• Social Loafing

    Oleh: Dian Wiryatmo ESS

    Seorang teman di kantor berbagi cerita tentang pengamatannya yang terjadi di kelasnya. Ada satu hal yang menarik, ketika ia melihat beberapa peserta yang telah dikenal sebelumnya, sebagai konsultan perusahaan ditempatnya bekerja ternyata berperilaku berbeda ketika mengikuti kursus. Teman saya mengenal peserta tersebut sebagai orang yang cerdas, kreatif, selalu serius serta bersungguh-sungguh dalam bekerja. Pendek kata, atasannya selalu puas dengan hasil pekerjaannya. Di kelas, ketika ia harus menyelesaikan tugas-tugas individual ia nampak menguasai materi dan tampil seperti ketika ia bekerja. Namun ketika berada dalam kelompok dan harus menyelesaikan tugas-tugas bersama, — terutama nampak ketika melakukan focus group discussion– peserta tersebut cenderung kurang aktif dan tidak banyak berkontribusi untuk kelompoknya. Hal ini menimbulkan tanda tanya pada teman saya tersebut, mengapa peserta tersebut perilakunya menjadi berbeda dengan saat bekerja?

    Fenomena seperti cerita di atas sering kita jumpai, dan sering disebut sebagai perilaku social loafing.  Social loafing atau biasa disebut sebagai keengganan sosial (ada juga yang menyebutnya sebagai pemalasan sosial), merupakan suatu fenomena psikologis dimana individu di dalam kelompok tidak termotivasi untuk bekerja secara maksimal ketika berada di dalam kelompok. Social loafing menyebabkan setiap individu kurang berusaha secara sungguh-sungguh dan tidak mengeluarkan kemampuan maksimalnya jika bekerja secara kolektif di dalam kelompok. Akan berbeda kondisinya bila dibandingkan dengan ketika ia bekerja secara individu atau independen. Di sini upaya yang diberikannya maksimal, dan bertolak belakang dengan ketika ia harus bekerja dalam kelompok. Artinya, kinerjanya akan meningkat ketika ia tidak bekerja secara kolektif atau di dalam kelompok.

    Dalam banyak kasus, kegiatan yang dilakukan bersama kelompok memang rentan menghasilkan perilaku social loafing. Padahal selama ini kita mengenal istilah kerja sama, yang mengacu pada kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan oleh tidak hanya satu orang tetapi dua, tiga, empat bahkan lebih dalam bentuk kelompok, sebagai cara kerja yang utama dan efektif dalam organisasi. Sebagai contoh, dalam praktik pembangunan sosial di lingkungan terdekat kita yaitu di kampung kita, sering dilakukan gotong royong, kerja bakti bersama, dan lain-lain yang intinya akan dilakukan bersama-sama dalam bentuk kelompok. Namun gejala social loafing ini bisa kita lihat pada saat di kelompok tersebut hanya sebagian saja anggota yang bekerja secara maksimal. Contoh perilaku tersebut tampak ketika dua atau tiga orang dari kelompok ronda yang biasanya berisi minimal 5 orang, “dijatah” untuk melakukan poskamling/ronda keliling lingkungan kampung, sementara warga lain hanya muncul sebentar dan kemudian pulang. Demikian pula kegiatan dalam kepanitiaan untuk kegiatan peringatan hari kemerdekaan, hanya sebagian anggota panitia yang aktif dan bekerja intensif sementara anggota yang lain lebih mirip penggembira.

    Apa jadinya bila social loafing terjadi dalam suatu organisasi, atau pada perusahaan yang berorientasi pada keuntungan. Dapat dipastikan akan menghasilkan konsekuensi negatif, karena hal tersebut berdampak langsung pada produktivitas perusahaan dengan adanya penurunan efisiensi kerja.  Adanya pekerja yang tidak memberikan seratus persen kemampuan mereka ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan yang krusial dilakukan dalam kelompok, dengan menghindari untuk bekerja sama dalam kelompok kerja yang bertanggung jawab atas penyelesaian pekerjaan atau program tertentu. Alasan yang digunakan bermacam-macam, seperti tidak menguasai materi, sibuk, ke luar kota, bahkan sakit yang menunjukkan keengganan mereka dalam menyelesaikan tugas bersama. Bila hal ini terjadi, maka dapat dipastikan produktivitas kerja akan menurun. Ujung-ujungnya, keuntungan perusahaan pun menurun.

    Mengapa orang  melakukan social loafing? Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Perilaku social loafing pertama kali ditemukan oleh Maximilian Ringelman pada tahun 1913 ketika melakukan penelitian terhadap sekelompok orang yang menarik sebuah tali. Dalam penelitian tersebut, ketika jumlah orang yang menarik tali bertambah, usaha dan kekuatan untuk menarik tali tersebut menjadi bertambah dan lebih besar. Tetapi Ringelman menemukan bahwa besaran usaha yang dikeluarkan masing-masing orang berkurang dalam menarik tali seiring dengan bertambahnya orang dalam kelompok itu. Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa ukuran dari sebuah kelompok mungkin akan berpengaruh pada performa kinerja individu.

    Adapun teori social loafing sendiri baru dikemukakan pada tahun 1979 oleh Latane, Williams, dan Harkins. Teori tersebut digunakan untuk menjelaskan kecenderungan seseorang di dalam kelompok mengurangi atau mungkin menghindari beban kerja kelompok, dengan memperlihatkan perilaku yang membuang-buang waktu (goof off) justru ketika kelompok sedang membutuhkan mereka untuk giat bekerja. Perilaku yang ditunjukkan seperti misalnya dengan menghindar dan tidak hadir dalam pertemuan kelompok, terlambat hadir, dan lain-lain.

    Kalau demikian definisinya, apa bedanya social loafing dengan perilaku free rider? Ternyata kedua perilaku tersebut berbeda meski keduanya bisa menurunkan produktivitas organisasi. Dalam perilaku social loafing, orang yang melakukan hal tersebut (social loafer) sengaja  mengurangi kontribusinya atau kinerjanya di dalam kelompok, karena faktor-faktor tertentu misalnya beranggapan bahwa ada penilaian yang tidak adil atau tidak jelas atas kinerja masing-masing anggota dalam kelompok tersebut. Dengan kata lain seorang pekerja dengan sengaja akan bekerja dibawah kinerja yang seharusnya dapat ia hasilkan. Sementara seorang free rider tidak memberikan kontribusi apapun kepada kelompok meski ia memperoleh hasil yang sama dengan anggota kelompok lain.

    Lalu apa yang menyebabkan perilaku social loafing ini terjadi? Banyak hal yang menyebabkan terciptanya kondisi social loafing ini, diantaranya adalah ukuran kelompok. Semakin besar kelompok, semakin besar kemungkinan terjadi social loafing. Hal ini terjadi karena social loafer merasa pekerjaan dalam kelompok sudah cukup dikerjakan oleh orang lain yang ada dalam kelompok.

    Oleh karenanya, untuk menghindari perilaku tersebut manajemen perusahaan perlu memikirkan ulang jumlah anggota dalam kelompok yang diberi tanggung jawab menyelesaikan pekerjaan. Selain itu social loafing paling memungkinkan terjadi karena adanya pembagian peran/kontribusi yang tidak adil di dalam kelompok, dan ketika kontribusi individual tidak dapat dievaluasi/dinilai. Seorang social loafer berpikir bahwa dia bekerja lebih keras dan memiliki beban kerja yang lebih berat daripada anggota yang lain. Kondisi ini membuat ia merasa tidak termotivasi ketika bekerja dalam sebuah kelompok. Demikian pula ketika anggota kelompok merasa tidak dihargai atas perannya di dalam kelompok karena merasa tugasnya tidak penting, atau merasa tugasnya membosankan dan tidak memberikan aspirasi baginya, ada upaya untuk mengurangi energi yang dikeluarkan. Oleh karena itu sebaiknya ada pembagian tanggung jawab dan peran yang jelas atas bagian-bagian tugas dalam kelompok. Dengan demikian, kontribusi masing-masing anggota akan dapat diukur dengan mudah dan hal ini akan mendorong anggota untuk memaksimalkan energinya dalam melaksanakan tugas yang diberikan.

    Sifat individualistis pada seseorang dan rasa asing pada orang lain juga ikut mendukung terjadinya social loafing. Orang yang bersikap individualistis cenderung tidak peduli pada apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dia juga tidak mau berbaur dengan anggota kelompok yang lain. Yang menjadi tujuannya adalah bagaimana mencapai apa yang diinginkannya sendiri, sehingga ketika dia berada dalam suatu kelompok, dia tidak merasa ikut bertanggungjawab dalam pencapaian kelompok tersebut. Hal ini menyebabkan anggota tidak memaksimalkan kinerjanya.

    Mengingat efek negatifnya, beberapa cara nyata untuk mengurangi social loafing adalah dengan membuat hasil akhir atau usaha dari setiap anggota dapat diidentifikasi dan dievaluasi/dinilai, sehingga anggota kelompok tidak dapat bersantai atau membiarkan orang lain bekerja. Kedua, dengan meningkatkan komitmen anggota kelompok pada kinerja tugas yang sukses. Tekanan untuk bekerja keras kemudian akan membatasi social loafing. Ketiga, dengan meningkatkan kejelasan akan arti penting atau nilai dari suatu tugas, dan membuat anggota kelompok memandang bahwa kontribusi mereka pada tugas adalah unik dan bukan sekedar meramaikan kontribusi orang lain.

    Dari penjelasan diatas, tampak bahwa social loafing dapat terjadi dimana-mana, namun hasil penelitian Early (1993) menyebutkan bahwa ternyata perilaku social loafing tidak tampak terjadi dalam budaya kolektivitas yang banyak dijumpai dalam budaya Timur di mana dalam budaya tersebut kebaikan-kebaikan kolektif lebih dihargai daripada prestasi atau keberhasilan individual. Di negara-negara Asia yang dianggap memiliki budaya Timur seperti Jepang, Cina, Malaysia,  Indonesia, dan lain-lain, masyarakatnya masih mengutamakan kebersamaan sebagai nilai-nilai budaya. Contoh paling mudah adalah ungkapan dalam bahasa Jawa “mangan ora mangan asal ngumpul”, yang menunjukkan keutamaan kebersamaan. Disamping itu kearifan lokal seperti gotong royong dan dorongan untuk bermusyawarah untuk mufakat sebagai usaha kolektif dalam menyelesaikan permasalahan merupakan dasar dari interaksi sosial, sehingga bila ada anggota masyarakat yang individualistis dan tidak suka membaur dalam masyarakat, akan mendapat stigma negatif.

    Selain itu peribahasa “berat sama dijunjung ringan sama dijinjing” menunjukkan betapa perilaku social loafing di dalam kelompok tidak diinginkan. Meski demikian, pada era saat ini bukan tidak mungkin nilai-nilai budaya kolektif kita sedikit demi sedikit mulai digantikan dengan budaya individualis yang lebih mengutamakan diri sendiri, sehingga memungkinkan menguatnya perilaku social loafing. Oleh karenanya kita perlu menyiapkan organisasi dan perusahaan dengan sistem yang lebih jelas untuk mengurangi kemungkinan meningkatnya perilaku tersebut.