• Pemimpin Pilihan Rakyat

    Oleh: Esmet Untung Mardiyatmo, LPP Kampus Yogyakarta.

    Tanggal 9 Juli sudah usai, demikian pula sidang yang alot di Mahkamah Konstitusi. Pemenang pilpres tetap pasangan Jokowi- Yusuf Kalla, meski dengan kemenangan tipis. Pihak yang kalah pastilah kecewa dengan hasil itu. Maklum saja, untuk memenangkan pilihan sudah banyak tenaga, pikiran dan biaya yang sudah tercurahkan. Sebaliknya pihak yang memang, boleh juga bergembira. Tetapi tugas , tanggung jawab, dan masalah yang dihadapi di masa yang akan datang tidaklah ringan. Kita lihat saja nanti apakah pihak pemenang akan menjadi presiden yang biasa- biasa atau mampu menjadi president yang out of box yang ide dan tindakannya bukanlah yang biasa- biasa yang mencari amannya saja dan berharap semoga lima tahun ke depan dapat dipilih kembali. Sang waktulah yang akan membuktikannya.

    Yang menarik dari Pilpres kali ini, dua pasang calon mempunyai perbedaan kecenderungan yang berarti, yang terkadang sampai seratus delapan puluh derajad perbedaanya.Tulisan berikut lebih membahas dua calon presidennya yaitu Jokowi dan Prabowo. Di akhir tulisan akan disimpulkan pilihan-pilihan yang diputuskan oleh rakyat.

    Satrio Piningit atau Satrio Negoro

    Dalam khasanah kepemimpinan Indonesia dikenal istilah Satrio Piningit. Maksudnya , pemimpin yang disembunyikan oleh sang waktu. Hampir semua presiden Indonesia adalah satrio Piningit. Sukarno, Suharto, Gus Dur, Megawati dan SBY memenuhi gambaran ini. Sosok Satrio Piningit keberadaannya tidak diperhitungkan sebelum akhirnya sang Khalik telah memunculkannya . Sukarno pada tahun 1935, atau sepuluh tahun sebelum menjadi presiden bukanlah siapa-siapa. Waktu itu ada tokoh sesperti HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Ki Hadjar Dewantoro, Muso, Semaun, Haji Samanhudi dsb. Pada tahun 1935 tidak ada yang mengira bahwa kelak yang menjadi presiden adalah Sukarno. Suharto juga satrio piningit. Suharto jadi presiden pada tahun 1967. Sepuluh tahun sebelumnya (tahun 1957) tentu tidak ada orang yang berpikir bahwa yang akan jadi presiden adalah Suharto. Pada waktu itu ada banyak yang lebih hebat dibanding Suharto. Ada Ahmad Yani, Nasution, Hamengkubuwono IX, Subandrio, yang jauh lebih berpeluang dibanding Suharto. Hal yang sama juga terjadi pada Gus Dur, Megawati dan Susilo Bambang Yudhono. Yudhoyono dilantik jadi presiden pada tahun 2004. Sepuluh tahun menjelang pelaktikannya (1994), siapa mengira pria kelahiran Pacitan itu akan menjadi presiden Indonesia? Pada waktu itu ada Wiranto, Faisal Tanjung, Akbar Tanjung, Tri Sutrisno, Amin Rais dan sebaganya. Nama SBY tahun 1994 jarang disebut orang atau muncul di pemberitaan pemberitaan. Terpilihnya Jokowi , melanjutkan tradisi satrio piningit. Sepuluh tahun yang lalu, atau tahun 2004 siapa sih yang kenal Jokowi. Dia hanyalah seorang pengusaha mebel yang dipastikan jarang diberitakan media. Karirnya melesat setelah ia terpilih menjadi walikota Surakarta pada tahun 2005.
    Sebaliknya Prabowo tentu bukan termasuk satrio piningit. Sepuluh tahun lalu ia sudah terkenal . Selain sosok perwira tinggi ABRI ia sudah malang melintang jadi ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia,Ketua Asosiasi Pedagang Pasar, serta pengusaha.Kemudian mendirikan partai Gerindra, mencalonkan diri sebagai calon presiden mendampingi Megawati, pelatih militer di Yordania dan sebgainya. Apalagi ia adalah menantu presiden Suharto, putra begawan Ekonomi Sumitro Joyohadikusumo. Sepanjang karirnya ia bisa dibilang merupakan satrio negoro, bukan satrio piningit.

    Eksekutor atau Orator
    Jokowi sepanjang karirnya lebih cenderung sebagai eksekutor. Di Solo ia berhasil dipilih menjadi walikota Solo untuk ke-dua kali. Dan pada pilihan yang kedua ia terpilih dengan mutlak , dengan perolehan suara di atas 90 persen. Sebelum periodenya selesai, ia terpilih sebagai gubernur DKI. Ia adalah gambaran a man of action. Ia menata para Usaka Kecil Menengah / Pedagang Kaki Lima (UKM/PKL) Solo dengan musyawarah, komunikasi. Ia bahkan memerintahkan para satpol PP yang biasa menggunakan pentungan untuk menggudangkan pentungannya dan menata para pedagang kecil itu dengan komunikasi. Di Jakarta juga demikian. Pasar Tanah Abang yang seolah olah tak bisa ditata sejak dulu kala, oleh Jokowi ternyata bisa ditata dengan apik dan minim demo dan ketidakpuasan. Demikian juga dengan penataan waduk dan penertiban sungai di Jakarta. Ia tidak mengaturnya dari belakang meja. Ia keluar dan blusukan, meninggalkan meja birokrasi dan kemudian menadi trademark Jokowi.

    Prabowo Subianto punya perbedaan. Ia lebih fasih omong. Ia seorang orator. Sebagai pembicara ia lebih enak di dengar. Ia menggunakan bahasa tubuhnya dengan sangat baik untuk menjelaskan ide-idenya. Bahasa asingnya terutama Bahasa Inggris sangat baik. Maklum saja Prabowo banyak menghabiskan banyak waktunya remajanya di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, Swis dan Inggris. Juga lebih pintar dengan konsep konsep dan visi yang jauh ke depan. Visinya yang terkenal dengan menjadi macan asia, seolah mengingatkan kita bahwa Indonesia memang punya kesempatan itu. Visi mencetak sawah 2 juta hektar jelas menggambarkan hal itu. Juga idenya untuk melakukan nasionalisasi usaha usaha swasta asing.

    Yin atau Yang
    Kedua tokoh terbaik bangsa ini sebenarnya memiliki karakter yin dan yang. Yin adalah gambaran pemimpin yang memiliki karakter bumi yang low profile (rendah hati), menerima, mementingkan isi detil permasalahan, karakter ibu yang tenang, penuh kelembutan dan kasih sayang, tidak suka menonjol serta low profile. Yang adalah gambaran seperti karakter bapak yang bergejolak sebagaimana angkasa yang menggebu-gebu penuh idealisme dan keinginan, menguasai, tampil hebat, menjaga penampilan yang agung dan berwibawa, dan penuh passion yang menyala-nyala. Jokowi merupakan gambaran pemimpin yang bersifat yin. Dan Prabowo lebih cenderung sebagai pemimpin yang berkarakter yang.

    Kekuatan Pribadi atau Mesin Partai
    Kedua calon presiden punya pesona pribadi dan mesin partai sekaligus. Meskipun banyak kampanye yang menyerang kedua calon presiden ini , toh juga diakui bahwa kedua kandidat ini punya masa pendukung yang luar biasa banyak. Secara kepartaian Jokowi hanya didukung partai PDI, Nasdem, Hanura, PKPI sementara Prabowo didukung sisanya dengan partai dan anggota kegislatif yang lebih banyak. Tepatnya kemenangan salah satu Calon Presiden nanti tentu karena disebabkan dua hal tersebut yaitu kekuatan pribadi dan mesin partai. Kemenangan Jokowi atau Prabowo mengindikasikan kecenderungan pemilih karena kekuatan pribadi atau mesin partai. Kemenangan Jokowi mengindikasikan bahwa kepribadian Jokowi ,rekam jejak sejak jadi walikota Solo lebih mengemuka daripada mesin partai.

    Compasion atau passion
    Compasiion bisa diartikan sebagai rasa welas asih, perhatian pada anak buah, pengertian, mendengarkan dan sebagainya. Passion lebih berarti pada semangat, daya juang, kegigihan. Seorang pemimpin idealnya mempunyai compasion dan passion. Jokowi dan Prabowo jelas mempunyai keduanya. Jokowi lebih cenderung menunjukkan compassion yang lebih dominan. Hobinya yang suka blusukan, ketemu wong cilik, mendengarkan masalah orang dan kemudian mencarikan solusi masalahnya adalah gambaran kecenderungan ini. Prabowo berbeda. Pidatonya selalu berapi-api. Gaya bicara serta gaya pidatonya yang berapi api menunjukkan passion nya yang besar. Semangatnya untuk menjadikan Indonesia macan Asia ada di sana. Meski pada kadar tertentu Prabowo juga punya compassion, penampilan fisik dan cara membawakan dirinya jelas menampakkan seba gai pribadi yang penuh passion.

    Cerdas Emosi atau Cerdas Intelektual
    Jokowi dikenal kecerdasanyya dalam mengelola hati orang lain. Ia berhasil dipilih menjadi walikota Solo untuk ke-dua kali. Pada pilihan yang kedua ia terpilih dengan mutlak , dengan perolehan suara di atas 90 persen. Sebelum periodenya selesai, ia terpilih sebagai gubernur DKI. Kecerdasan hatinya menjadi sumber kesuksesannya. Ia menata para Pedagang Kaki Lima (PKL) Solo dengan musyawarah, komunikasi. Ia bahkan memerintahkan para satpol PP yang biasa menggunakan pentungan untuk menggudangkan pentungannya dan menata para pedagang kecil itu dengan komunikasi. Di Jakarta juga demikian. Pasar Tanah Abang yang seolah olah tak bisa ditata sejak dulu kala, oleh Jokowi ternyata bisa ditata dengan apik dan minim demo dan ketidakpuasan. Demikian juga dengan penataan waduk dan penertiban sungai di Jakarta. Ia tidak mengaturnya dari belakang meja. Ia keluar dan blusukan, meninggalkan meja birokrasi untuk menyapa dan mendengarkan rakyatnya.

    Prabowo berbeda. Tidak ada yang meragukan intelektualitasnya. Maklum saja Prabowo menghabiskan banyak waktunya remajanya di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, Swis dan Inggris. Juga lebih pintar dengan konsep konsep dan visi yang jauh ke depan. Visinya yang terkenal dengan menjadi macan Asia, serta mencetak sawah 2 juta hektar jelas menggambarkan hal itu. Juga idenya untuk melakukan nasionalisasi usaha usaha swasta asing. Kepintaran Prabowo dalam masalah konsep terbukti pada waktu ia menuntut ilmu. Prabowo adalah alumi Akabri tahun 1974 terbaik dan alumni terbaik pelatihan anti teroris GSG-9 di Jerman Barat.

    Low Profile atau High Profile
    Jokowi mempunyai kecenderungan yang low profile. Ia tidak canggung ngobrol dengan rakyat kecil. Kita tentu masih ingat ketika Jokowi mendaftarkan pencapresannya dengan naik sepeda, dan pada saat yang lain ia menuju ke Komisi Pemilihan Umum dengan naik bajay. Prabowo lebih menunjukan pola high profile. Ia bertidak seolah olah sebagai seorang ksatria yang gagah berwibawa dan tidak asing dengan hal- hal yang high profile seperti kemewahan, keagungan dan kebesaran. Ia handal dalam naik kuda, ke KPU dengan kendaraan yang mewah sebagaimana biasanya, atau menemui pendukungnya dengan naik helikopter.

    Kesimpulan
    Terpilihnya Jokowi sebagai presiden makin memantapkan fenomena satrio piningit. Kekuatan kepribadian juga menjadi penentu terpilihnya Jokowi. Ternyata rakyat Indonesia lebih banyak memilih, presiden berkarakter yin, seorang eksekutor, yang low profile, penuh compassion, cerdas hatinya, menyukai pemimpin yang action yang ada pada Jokowi . Mayoritas rakyat Indonesia tidak memilih yang yang berkarakter yang, penuh passion , orator ulung, cerdas intelektualitasnya dan high profile yang ada pada diri Prabowo. Sesungguhnya, bangsa ini akan menjadi maju, seimbang dan stabil kalau sosok pemimpin Yin dan Yang ini bisa bersatu dan saling bekerjasama.

    Akan lebih baik lagi bila Jokowi tetap melibatkan pesaingnya untuk berbagi kepemimpinan. Jokowi ada baiknya ia juga mengajak Prabowo untuk bersama membangun bangsa ini. Keberadaan Prabowo yang berkarakter Yang dalam tim Jokowi tentu akan membuat bangsa ini menjadi hebat dan bisa mewujudkan Indonesia menjadi macan Asia. Toh , tidak haram hukumnya untuk mengajak pesaing dalam kabinet. Barack Obama bisa tetap meminta pesaing beratnya dalam menuju kursi kepresidenan yaitu Hillary Clinton untuk menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Dan hebatnya Hillary Clinton mau memenuhi permintaanya Barack Obama. Pertanyaannya, apakah Jokowi akan melakukan seperti Barack Obama? Meminta Prabowo untuk ikut membantu mengatasi berbagai masalah bangsa ini? Pertanyaannya lagi, apakah Prabowo mau? Apabila seperti itu , maka sesungguhnya Jokowi dan Prabowo adalah negarawan sejati , yang siap melakukan tugas apapun yang ditugaskan negara dengan amanah. Rakyat akan bangga dengan mereka. Dan itu akan dicatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju Indonesia Hebat dan Macan Asia sebagaimana dicita-citakan bersama.

    — Sumber: Majalah LPPCom Edisi Khusus Vol 17 No. 1 Februari 2015 —

Leave a reply

Cancel reply