• Swasta Kuasai 53% Lahan Sawit di RI

    Bissnsis Indonesia (12/11) NUSA DUA, Bali: Kondisi bisnis CPO yang kian menggiurkan mendorong pertumbuhan investasi perkebunan kelapa sawit milik swasta terus bertambah meninggalkan luas perkebunan rakyat.
    Hingga saat ini, dari 6 juta hektare (ha) lahan sawit di Indonesia, sebanyak? 53% di antaranya milik swasta dan 26% milik petani dan sisanya milik badan usaha milik negara (BUMN).

     

    Namun, sebanyak 20% dari lahan swasta itu atau sekitar 580.000 ha perkebunan kelapa sawit memiliki tanaman yang uzur. Sementara itu, di perkebunan rakyat jauh lebih parah karena tanaman tua sudah mencapai 1,23 juta hektare dari total lahan 1,9 juta ha.

     
    "Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian," ujar Ketua Umum Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Akmaluddin Hasibuan pada Indonesian Palm Oil Conference and Price Outlook 2008 di Nusa Dua Bali, kemarin.
     
    Menurut dia, hal ini disebabkan dukungan dari bibit untuk melakukan peremajaan (replanting). "Bibit yang ada produktivitasnya rendah sekitar 3 ton per ha, negara lain seperti Malaysia 4 ton," tuturnya.
     
    Dia mengakui luas kebun kelapa sawit di Indonesia tumbuh sejak 2002 dari luas lahan 3,5 juta ha menjadi enam juta ha pada 2006. Pertambahan itu, kata mantan Dirut PTPN III Medan itu, membuat produksi CPO Indonesia juga mengalami kenaikan dari 9,4 juta ton pada 2002 menjadi 15,9 juta ton atau 6% per tahun.
     
    Kenaikkan produksi CPO itu juga didorong terus membaiknya harga CPO. Bahkan, pada 2008 harga komoditas itu masih akan bergantong pada harga minyak mentah, tetapi diperkirakan rata-rata harga akan berada di level US$900 per ton.Sementara itu, harga tandan buah segar diperkirakan mencapai Rp1.600 per kilogram atau rata-rata Rp1.450 per kilogram.
    Soal bibit, Mentan Anton Apriyanto mengungkapkan Indonesia masih butuh bibit berkualitas.? Swasta yang mengembangkan bibit berkualitas agar menjual secara waralaba di berbagai daerah seperti di Papua, Kalimantan, Riau.

    Boleh impor
    Dari kebutuhan sekitar 200 juta kecambah, ujarnya, baru tersedia 180 juta. Karena itu, dua negara produsen bibit sawit berkualitas, yaitu Papua Nugini dan Kosta Rika, berpeluang merebut pasar nasional yang masih kekurangan 20 juta benih setelah larangan impor dicabut pemerintah baru-baru ini.
    Ahmad Mangga Barani, Dirjen Perkebunan Deptan, mengakui pihaknya telah membuka kembali impor benih sawit dari Papua Nugini sejak Juli 2007 setelah Badan Karantina Pertanian melakukan evaluasi kualitas benih sawit.
    "Setelah kita melaksanakan peninjauan dan penelitian terhadap benih sawit dari PNG [Papua New Guinea] ternyata tidak terdapat organisme pengganggu yang semula kita curigai sehingga kami mulai izinkan [impor] sejak 2-3 bulan lalu," katanya.

     
    Selain dari PNG, Ahmad menambahkan benih dari Kosta Rika juga diperbolehkan masuk dengan catatan harus singgah di negara ketiga dan mengganti kemasan (repacking) setidaknya 2-3 hari. (aprika.hernanda, martin. sihombing) SLt