• Integrated  Precision Farming

    Integrated Precision Farming

    Oleh: Susilawardani.

    Jika saat ini anda bertemu dan bertanya kepada para pengelola perusahaan perkebunan mengenai kondisi bisnisnya, pasti mereka akan kompak menjawab berat….. diujung tanduk atau bahkan ada yang menjawab selalu merugi! Apakah memang sedemikian peliknya problem yang dihadapi mereka sehingga sangat sulit untuk dicari solusinya?

    Perusahaan Perkebunan merupakan resources base corporate yang mana kinerja unggulnya baru akan muncul manakala perusahaan mampu mengakses dan mengelola sumberdaya unggul secara optimal. Dalam kondisi sumberdaya yang terbatas sekarang ini, diperlukan kecermatan dan ketepatan perusahaan dalam mengakses dan mengalokasikan sumberdaya . Saat ini hampir semua perusahaan perkebunan, khususnya BUMN perkebunan pencapaian produktivitas tanaman masih jauh dari potensinya, sementara di sisi lain harga pokok produksi melaju naik tanpa dapat terbendung. Kondisi ini semakin pelik dengan adanya kenyataan menurun dan stagnasinya harga komoditas perkebunan. Di sisi lain perdagangan bebas ASEAN pada akhir tahun 2015 sudah di depan mata.

    Sekarang persoalan terletak pada bagaimana kita mensikapinya? Apakah akan kita sikapi dengan pesimis panik yang tentunya akan berakibat pada semakin tidak terarahnya kita dalam mengelola perusahaan dan kemudian berujung pada kemunduran dan terancamnya keberlangsungan perusahaan? Atau akan kita sikapi dengan positif bijaksana? Daniel Cole, seorang professor dari sekolah bisnis di London, mengatakan bahwa sebagian besar manajer mengalami active inertia syndrome, mereka merasa sudah melakukan banyak hal, sibuk mengatasi masalah, namun tidak membuahkan hasil bahkan masalah semakin kompleks seolah tanpa berujung? Kalau sudah demikian tentunya upaya solusi dengan pendekatan baru, cara baru atau bahkan dengan cara pandang/paradigma baru adalah merupakan sebuah pilihan.

    Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat Wimar Witoelar mewawancarai Kuntoro Mangkusubroto di sebuah stasiun televise swasta mengenai resep keberhasilan Pak Kuntoro dalam membalikkan arah /turn around perusahaan-perusahaan yang nyaris collapse menjadi berkinerja unggul. Menurut beliau kunci terpenting yang pertama dan yang utama untuk mengatasi kondisi permasalah sulit dan kompleks tersebut adalah kecermatan dan keakuratan dalam identifikasi permasalah dan kemudian mampu memetakan persoalan dengan tepat (measure & analyze variability), sehingga memudahkan dalam menentukan skala prioritas solusinya. Kunci terpenting berikutnya adalah keberanian manajemen untuk mengambil keputusan (decision making) disertai analisa dan antisipasi terhadap munculnya problem potensial dari keputusan yang diambil (analyze result).

    Menyimak “pengalaman” Pak Kuntoro tadi nampaknya tidak berbeda dengan filosofi teknologi precision farming yang telah berhasil mengantar perusahaan perkebunan besar baik di dalam maupun di luar negeri sehingga berkinerja unggul. Apakah precision farming itu? Mengapa perlu menggunakan teknologi tersebut, Mungkinkan untuk diterapkan dan bagaiman kunci-kunci suksesnya? Mari kita simak bersama paparan berikut ini….

    Apa itu Teknologi Precision Farming?
    Dalam upaya menjawab persoalan pelik yang dihadapi perusahaan perkebunan tersebut dan sekaligus untuk membangun daya saing perusahaan, maka teknologi precision farming dinilai tepat untuk diterapkan di perkebunan. Walaupun banyak pihak masih memiliki persepsi bahwa teknologi ini mahal, rumit dan belum waktunya untuk diterapkan. Sebenarnya filosofi dasar dari teknologi ini adalah mengukur keragaman kondisi lahan (tanah, iklim, tanaman) dan kemudian mengelola keragaman tersebut melalui pemberian input agrochemical dan semua tindakan budidaya lainnya sesuai sifat fisiko-kimia tanah dan kebutuhan tanaman dengan seefektif dan seefisien mungkin, melalui cara memadukan prinsip agronomi dan aplikasi teknologi (Chan CW, 2001). Dengan pengelolaan yang efektif dan efisien tersebut, maka akan diperoleh produktivitas tanaman mendekati potensinya, perolehan profit yang maksimal, risiko yang terkelola serta ramah lingkungan secara fisik maupun sosial ( Gary T, Roberson, 2004)

    Terdapat lima proses utama dari precision farming yaitu: meliputi mengukur keragaman (measuring variability), menganalisis keragaman (analyzing variability), mengambil keputusan (decision making), perlakuan sesuai keragaman (differential action) dan akhirnya asesmen hasil (assessment of results ) sebagai evaluasi yang akan menjadi feedback untuk solusi/langkah perbaikan selanjutnya (Blackmore & Larscheid, 1997).

    Ada hal yang menarik ketika memperhatikan proses utama dalam teknologi precision farming di atas, bahwa selain kemudahan karena bantuan teknologi /IT , nampaknya teknologi ini juga membutuhkan kemampuan dan ketajaman manajemen dalam analisis kondisi yang ada, menentukan skala prioritas tindakan berdasarkan sumberdaya yang dimiliki, serta keberanian dalam mengambil keputusan tindakan perbaikan dan pengelolaan serta tetap melakukan antisipasi terhadap risiko yang mungkin muncul. Dengan mengkombinasikan dukungan teknologi/IT, kemampuan manajerial dan keberanian serta keakuratan dalam pengambilan keputusan maka efektivitas, efisiensi dan sustainability akan terwujud. Jelas disini menunjukkan bahwa faktor manajerial dan leadership sangat menentukan kesuksesan precision farming selain tentunya faktor penguasaan teknologi /IT.

    Apa saja manfaat teknologi precision farming?
    Dengan menerapkan teknologi precision farming memungkinkan pengelola memanfaatkan sumberdaya perusahaan dengan cermat dan tepat. Selain mendapatkan manfaat yang bersifat terukur (tangible benefit) meliputi peningkatan produksi, peningkatan revenue dan profit , serta pengurangan dan penghindaran biaya (cost reduction dan cost avoidance), teknologi inipun juga memberikan benefit yang sifatnya tidak terukur (intangible benefit ) berupa kelancaran komunikasi dan koordinasi antar bidang dan, perbaikan pengambilan keputusan, peningkatan kepuasan pelanggan, mengurangi kesalahan Administrasi, meningkatan keakuratan dan kecepatan penyajian data .

    Bagaimana teknologi ini diimplementasikan?
    Precision farming memiliki beberapa Komponen, yaitu meliputi teknologi GPS, teknologi GIS, teknologi remote sensing/penginderaan jauh serta variable-rate application.

    • GPS (Global Position System) merupakan sistem penentu posisi horizontal dan vertical suatu tempat dengan akurat dengan berpemandu satelit .
    • Teknologi GIS merupakan teknologi berbasis komputer yang mencatat, menyimpan, mengintegrasikan, menganalisis, memodifikasi & menyajikan data/informasi spasial/kebumian dan data atribut (agronomi, SDM, Keuangan, dll) untuk mendukung pengambilan keputusan manajer ;
    • Teknologi remote sensing/ penginderaan jauh yang menyajikan citra/gambar dari satelit dan foto udara berupa karakteristik tanaman, lahan dan tampakan lain di permukaan bumi;
    • Variable-rate application yang dilengkapi dengan peralatan (equipment) untuk aplikasi yang dilengkapi sensor, data logger, GPS dan lainnya, misalnya berupa alat-alat mekanisasi.

    Seperti kita ketahui bersama bahwa suatu intervensi teknologi dikatakan layak untuk diterapkan jika memenuhi persyaratan 1). Memiliki nilai tambah (B C rasio > 1); 2). Ada dukungan keuangan perusahaan ; 3). Kesiapan SDM baik level operator maupun manajemen; serta 4). Diterima oleh lingkungan (fisik dan sosial).
    Kendala yang sering muncul dalam mengaplikasikan precision farming di perusahaan perkebunan adalah masih terdapatnya persepsi bahwa teknologi ini mahal, rasio benefit cost di awal implementasi yang rendah, terdapatnya resiko-resiko di awal penerapan, serta kesiapan semua jajaran perusahaan untuk berubah , khususnya di level managemen.
    Berikut gambaran informasi biaya pembangunan data base GIS dengan sumber data dari foto udara pada areal seluas 2000 hektar

    Persyaratan Keberhasilan Precision Farming Perkebunan

    1. Dukungan infrastruktur Perusahaan
    Dukungan infrastruktur perusahaan antara lain berupa disusunnya roadmap dan strategi implementasi teknologi ini. Termasuk di dalamnya adanya struktur dan sistem yang kondusif dan mendukung.
    2.Kesiapan SDM
    Dengan diterapkan teknologi ini, semua jajaran SDM siap untuk berubah. Pada level operator dibutuhkan kompetensi dan ketrampilan dalam penguasaan teknologi/IT, sementara untuk jajaran manajemen diperlukan komitmen dan keterlibatannya dalam menyediakan sumberdaya dan dukungan kebijakan.
    3. Jaminan kualitas data
    Mengingat data dan informasi merupakan aspek penting dalam pengambilan keputusan, maka transparansi dan jaminan kualitas data merupakan sesuatu yang mendasar. (garbage in garbage out)
    4. Pilot Project
    Mempertimbang bahwa precision farming membutuhkan penguasaan teknologi yang memadai serta melibatkan banyak bagian di perusahaan, maka adanya pilot project sangat dianjurkan

    Sebagai penutup disampaikan bahwa teknologi ini diyakini sangat efektif dan efisien, serta ramah lingkungan, namun demikian keberhasilannya sangat tergantung pada kualitas dan integritas manusianya. Artinya man behin the gun….. Selamat mencoba!

    — Sumber: Majalah LPPCom Edisi Khusus Vol 17 No. 1 Februari 20015 —