• Burn Out di Tempat Kerja

    Oleh: Elvia Wisudaningrum.

    Pernahkah Anda merasa setiap bangun pagi merasa lelah? Sulit tidur? Tidak antusias saat bekerja? Selalu terpikir pekerjaan meski bukan saatnya bekerja?. Apabila Anda menjawab ya untuk tiga pertanyaan saja, Anda harus mulai waspada, karena hal itu menandakan Anda mulai terserang burn out di tempat kerja. Burn out adalah kondisi karyawan yang disebabkan oleh stres kerja yang berkepanjangan sehingga karyawan tersebut merasa lelah serta kehilangan minat untuk melakukan berbagai aktivitas yang mengakibatkan penurunan kinerja mereka.

    Burn out dapat terjadi pada bidang pekerjaan apapun, dan apabila bidang pekerjaannya terkait dengan pelayanan profesional maka peluang terjadinya akan lebih besar lagi. Munculnya kondisi ini, juga dipengaruhi oleh karakter individu dan juga lingkungan kerjanya. Individu dengan ambang stres yang rendah ditambah lagi  lingkungan kerja yang penuh tekanan, memiliki resiko lebih besar mengalami kondisi burn out. Oleh sebab itu, saat ini organisasi dipandang ikut bertanggung jawab untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif sehingga karyawan terhindar dari resiko kesehatan mental yang buruk di tempat kerja.

    Dr. David Ballard, Psy., yang merupakan Ketua dari The American Psychological Association’s Psychologically Healthy Workplace Program, menyatakan bahwa ada sepuluh tanda yang menunjukkan seorang karyawan mengalami burn out. Tanda-tanda tersebut adalah sebagai berikut :

    • Kelelahan, yang dirasakan di berbagai aspek, baik emosi, mental dan fisik merupakan tanda yang jelas munculnya burn out. Hal ini akan menyebabkan Anda selalu merasa kehilangan energi untuk beraktivitas.
    • Menurunnya motivasi kerja. Anda merasa tidak antusias saat bekerja dan juga merasa kesulitan menggerakkan diri untuk melakukan pekerjaan.
    • Frustrasi, sinis, dan berbagai emosi negatif lainnya. Anda mungkin akan merasa bahwa apa yang Anda kerjakan tidaklah penting, merasa tidak berdaya, dan emosi negatif lainnya. Hal ini perlu diwaspadai apabila Anda menemukan emosi negatif tersebut muncul di luar kebiasaan.
    • Mengalami permasalahan kognitif.  Pada saat stres, perhatian kita akan fokus pada hal-hal yang dianggap mengancam, sehingga kita dapat efektif dalam mengahadapi masalah tersebut. Namun, apabila stres terjadi terus menerus, maka perhatian kita akan terbatas hanya kepada hal yang menyebabkan kita stres sehingga sulit untuk berkonsentrasi ke hal lainnya
    • Menurunnya kinerja. Apabila Anda masih ragu, apakah mengalami burn out atau tidak, coba bandingkan kinerja Anda sekarang dengan kinerja di tahun-tahun sebelumnya. Penurunan kinerja yang berlangsung selama beberapa periode dapat dijadikan pertanda adanya burn out.
    • Bermasalah dengan orang lain baik di rumah maupun di kantor. Terdapat dua kemungkinan, pertama, Anda akan banyak berkonflik dengan orang lain. Kedua, Anda menarik diri, pendiam, malas berbincang dengan orang lain. Bisa jadi, secara fisik Anda ada, namun pikiran Anda melayang entah ke mana.
    • Melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri. Pelarian ke hal-hal seperti merokok, makan lebih banyak junk food atau malah tidak makan sama sekali, tidak bisa tidur sehingga harus menelan obat tidur, bahkan meminum lebih banyak kopi di pagi hari demi untuk memaksa diri Anda untuk bekerja.
    • Selalu disibukkan dengan urusan pekerjaan meski tidak sedang bekerja. Situasi seperti ini akan menguras energi, karena pikiran Anda selalu ke pekerjaan sehingga membuat hidup Anda terokupasi oleh pekerjaan.
    • Menurunnya kepuasan kerja. Hal ini mengarah pada kondisi tidak merasa happy dan puas dengan karir dan kehidupan pribadi Anda. Anda cenderung merasa jenuh, bahkan terhadap kegiatan sosial.
    • Bermasalah di kesehatan. Apabila berlangsung lama, kondisi burn out dapat menjadi hal serius yang akan berpengaruh pada kesehatan, seperti masalah pencernaan, penyakit jantung, depresi, dan juga obesitas.

    Proses burn out berlangsung perlahan, bahkan menurut Mental Health Works, prosesnya terjadi secara bertahap selama dua tahun sebelum mencapai puncaknya. Diawali dengan perasaan antusias terhadap pekerjaan baru, lalu stagnasi karena Anda mulai melihat banyak harapan yang tidak terpenuhi sehingga merasa frustrasi, merasa tidak berdaya, kecewa, dan mudah tersinggung. Perasaan tersebut menumbuhkan apatisme, yang membuat motivasi dan kepercayaan diri hilang, hingga pada puncaknya, Anda merasa putus asa dan meyakini bahwa masa depan Anda menjadi suram dan mengisolasi diri secara sosial, bertindak negatif atau menunjukkan tanda depresi.

    Kondisi burn out  yang seperti itu, otomatis akan mempengaruhi kinerja dan pada akhirnya menurunkan produktivitas perusahaan. Tentunya, bukan ini yang diharapkan oleh semua pihak. Lalu, apa yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi burn out di pekerjaan? Sebelum mengambil langkah penanganan, sebaiknya perlu diketahui bahwa setiap tempat kerja adalah unik, sehingga tidak ada resep sapujagad yang dapat mengatasi seluruh kasus burn out di tempat kerja. Penanganan akan efektif apabila penyebab burn out diidentifikasi terlebih dahulu dan dikontekskan dengan organisasi yang bersangkutan.

    Penanganan burn out sebenarnya dapat dilakukan oleh individu dan organisasi secara terstruktur, massive dan sistematis, sehingga karyawan yang mengalami burn out tidak perlu merasa sendiri dalam mengatasinya. The Workplace Mental Health Promotion mengemukakan, intervensi terhadap burn out di tempat kerja dapat menggunakan tiga pendekatan:

    Person – directed interventions

    Pendekatan ini menargetkan karyawan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bertahan menghadapi stres di tempat kerja. Cara yang diajarkan dapat berupa manajemen stres, relaksasi dan meditasi, kemampuan berkomunikasi secara asertif, pengelolaan waktu dan juga melakukan terapi secara psikologis.

    Apabila Anda merasa mengalami tanda-tanda burn out, Dr. Ballard menyarankan ada baiknya Anda mengambil waktu untuk menikmati relaksasi, mengembangkan kehidupan sosial di luar pekerjaan, kalau perlu, matikan alat komunikasi dan mengeceknya secara berkala saja. Anda juga sebaiknya  memiliki waktu tidur yang cukup, merencanakan jadwal dengan menggunakan prioritas untuk memilah kegiatan yang akan dilakukan. Terakhir, Anda dapat meminta bantuan profesional, seperti psikolog, untuk memperoleh dukungan selain dari keluarga dan teman.

    Organization – directed interventions

    Organisasi dapat berkontribusi mengatasi burn out dengan mengupayakan situasi kerja yang kondusif bagi karyawan. Pendekatan ini biasanya memiliki efek yang lebih lama dibanding person – directed interventions, yang dilakukan sendiri-sendiri. Upaya mengurangi burn out dalam lingkup organisasi dapat dilakukan dengan, pertama, mengendalikan jadwal kerja, beban kerja, dan proses kerja yang berlebihan. Kedua, melakukan komunikasi secara terbuka, meningkatkan kolaborasi dan kepercayan diri karyawan. Ketiga, memberikan pelatihan yang meningkatkan kompetensi karyawan dan memberikan kesempatan untuk pengembangan diri. Keempat, meningkatkan dukungan dari tim kerja, mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, dan menyelaraskan tata nilai karyawan dengan organisasi. Dan yang terakhir, memberikan penghargaan yang sepadan atas kontribusi yang telah diberikan karyawan.

    Comprehensive Approach

    Mengkombinasikan kedua pendekatan baik dari individu maupun dari organisasi, dipandang sebagai cara terbaik untuk mengatasi burn out, karena melihat permasalahan dari seluruh sudut pandang. Penanganan secara komprehensif jelas lebih efektif bila dibandingkan dengan mengatasi masalah hanya dari satu sisi saja.

    Efektivitas dari beragam pendekatan tersebut, sebenarnya ditentukan oleh ketajaman dalam mengidentifikasi stresor yang ada di organisasi. Perlu disadari juga bahwa budaya kerja organisasi turut berpengaruh. Sedikit modifikasi pada budaya organisasi, tidak saja dapat mengatasi gejalanya pada karyawan saat ini, namun juga mampu mengurangi resiko karyawan terkena burn out di masa depan. Kolaborasi yang baik antara karyawan dan organisasi seharusnya dapat menjadi senjata ampuh. Nah, Anda tidak perlu walk out apabila menghadapi burn out, bukan?

    — Sumber: Majalah LPPCom Edisi Khusus Vol 17 No. 1 Februari 2015 —

Leave a reply

Cancel reply