• Sime Darby akan gencar buru lahan di Indonesia

    Bisnis Indonesia (3/12) JAKARTA: Sime Darby-hasil merger Sime Darby Bhd, Golden Hope Bhd, Guthrie Bhd-diproyeksi semakin aktif berburu lahan kelapa sawit di Indonesia pascamerger, tetapi tidak akan mengganggu pasar komoditas minyak sawit (crude palm oil/CPO) di Indonesia.Demikian simpulan pernyataan sejumlah kalangan, a.l. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaludin Hasibuan, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian (Depperin) Benny Wahyudi, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minayak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga dan Bambang Drajat, peneliti senior di Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI).
    Mereka menanggapi aksi merger tiga perusahaan Malaysia, Sime Darby Bhd, Guthrie Bhd dan Golden Hope Plantation Bhd, pada akhir November 2006 dengan membentuk nama baru Sime Darby (sebelumnya Synergy Drive Bhd). Nilai kapitalisasi perusahaan itu sekitar RM51 miliar.

     

    Menurut Bambang, ada konsekuensi logis dari merger itu, yakni membuat Sime Darby akan makin aktif memperluas perkebunan sawit di Indonesia. Namun, Indonesia tetap menjadi hanya pengolah sawit, dan tidak sampai pada proses pemurnian atau produksi biodiesel.

     

    Hasibuan mengatakan merger tiga perusahaan itu hanya upaya efisiensi untuk meningkatkan daya saing di sektor hulu dan tidak akan merusak pasar minyak sawit mentah di Indonesia.

     

    Hal ini karena penggabungan ketiganya hanya mengambil porsi sekitar 250.000 ha perkebunan di Indonesia. Sementara itu, berdasarkan data Gapki, luas lahan mereka masih di bawah total lahan perkebunan milik BUMN yang mencapai 600.000 ha.

     

    "Lahan mereka [di Indonesia] itu kecil. CPO itu komoditas global. Jadi, [harganya] tidak ditentukan mereka," paparnya.

     

    Di samping Sime Darby, langkah serupa dilakukan perusahaan dagang yang berbasis di Singapura, Group Wilmar International Ltd dengan Group Kuok, yang menggabungkan sejumlah perusahaan kelompoknya.

     

    Perusahaan Grup Wilmar yang ikut digabungkan adalah Wilmar Holding Pte Ltd (WHPL) dan Archer Daniels Midland Asia (ADM), sedangkan dari Grup Kuok mencakup PPB Oil Palm Berhard (PPBOP), PGEO Group Sdn Bhd dan Kuok Oils and Grains Pte Ltd. Nilai kapitalisasi perusahaan baru diperkirakan US$7 miliar (RM 25 miliar).

     

    Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian (Depperin) Benny Wahyudi juga berpendapat merger tiga perusahaan asal Malaysia tidak akan mengganggu struktur industri di dalam negeri. Pasalnya, para pelaku industri CPO domestik juga turut berperan dalam menentukan persaingan usaha. "Saya kira tidak, grup Sinar Mas, Astra Agro Lestari juga akan saling berkompetisi," katanya.

     

    Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga industri dalam negeri siap berkompetisi dengan mereka.? "Industri di dalam negeri siap berkompetisi," kata Sahat Sinaga.

    Sejumlah risiko
    Nilai investasi Malaysia di perkebunan kelapa sawit di Indonesia hingga April 2006 diperkirakan Rp3,2 triliun dengan luas lahan perkebunan 800.000 ha atau 14,5% dari luas seluruh perkebunan Indonesia.

     
    Perubahan perilaku perusahaan kelapa sawit Malaysia dinilai akan menimbulkan beberapa risiko yang dihadapi Indonesia. Dengan catatan tidak ada perubahan perilaku perusahaan perkebunan Indonesia, posisi Indonesia di pasar internasional secara permanen dijadikan sebagai follower Malaysia. "Secara sistematis, diarahkan sebagai pengekspor CPO atau penyedia bahan baku biodiesel," kata Bambang.
     
     
    Risiko lain yang mungkin dialami adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta akan menghadapi kesulitan, terutama perusahaan inti akan diincar untuk diakuisisi. Akuisisi ini secara tidak langsung merupakan salah satu jalan untuk menguasai perkebunan rakyat (plasma).
    Sebagian perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah perkebunan rakyat, baik sebagai plasma dalam PIR maupun nonplasma. "Dengan akuisisi ini, sedikit banyak akan mempengaruhi perkebunan rakyat," tutur Bambang.
    Hasibuan mengingatkan pemerintah harus segera menyiapkan struktur industri agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok minyak sawit, melalui kebijakan yang mendorong pengusaha mengembangkan industri turunannya. (m02) (martin.sihombing) SLt