

    Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi Perkebunan Nusantara (LSPPN).

    Lembaga yang diketuai Zulkifli Zein tersebut menjadi Pusat Sertifikasi Profesi Sumber Daya Manusia Industri Perkebunan.

    Demikian diungkapkan Khairunnisa, sekretaris LSPPN di Yogyakarta, Selasa (9/6). Lembaga ini dipersiapkan untuk menghadapi penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan diberlakukan akhir 2015 mendatang.

    Dijelaskan Khairunnisa, industri perkebunan terus menerus menghadapi perubahan. Agar dapat terus berkembang, berdaya saing, dan berkiprah di dunia internasional, industri perkebunan memelihara dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya.

    Standarisasi kompetensi, pendidikan formal dan informal, serta sertifikasi profesi menjadi sangat penting. “Sertifikasi profesi bertujuan memastikan SDM perkebunan memenuhi standar kompetensi profesi yang telah disepakati bersama seluruh pemangku kepentingan industri perkebunan,” kata Nisa.

    Selain itu, kata Nisa, juga untuk memastikan kompetensi SDM terus terpelihara melalui surveillance atau sertifikasi ulang secara berkesinambungan. Sehingga kompetensi dan kualitas SDM perkebunan selalu terjaga.

    Saat ini, kata Nisa, LSPPN sedang menjalani  pengajuan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). “LSPPN mengajukan dua skema sertifikasi yaitu ‘Asisten Kebun Kelapa Sawit’, dan ‘Asisten Kepala Kebun Kelapa Sawit.’

    Skema sertifikasi mengacu pada standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) kedua jabatan tersebut dari Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Kemenakertrans).

    “Ke depan setelah mendapatkan lisensi dari BNSP, LSPPN akan mengembangkan berbagai skema sertifikasi untuk menjangkau seluruh okupansi jabatan dan level manajemen di industri perkebunan,” katanya.

    Perkebunan di Indonesia, kata Nisa, membentang luas dari Sabang sampai Merauke dan pengelolaannya melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan data BPS tahun 2014, perkebunan kelapa sawit memiliki luas terbesar yaitu 10.956.231 hektare. Disusul perkebunan kelapa seluas 3.631.814 hektare dan karet seluas 3.616.694 hektare.

    Satu kebun kelapa sawit, kata Nisa, terdiri 600 hingga 1.000 hektare, maka pekerja tetap dan kontrak sebanyak 250-300 orang. Karena itu, jika luas perkebunan kelapa sawit 6 juta hektare maka tenaga kerja yang terserap sebanyak 1,2 juta tenaga kerja. “Mereka harus memiliki sertifikasi agar bisa bersaing di era MEA,” tandasnya.

    — Sumber: REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA —