• Kecerdasan Vs Norma

    Oleh: Zakaria EB, S.Psi, M.Psi, Psi, LPP Kampus Yogyakarta

    Antara “Kecerdasan berkreasi” VS Norma standard …

    Kisah di bawah ini mungkin sering pembaca dengar, sebuah kisah “lucu” yang diceritakan para praktisi HRD. Kisah ini terjadi pada sebuah perusahaan besar dalam negeri yang sedang melakukan proses rekrutmen. Dengan jumlah pelamar yang terbilang besar, sekitar 2000-an pelamar kerja, yang pada akhirnya hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan tersebut, karena jawaban yang diberikan pada pertanyaan di bawah ini.

    Jawaban yang diberikan kandidat tersebut sebenanya sederhana yang memproyeksikan idenya, namun terkesan sangat “nyeleneh”, sangat “cerdas” dan yang terpenting jawaban tersebut diluar perkiraan para Psikolog dan Praktisi HRD yang ada dalam kepanitiaan rekrut tersebut. Berikut kasus dalam tes tersebut:

    Jika Anda sedang terburu-buru mengendarai sepeda motor pada larut malam dan dalam kondisi hujan. Di tengah jalan Anda melihat 3 orang sedang menunggu kedatangan angkot:

    1. Seorang nenek tua yang sangat lapar.
    2. Seorang Dokter (karena mobil mogok) yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya.
    3. Pujaan hati yang selama ini spesial bagi Anda.

    Anda hanya bisa mengajak 1 orang untuk dibonceng, siapakan yang akan Anda ajak? jelaskan mengapa Anda melakukan itu

    (jawaban “kreatif” sang kandidat akan penulis berikan diakhir tulisan)

    Untuk persoalan di atas sebenarnya yang ingin dilihat para para psikolog adalah bagaimana reaksi dan sudut pandang Anda terhadap permasalahan karena semua jawaban Anda adalah benar, namun bagaimana Anda menuangkan ide Anda ke dalam suatu pernyataan walaupun para assessor/psikolog tetap berpegang kepada “rumus”/norma standard yang berlaku ketika “menilai” jawaban yang Anda berikan.

    Sebagai Psikolog, penulis sering menemukan kesalahkaprahan mengenai kompetensi yang penulis geluti. Misalnya ketika seorang sarjana psikologi lolos dalam suatu psikotest, maka rekan-rekan akan berkata: “Ya jelas lulus dong, orang psikologi”..namun ketika mendengar seorang sarjana psikologi yang tidak lolos suatu psikotest, maka rekan-rekannya pasti berkata “Bodoh kali dia, psikotest saja tak lulus”!! masalahnya adalah tidak se-simple itu, akan tetapi terkait dengan bagaimana kesesuaian diri kita, orisinalitas diri kita terhadap pemahaman suatu realita/kasus yang dihadapi.

    Dalam psikotest, sering kali dikaitkan dengan kecerdasan, nyatanya psikotest tidak hanya terkait dengan kcerdasan saja, namun dapat terkait dengan pengukuran kompetensi, talenta, kesesuaian seseorang dengan Job Requirement, menganalisa kelemahan/ kekuatan, dll. Semuanya tetap dibingkai dalam sebuah kacamata kecenderungan manusia. Nyatanya semua disiplin ilmu (termasuk Psikologi) pastilah mempunyai “pakem”, norma, standard, aturan atau apapun itu untuk menjaganya tetap dalam kaidah ilmiah. Pakem, norma dan standard yang pada awalnya menjaga agar suatu ilmu tetap berada dalam kaedah ilmiah dan akademis, ternyata sedikt banyak juga mempengaruhi para praktisi yang berada di dalamnya menjadi “terkunci” karena menjadi kurang kreatif karena terlalu terikat dengan baku mutu dari pakem maupun norma tersebut.

    Selama kita hidup dan beraktivitas, pastilah menjumpai suatu permasalahan sebagai deviasi antara realita dengan idealisme kita. Sehingga untuk “kecerdasan berkreasi” adalah sangat penting dalam suatu Problem Solving. Dalam Problem Solving, kita hanya diberi dua opsi untuk berperilaku, hanya meniru dari ide-ide/pengalaman yang sudah ada sebelumnya atau menciptakan suatu yang baru, dengan alat yang bernama Kreatifitas. Jika di Jepang ada istilah Kaizen, maka di tanah Jawa ada kata-kata yang terkait dengan kreativitas, yaitu Niteni (Memperhatikan), Niroke (menirukan) dan Nambahi (memberi nilai tambah/improvement). Jadi apakah kreativitas itu? kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dari yang telah ada atau sama sekali baru baik berupa fisik maupun abstrak seperti ide, gagasan, pola pikir, dsb.

    Anda pasti sering mendengar mengenai berpikir diluar kerangka/kotak (Think out of box), yaitu bagaimana Anda berpikir diluar kelaziman yang ada. Dengan kata lain bagaimana Anda dituntut untuk selalu mengasah ketajaman otak Anda dalam menghadapi perubahan zaman (yang direpresentasikan sebagai masalah) dan sesungguhnya itu adalah salah satu cara bagaimana Anda mempresentasikan serta menjual siapa diri Anda sebenarnya. Salah satu kunci utamanya adalah bagaimana Anda mampu berfikir secara kreatif, mampu melihat dari sisi yang berbeda. Parameter yang ada disini adalah bagaimana Anda melihat suatu keadaan yang tidak jelas “Uncertain/Unperfectly Condition” untuk dikemudian dicari jalan keluarnya sehingga Anda terpacu untuk ber-improvisasi dan berinovasi dengan segala daya upaya, karena kreativitas terkait dengan orisinalitas jawaban Anda dalam menghadapi suatu permasalahan. Maka jadilah orang yang memiliki kecerdasan berkreasi dengan memberikan orisinal Anda untuk memupuk kesuksesan Anda.

    Kembali kepada persoalan di atas, mengapa jawaban kandidat tersebut diluar perkiraan para psikolog, karena jujur saja sesungguhnya jawabannya yang sederhana itu berada diluar rumus/pakem/standard/norma atau apapun itu, namun intinya adalah sebuah jawaban yang SANGAT CERDAS. Berikut adalah jawaban sang kandidiat yang akhirnya lolos rekrutment.

     

     

    —————————————————————————————–
    “Saya akan memberikan kunci motor saya kepada dokter yang sudah menyelamatkan hidup saya dan meminta dia untuk membawa nenek tua tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal di sana (dalam mobil mogok sang dokter) dengan seseorang spesial saya untuk menunggu angkot.”

    — Sumber: Majalah LPPCom Edisi Khusus Vol 17 No. 1 Februari 2015 —

1Comment
  • Posted by lukman hakim on 05/10/2015 at 14:08

    istimewa

    Reply

Leave a reply

Cancel reply