• Bio Ethanol dari Ampas Tebu

    Oleh: Rifai Rahman Saputro

    Bio-ethanol generasi pertama (1st generation bio-ethanol) adalah bio-ethanol yang dibuat dari bahan komoditas pangan, misalnya : gula, jagung, singkong dan sebagainya. Sedangkan bio-ethanol generasi kedua (2nd generation bio-ethanol) merupakan jenis bio-ethanol yang dibuat dari bahan non komoditas pangan, misalnya : kayu, jerami, ampas tebu dan biomassa lignoselulosa lainnya. Riset dan aplikasi produksi bio-ethanol generasi kedua telah banyak dilakukan di berbagai negara sebagai upaya untuk menyediakan bahan bakar alternatif tanpa menggunakan bahan komoditas pangan.

    Produksi bio-ethanol dari biomassa lignoselulosa, termasuk ampas tebu, dapat dilakukan dengan 2 proses pilihan, yaitu secara thermokimia dan secara biokimia. Pilihan proses thermokimia secara umum meliputi dua tahapan utama, yaitu gasifikasi dan dilanjutkan dengan konversi gas yang dihasilkan menjadi bio-ethanol. Sedangkan proses biokimia meliputi tahapan hidrolisis selulosa dan hemiselulosa menjadi monomer gula penyusunnya, fermentasi gula menjadi bio-ethanol, dan terakhir adalah destilasi serta dehidrasi untuk menghasilkan bio-ethanol fuel grade. Produksi bio-ethanol dari ampas tebu dengan menggunakan pilihan proses biokimia membutuhkan 2 agensia utama, yaitu : mikrobia penghasil enzim selulase dan yeast. Saat ini untuk mempercepat proses, enzim selulase sintetik telah digunakan untuk menggantikan mikrobia penghasil selulase.

    Pabrik Gula yang terintegrasi dengan pabrik bio-ethanol dan telah melakukan pemanfaatan ampas tebu berlebih untuk produksi ethanol akan memiliki skema produksi bio-ethanol sebagai berikut :

    bio-ethanol-chart

    Di Brazil, ampas tebu berlebih dari pabrik gula telah digunakan untuk kebutuhan kogenerasi dan produksi bio-ethanol. Umumnya di negara tersebut, 6.000 – 7.000 liter bio-ethanol dapat diproduksi dari tetes yang berasal dari tebu 1 hektar. Apabila ampas tebu yang berlebih mulai digunakan untuk bahan baku bio-ethanol, maka produksi bio-ethanol dapat meningkat sampai dengan 12.000 – 15.000 liter per hektar tebu.

    Estimasi peningkatan jumlah produksi bio-ethanol yang cukup signifikan ini membuka peluang potensial bagi pabrik gula untuk memaksimalkan pemanfaatan ampas tebu berlebih menjadi produk bahan bakar alternatif. Dan saat ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk menangkap peluang tersebut, mengingat kemungkinan harga bahan bakar minyak yang masih akan terus meningkat sejalan dengan semakin langkanya minyak bumi. Pabrik Gula anda tertarik untuk menjadi pioner pemanfaatan ampas tebu menjadi bio-ethanol di Indonesia ???

    Rifai Rahman Saputro, LPP Kampus Yogyakarta, Sugar Technology Division

    Sumber: Sugar Knowlede Center