• KPPU: Oligopoli minyak goreng akibat regulasi

    Bisnis Indonesia (21/11) JAKARTA: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyatakan regulasi telah mendorong adanya oligopoli pasar dan industri minyak sawit mentah (CPO). Oleh sebab itu, lembaga ini akan memberikan masukan kepada pemerintah untuk mengubah peraturan terkait.

    Ketua KPPU M. Iqbal menyatakan pihaknya akan memprioritaskan untuk memberikan masukan perubahan regulasi dari pada memanggil pelaku usaha terkait yang sebelumnya diduga melakukan persekongkolan membentuk harga minyak goreng (kartel).

    "Perubahan regulasi lebih diutamakan untuk mengubah pasar yang oligopoli, sedangkan mengenai pelaku usaha terkait dengan adanya oligopoli akan diselidiki selanjutnya," kata Iqbal, kemarin.

     

    Menurut dia, regulasi di Departemen Pertanian mengenai izin usaha telah mendorong adanya oligopoli di tingkat hulu. Namun, dia tidak menjelaskan secara pasti Permentan yang dimaksud.

    Selain itu, lanjutnya, Peraturan Menteri Perdagangan mengenai distribusi minyak goreng juga telah membawa iklim usaha CPO di tingkat hilir mengarah ke oligopoli dan kartel harga.

    Soy Martua Pardede, Ketua Komisi Etika Usaha Kadin Indonesia, kurang sependapat dengan adanya oligopoli di industri dan pasar minyak goreng. Pasalnya, kenaikan harga minyak goreng disebabkan oleh pengaruh harga global.

    Kejanggalan
    Dengan demikian, menurutnya, tidak ada unsur oligopoli yang mengarah ke kartel, apalagi produsen minyak sawit dunia tidak hanya dikuasai Indonesia.

    "Kenaikan harga jelas karena pengaruh pasar global, masyarakat Indonesia saja yang belum siap dengan adanya gejolak itu," paparnya.

    Sementara itu, hasil riset Jan Horas V. Purba, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan Bogor, menyatakan ada kejanggalan dari sudut pandang ekonomi mengenai penerapan pungutan ekspor (PE) CPO.

    Penelitian tersebut menunjukkan peningkatan PE sebesar 10% telah memengaruhi kenaikan harga CPO internasional sebesar 15,5%.

    "Hal ini sangat bertentangan dengan teori ekonomi, di mana setiap adanya peningkatan dalam penawaran maka akan menyebabkan penurunan harga," kata Jan seperti dilansir dalam kerangka acuan kerja indusri minyak sawit KPPU.

    KPPU menyampaikan pasar minyak goreng di Sumatra praktis dikuasai oleh tiga pemain besar, yaitu Wilmar Group, Sinar Mas dan Musim Mas.

    Pasar Jawa Sinar Mas dan Musim Mas juga mendominasi bersama-sama dengan Hasil Karsa, Raja Garuda Mas, Salim Group dan Berlian Eka Sakti. (m02) SLt