• Kapan Badai akan Berlalu..?

    Oleh: Budi Rahardjo, LPP Kampus Yogyakarta

    KRISIS EKONOMI INDONESIA: Kapan Badai akan Berlalu?

    Bila kita simak berbagai berita di media masa akhir-akhir ini selalu berisi hal-hal negatif berkenaan dengan perekonomian dunia dan juga Indonesia khususnya. Bisnis sektor pertanian (khususnya subsektor perkebunan) dan sektor pertambangan telah merasakan dampak penurunan perekonomian dunia dengan turunnya harga-harga komoditas karena penurunan permintaan dari negara importir komoditas bersangkutan. Setelah merayakan hari Kemerdekaan RI rupiah kita terjerembab melemah menjadi di atas Rp10.000,- bahkan menyentuh Rp11.000,- per 1.00 USD; demikian juga dengan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang pernah membuat rekor tertinggi di atas 5.000 anjlok menjadi 4.169,83 pada penutup Jumat 23 Agustus 2013. Petinggi negeri ini segera bertindak dengan beberapa kebijakan untuk mengantisipasinya sebagaimana dirilis berbagai media. Namun yang lebih penting untuk kita adalah memahami bagaimana kisah krisis ini berlanjut.

    Apa yang terjadi?

    Sebenarnya kejadian yang dialami negeri ini telah terlihat dari berbagai Indikator Ekonomi yang cenderung terus menurun. Marilah kita lihat satu per satu indikator berikut yang berasal dari BPS dan BI serta telah digrafiskan oleh www.TradingEconomics.com yang penulis gunakan untuk membedah permasalahan yang dihadapi negeri kita tercinta Indonesia.

    Ekspor negara kita mengalami penurunan sejak Agustus 2011 (perhatikan Grafik 1), yang semula mencapai nilai USD 18.647,83 juta pada bulan Agustus 2011 terus menurun menjadi USD 14.740,70 juta pada Juli 2013.

     

    gam11
    Grafik 1: Nilai Ekspor Indonesia

    Impor negara kita sebaliknya mengalami peningkatan atau paling tidak sama (perhatikan Grafik 2); dimana tertinggi tahun 2011 pada bulan Desember sebesar USD 16.475,57 juta dan terendah pada bulan Agustus sebesar USD 15.075,37 juta, bandingkan dengan tertinggi tahun 2013 pada bulan Mei sebesar USD 16.660,50 juta dan terendah pada Maret sebesar USD 14.887,10 juta, impor tertinggi periode 2011 – 2013 dicapai pada Oktober 2012 sebesar USD 17.207,93 juta.

     

    gam12
    Grafik 2: Nilai Impor Indonesia

    Bilamana ekspor dan impor kita pertemukan akan menghasilkan Neraca Perdagangan (Balance of Trade), apakah mengalami surplus atau malah defisit. Neraca Perdagangan negara kita ternyata mengalami penurunan (perhatikan Grafik 3) yang semula pada tahun 2011 sampai dengan Triwulan I 2012 mengalami surplus menjadi defisit mulai April 2012 sampai kini (meskipun pada bulan Agustus dan September 2012 serta Maret 2013 mengalami sedikit surplus). Hal ini tentunya akan berdampak menguras cadangan devisa kita.

     

    gam13
    Grafik 3: Neraca Perdagangan Indonesia

    Dengan kondisi neraca perdagangan yang defisit, maka cadangan devisa negara kita pun terkuras (perhatikan Grafik 4) dan terus menurun sejak September 2011 sebesar USD 125.000 juta menjadi USD 92.671,06 juta pada Agustus 2013. Inilah kenapa nilai IDR atau Rupiah kita terus menurun, sehingga Pemerintah dan BI melakukan berbagai upaya untuk menahan laju penurunan nilai tukar mata uang kita.

     

    gam14
    Grafik 4: Cadangan Devisa Indonesia

    Nilai tukar atau kurs mata uang kita Rupiah (IDR) menurun terhadap mata uang asing. Berdasar data yang diolah dari www.x-rates.com pada Juli 2011 nilai tukar 1.00 USD = IDR 8.855,00 namun pada Juli 2013 nilai tukar 1.00 USD = IDR 10.280,95 sehingga mata uang kita mengalami penyusutan atau depresiasi terhadap USD sebesar 16,10%.

     

    gam15
    Grafik 5: Nilai Tukar USD terhadap IDR

    IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang mencerminkan kinerja bursa juga mengalami penurunan setelah ditinggalkan pemain asing yang menguasai separuh kapitalisasi pasar. Setelah memecahkan rekor tertinggi dengan IHSG sebesar 5.214.98 pada 20 Mei 2013 (perhatikan Grafik 6) kini indeks telah longsor menjadi 4.169,83 pada 23 Agustus 2013 (turun 20,04%).

     

    gam16
    Grafik 6: Jakarta Composite Index

    Bagaimana dengan Harga Komoditas Perkebunan?

    Harga komoditas perkebunan di bursa-bursa dunia pun masih cenderung turun, harga CPO baik di Rotterdam maupun MDEX Kuala Lumpur masih cenderung turun. Harga CPO Rotterdam tahun 2011 tertinggi USD1,330.00 dan terendah USD955.00, tahun 2012 tertinggi USD1,195.00 dan terendah USD755.00, sedang tahun 2013 tertinggi USD890.00 dan terendah USD810.00. Berdasar data tersebut masih menunjukkan kecenderungan menurun atau mendatar dengan rentang harga USD800.00 – 900.00.

    gam17
    Grafik 7: Harga CPO di Rotterdam dan MDEX

    Demikian juga perkembangan harga karet alam di Bursa TOCOM Tokyo masih cenderung turun dan belum ada tanda-tanda untuk rebound. Harga karet di Tokyo tahun 2011 tertinggi JPY 528.00 dan terendah JPY 253.00, tahun 2012 tertinggi JPY 338.00 dan terendah JPY 208.00, sedang tahun 2013 tertinggi JPY 312.00 dan terendah JPY 225.00. Berdasar data 3 tahun terakhir tersebut jelas harga karet alam masih menunjukkan kecenderungan menurun atau mendatar dengan rentang harga JPY 225.00 – 312.00.

    gam18
    Grafik 8: Harga Karet di Tokyo dan Gula di New York

    Harga gula dunia di Bursa NYBOT New York juga masih cenderung turun. Harga gula dunia di New York tahun 2011 tertinggi ₵USD 35.31 dan terendah ₵USD 20.67, tahun 2012 tertinggi ₵USD 26.12 dan terendah ₵USD 18.48, sedang tahun 2013 tertinggi ₵USD 19.70 dan terendah ₵USD 15.97. Berdasar data 3 tahun terakhir tersebut jelas harga gula masih menunjukkan kecenderungan menurun.

    Penutup

    Dengan belum ada tanda-tanda membaiknya kondisi perekonomian dunia dan Indonesia, ditambah tahun 2014 ada Pemilu di Indonesia; maka para pelaku bisnis berbasis komoditas termasuk bisnis perkebunan perlu terus meningkatkan efisiensi dan mengencangkan ikat pinggang. Peluang pemanfaatan CPO untuk sumber energi terbarukan guna mengatasi pengurangan penggunaan bahan bakar minyak bumi yang menguras subsidi Pemerintah karena harus mengimpor dari Arab Saudi dan terus menggerus Neraca Perdagangan kita perlu diperjuangkan. Inilah saatnya Indonesia menggalakkan biodisel berbasis CPO yang melimpah di negeri tercinta. Semoga.