• Pengawasan gula rafinasi diperketat

    Bisnis Indonesia (7/4) JAKARTA: Departemen Perdagangan meminta pemerintah daerah mengawasi secara ketat peredaran gula rafinasi berbahan baku impor yang diduga diperdagangkan di tingkat pengecer.
    Pengawasan itu guna mencegah meluasnya perembesan gula rafinasi di tingkat pengecer. Gula rafinasi harus didistribusikan segera langsung kepada industri makanan dan minuman.
     
    Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depdag Ardiansyah Parman mengeluarkan surat yang meminta pemerintah daerah segera melakukan monitoring dan pengawasan di pasar-pasar guna mencegah meluasnya perdagangan gula rafinasi di tingkat pengecer.
     
    Surat No. 159/PDN/4/2008 tersebut dikeluarkan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri menyusul surat Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu No. 357/M-DAG/4/2008 yang ditujukan kepada lima produsen gula rafinasi nasional.
     
    Kelima produsen itu adalah PT Angels Products, PT Jawamanis Rafinasi, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata Dunia Sukses Utama, dan PT Dharmapala Usaha Sukses.
     
    "Di beberapa daerah ada laporan yang menyatakan gula rafinasi diperdagangkan di tingkat eceran. Surat itu dikeluarkan untuk mencegah meluasnya peredaran gula rafinasi di tingkat eceran karena dapat merugikan industri dalam negeri," katanya pekan lalu.

    Dipertegas
    Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Abdul Wachid menilai penegasan Depdag terkait dengan peredaran gula rafinasi di tingkat eceran berdampak positif terhadap petani tebu rakyat yang bulan depan mulai masuk musim giling.

     
    Namun, lanjutnya, APTRI meminta pemerintah memberikan ketegasan mengenai nasib perusahaan gula rafinasi baru yang mengajukan izin impor raw sugar (bahan baku gula rafinasi). "Apakah mereka termasuk yang dilarang di dalam surat ini," katanya.
     
    Menurut catatan APTRI, sejumlah pabrik gula di sejumlah daerah seperti di Lampung, Medan dan Makassar akan beroperasi tahun ini dan membutuhkan pasokan raw sugar impor.
     
    Dia tidak mau menyebutkan identitas perusahaan itu. "Pabrik gula di Lampung minta izin impor raw sugar 500.000 ton, Makassar 300.000 ton. Di Medan juga akan beroperasi tahun ini, tapi belum tahu berapa izin impor raw sugar yang diminta," katanya.
     
    Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pada 2 April melayangkan surat sekaligus memperingatkan lima perusahaan gula rafinasi nasional agar tidak menjual gula rafinasi yang berbahan baku impor kepada tingkat pengecer.
    Surat itu dikeluarkan menyusul ditemukannya peredaran gula rafinasi di berbagai daerah.
     
    Mendag meminta lima produsen itu menjamin dua minggu setelah surat itu dikeluarkan tidak ada gula rafinasi yang diperdagangkan di tingkat pengecer.
    Menurut Mendag, gula rafinasi produksi lima perusahaan itu harus disalurkan langsung kepada industri makanan dan minuman. "Penyimpangan atas peredaran gula rafinasi menjadi tanggung jawab saudara [produsen gula rafinasi]," kata Mendag. (10) (SLt)