• Total perdagangan gula rafinasi 26.000 ton

    Bisnis Indonesia (10/12) JAKARTA: Departemen Perdagangan melaporkan total perdagangan gula rafinasi antar pulau hanya mencapai 26.000 ton dalam kurun waktu 11 bulan sedangkan produksi gula rafinasi eks-Lampung mencapai 36.000 ton.
     
    Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Ardiansyah Parman mengatakan gula rafinasi eks-Lampung bisa diperdagangkan di pasar konsumsi karena menggunakan gula kasar (raw sugar) lokal.
     
    "[Perdagangan] antarpulau rafinasi kecil kok terutama yang ke Sumatra. Itu yang kami terbitkan [izin] perdagangan antarpulaunya. Kalau yang rafinasi ekspabrik tebu di Lampung menurut SK Menperindag 527/2004 boleh masuk pasar," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.
     
    Sementara itu izin perdagangan antarpulau sekitar 26.000 ton gula rafinasi-berbahan baku raw sugar impor-khusus untuk industri makanan dan minuman. Dia menegaskan larangan masuk gula rafinasi ke pasar konsumsi bukan didasarkan keamanan pangan.
     
    Dia menjelaskan raw sugar merupakan gula yang belum layak dikonsumsi karena harus diolah kembali menjadi refined sugar yang di Indonesia disebut sebagai gula rafinasi dengan derajat Icumsa tertentu.
     
    Istilah gula kasar dan refined sugar, sambungnya, merupakan hal yang baku secara internasional. "Kalau Icumsanya kecil itu lebih murni. Produksi dalam negeri mungkin angka Icumsa-nya di atas 150. Kalau kita tidak sesuai dengan dunia kan lucu juga."
     
    Ardiansyah melanjutkan ketentuan itu juga dianut dalam SK Menperindag No. 527/2004 tentang Ketentuan Impor Gula dan Departemen Perdagangan saat ini belum berniat mengubah keputusan tersebut.
     
    SK Menperindag No. 527/2004 hanya memperkenankan gula berbahan baku dalam negeri yang bisa dipasarkan di pasar konsumsi, sedangkan refined sugar berbahan baku impor hanya diperkenankan untuk industri.
     
    Selain itu, gula kristal putih yang diimpor Jakarta ketika terjadi penurunan stok di pasar konsumsi sebenarnya merupakan gula rafinasi dalam istilah yang digunakan di Tanah Air. (lutfi.zaenudin) SLt