• Sehat Sejahtera Setelah Pensiun

    Oleh: Esmet Untung Mardiyatmo.

    Seorang kawan yang notabene adalah peserta kursus jabatan di LPP menyatakan pengamatannya. Menurut kawan tadi banyak di antara mereka yang tidak dapat menikmati masa tua mereka dengan bahagia. Tidak sedikit dari mereka yang beberapa tahun setelah pensiun menjadi sakit-sakitan, dan tidak jarang kemudian berakhir dengan kematian.

    Ketika saya tanyakan kepadanya apakah dia mempunyai data yang tepat dan akurat tentang berbagai fenomena seperti kapan mereka pensiun, kapan sakit dan kapan mati serta sebab-sebab sakitnya dan sebagainya, kawan tadi menggeleng. “Tetapi perkataan saya tidak mengada-ada”, katanya meyakinkan. “Pak A, pensiun tahun sekian, kemudian meninggal tahun dua tahun setelah pensiun. Pak B pensiun beberapa bulan kemarin, tetapi saya dengar langsung sakit-sakitan. Uang pesangon pensiunnya yang lumayan banyak dilarikan orang. Beberapa waktu kemudian, saya mendengar bahwa pak B telah meninggal.Alias Tuhan telah memensiunkannya untuk selama-lamanya.  Pak C bahkan lebih parah lagi, ketika target yang menjadi bebannya tidak tercapai, Ia meninggal mendadak sebelaum perusahaan memensiunkannya.

    Sayapun maklum bahwa kawan tadi mencoba membeberkan data yang konkrit. Dengan menghubungi Kabag-Kabag SDM di Kantor Direksi pada beberapa PTPN, data yang lebih riil dapat dilacak. Tetapi karena tulisan ini bukan tulisan mengenai hasil penelitian, maka pernyataan kawan saya tadi saya anggap otentik. Apalagi fenomena banyaknya orang yang sakit atau mati setelah pensiun atau menjelang pensiun  sudah menjadi pengetahun umum pula. Bukankah harapan hidup orang Indonesia laki-laki berkisar antara 69 tahun. Berarti mereka belum mencapai umur rata- rata penduduk Indonesioa.

    Lalu apanya yang salah dengan nasib teman teman perkebunan?. Di balik pertanyaannya ada keinginan besar untuk tidak mengalami nasib seperti para seniornya. Tulisan ini ditujukan untuk menjawab pertanyaan kawan saya tadi, serta memberikan saran-saran agar nasib serupa tidak terjadi pada kita semua. Selain itu, semoga tulisan ini menjadi sarana kita berkaca (refleksi) dan menggugah mereka yang mendekati pensiun, motivasi yang sudah pensiun dan mereka yang pensiunnya masih jauh. Orang bijak mengatakan bahwa persiapan terbaik sebaiknya direncanakan ketika seseorang masuk kerja dan ketika ia masih muda.

    Kembali kepada pertanyaan kawan tadi, penjelasan standar yang biasanya diberikan bersangkut-paut dengan post-power syndrome. Biasanya para pejabat dan bukannya karyawan biasa yang rentan terkena syndroma ini. Post-power syndrome adalah suatu sindroma yang diderita oleh orang yang dahulunya punya kekuasaan atau jabatan kemudian menjadi tidak berkuasa setelah memasuki masa pensiun. Bagi banyak orang kehilangan bisa berarti macam-macam. Yang bersangkutan dapat saja merasa dipinggirkan, disingkirkan, dibuang, dijatuhkan, diabaikan serta dilupakan. Mereka beranggapan bahwa penghormatan dan kepatuhan anak buah dapat hilang bersamaan dengan hilangnya kekuasaan. Yang bersangkutan bisa merasa kurang dihormati dan dibutuhkan lagi oleh bawahan, atasan sampai para tetangganya. Yang bersangkutan akan lebih tidak bahagia kalau nilai-nilai yang dianutnya terlalu mendewakan materi, pangkat, derajat dan semat.

    Alasan lain kenapa orang menderita di masa pensiun adalah tiadanya perencanaan di masa muda. Perencanaan harus dibuat sejak dini. Kalau perlu bahkan ketika seorang mengawali karirnya, dia harus sudah merencanakan pensiunnya. Perencanaan pensiun sama pentingnya dengan perencanaan karir, perencanaan pendidikan anak dan peristiwa penting dalam kehidupan. Pensiun adalah suatu peristiwa yang tidak bisa dihindari. Bila hal ini tidak direncanakan kita bisa terperangkap dan tak berdaya lagi mengubah keadaan. Gaya hidup yang ikut arus, kehidupan yang boros, jor-joran di masa masih bekerja di perkebunan  seringkali baru disadari ketika seseorang betul-betul meninggalkan pekerjaan  dengan segala yang dimilikinya. Orang baru sadar bahwa rumah dia belum punya. Ia terlena dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan perusahaan . tetapi saat pensiun, ternyata semua itu bukan miliknya. Sementara itu rumah, kendaraan, telepon yang selama ini dinikmatinya, tiba-tiba terlepas begitu saja. Kondisi ini akan semakin parah bila anak-anaknya belum mentas dan masih memerlukan biaya pendidikan dan sebagainya.

    Hal lain yang membuat orang takut pensiun adalah menurunnya penghasilan. Ini akan berakibat fatal bila yang bersangkutan tidak mau mengubah pola konsumsinya. Mereka yang pada saat pensiun masih suka makan-makan di restoran besar, melihat film-film baru di kota, serta ke tempat-tempat hiburan malam, harus hati-hati dengan pengeluarannya. Bisa-bisa uang pensiun satu bulan hanya cukup untuk 1 minggu.

    Alasan lain yang membuat orang takut memasuki pensiun adalah akan adanya gangguan kesehatan. Usia tua sering diartikan tubuh menjadi makin lemah. Badan menjadi bungkuk, kulit berkeriput dan rambut beruban, pikiran makin pikun. Alat perlengkapan tubuh, seperti ginjal, jantung, paru-paru; sepertinya mesin, semakin tua semakin bekerja tidak optimal. Ketakutan dan keyakinan yang negatif ini malah sering menjadi biang keladi menurunnya kesehatan. Dan tidak jarang ketakutan akan kesehatan yang buruk itu betul-betul menjadi kenyataan. Ketika orang tersebut memasuki pensiun, berbagai keluhan kesehatan muncul.

    Menganggur juga dapat menjadi pembunuh besar setelah seseorang pensiun. Seorang kawan dekat bapak penulis  meninggal setelah 2 tahun mengalami pensiun. Menurut pengamatan penulis, dia sebenarnya selalu sehat pada waktu masih aktif sebagai seorang guru. Ketika memasuki pensiun, dia relatif menganggur. Yang dilakukan tiap hari, selalu rutin, yaitu duduk-duduk di teras rumahnya, minum teh hangat dan merokok. Dia punya langganan penjual soto yang lewat di depan rumahnya pada pukul 10 pagi, selebihnya dia tidak banyak melakukan apa-apa. Secara kasar penulis dapat menyimpulkan sementara itu, bahwa menganggur di masa pensiun tidak baik. Ayah penulis yang saat ini sudah berumur lebih dari 85 tahun tetap segar bugar, melakukan berbagai aktivitas keluarga dan sosial. Orang bijak sering bilang bahwa tubuh dan pikiran yang menganggur adalah rumahnya setan. Tubuh dan pikiran yang menganggur akan mengundang kerusakan mental dan fisik yang mengakibatkan kematian.

    Melihat Masa Pensiun Secara Positif

    Pensiun dan menjadi tua bukanlah sesuatu yang ditakutkan, tetapi perlu disyukuri. Dengan berpikir positif, maka kita akan menjalani masa tua dan pensiun dengan bahagia. Saya punya seorang kenalan yang dapat dijadikan contoh. Tidak seperti orang lain yang banyak mengeluh ketika pensiun, kawan tadi bahkan mengundang kawan-kawannya untuk merayakan hari pensiunnya. “Sementara banyak orang lain yang tidak bisa bekerja sampai usia pensiun (karena fisik lemah) saya bisa tuntas memberikan masa-masa produktif saya kepada perusahaan. Saya bersyukur mampu memasuki pensiun dalam kondisi masih segar bugar”, ucapnya dalam sambutannya. Tidak seperti kawan-kawan yang lain yang bila memasuki pensiun selalu mengeluhkan bahwa penghargaan yang diberikan perusahaan terlalu sedikit dengan jasa-jasanya, kawan saya tadi justru berterima kasih sekali kepada perusahaan. Kawan saya tadi tidak menonjolkan berapa lama dia mengabdi, justru melihat berapa lama perusahaan memberikan nafkah kepada keluarganya. Dia bersyukur bahwa dengan bekerja di perusahaan dia berhasil membesarkan dan mendidik anak-anaknya sampai mereka bekerja dan berkeluarga.

    Rasa syukur telah mentransformasikan dirinya menjadi orang yang menapaki masa tuanya dengan bahagia. Kawan saya tadi tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti perkumpulan pensiunan, olahraga, dan kegiatan keagamaan. Pada usia tuanya dia lebih punya waktu bersama istri yang dicintainya. Mereka berdua sering menghabiskan waktunya mengunjungi anak-anak dan cucunya yang tinggal di tempat-tempat berbeda.

    Menjadi tua bukan berarti bodoh. Jika kita selalu membaca, berpikir dan berkreasi dalam hidup, maka pengetahuan yang kita peroleh akan tetap mengasah inteligensia kita. Robin Maranztz Henig, dalam bukunya How a woman ages menulis bahwa bila diberi kesempatan, maka meskipun umur makin menua inteligensia kita tetap dapat diasah. Kecepatan berpikir dan daya ingat mungkin menurun tetapi kualitas tetap makin baik.

    Menurut profesor psikiatri Dr. George E Vaillant; pada usia tua, mekanisme pertahanan kita terutama kaitannya dengan mengatasi perasaan sulit, makin membaik. Orang berusia muda biasanya menerapkan stategi penolakan dan bereaksi terhadap perasaan yang tidak enak tadi. Orang tua mempertahankan diri dengan humor dan kreativitas. Dan secara emosi orang tua lebih tabah, karena pengalaman pahit seperti kehilangan isteri, kehilangan pekerjaan pernah dialaminya. Dan orang tua membuktikan tetap bisa mengatasi hal tersebut. Para ilmuwan mengatakan bahwa perasaan mudah marah, mudah cemas dan bereaksi impulsif makin menurun sebanding dengan makin bertambahnya usia.

    Menjadi tua tidak identik dengan prestasi yang menurun, seperti yang banyak diyakini banyak orang saat ini. Kolonel Harlan Sanders menemukan resep Kentucky Fried Chickennya setelah pensiun dari dinas tentara. Ayatollah Khomeini berhasil memimpin revolusi Iran justru pada usia tua. Mahatma Ghandhi memimpin barisan protes sepanjang 200 mil menentang Inggris justru ketika dia sudah tidak muda lagi. Marian Hart melakukan penerbangan solo melintasi lautan Atlantik pada usia 84. Nelson Mandela berhasil menjadi Presiden Afrika Selatan pada usia seorang kakek. Sophocies menulis Oedipus setelah 80 tahun, Goethe menyelesaikan Faust juga setelah berumur 80 tahun. Bapak Soedjai Kartasasmita yang dikenal sebagai begawan perkebunan masih aktif sebagai komisaris pada PT Bakrie Sumatra Plantation meskipun  usianya  sudah  mendekati 90 tahun.

    Menjadi tua juga tidak berarti mesti menjadi pengangguran. Tuhan telah menyediakan berbagai kesempatan untuk berkarya. Bahkan bila bosan dengan pekerjaan yang terdahulu, seorang pensiunan bisa memilih pekerjaan yang sama sekali lain. Kesempatan untuk tetap bekerja di usia tua tetap besar, tergantung pada pengetahuan, bakat dan minat yang bersangkutan. Didukung dengan pengalaman dan sikap simpatik, pekerjaan seperti konsultan, pengajar, pendakwah, penulis, politikus tetap terbuka bagi orang-orang tua. Untuk profesi seperti yang disebutkan terakhir usia tua bahkan mempunyai nilai lebih. Berwiraswasta adalah pilihan yang sama menariknya. Mengusahakan agribisnis, membuka bisnis kecil-kecilan seperti toko kelontong, warung makan, mengusahakan asrama, rumah kost dan jasa-jasa layanan umum tidak tertutup kemungkinannya. Dengan tetap bekerja, mereka akan merasa berkontribusi atas sesuatu. Keinginan untuk tetap aktif sekaligus menjadi pendorong kuat tetap untuk hidup, merasakan kegembiraan memperoleh makna hidup dan lain-lain. Impian masa depan dan keinginan-keinginan merupakan motivator terbesar bagi manusia menjalani hidupnya dengan tegar. Ini sesuai dengan salah satu pepatah yang mengatakan “Jika tak ada impian, manusia akan binasa”.

    Sebuah studi membuktikan bahwa orang yang berusia lanjut, orang sakit yang mendekati kematian, seringkali bertahan setelah hari-hari libur. Sepanjang ada yang mereka tunggu seperti berkumpulnya keluarga saat lebaran, natal atau pertemuan keluarga, mereka punya alasan kuat untuk hidup. Tetapi setelah itu berlalu dan orang tak ingin lagi punya keinginan, kematianpun segera menjemput. Fenomena ini terjadi di semua negara tanpa memandang kultur budayanya. Di Cina, tingkat kematian menurun selama terjadi berbagai hari-hari besar, tetapi menaik lagi setelah hari besar usai.

    Bila di desa mempunyai rumah dan tanah, pensiunan dapat pulang ke desa. Mereka bisa mengolah tanah, mengusahakan ternak atau perikanan serta menjalani kehidupan yang sederhana dan lebih sehat. Di desa mereka dapat memperoleh udara yang lebih segar, kehidupan kemasyarakatan yang lebih tulus, serta hidup hemat. Mereka dapat memperoleh makan tanpa perlu bayar, karena bisa mengusahakan sendiri. Dengan masuknya jaringan listrik dan telpon ke desa, demikian juga dengan masuknya jaringan internet ke pelosok negeri  kehidupan di desa dapat memberi kepuasan tersendiri.

    — Sumber: Majalah LPPCom Edisi Khusus Vol 17 No. 1 Februari 2015 —

1Comment
  • Posted by alexander on 07/10/2015 at 06:52

    terima kasih atas tulisannya, mari kita mempersiapkan hidup kita utk terus berkarya sesuai kemampuan yang diberikan sang pencipta sehingga kelak kita dpt mempertanggungjawabkannya dengan benar

    Reply

Leave a reply

Cancel reply