• Minyak sawit wajib miliki sertifikat mutu

    Bisnis Indonesia (10/10) MEDAN: Gabungan Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengungkapkan sidang kelima Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Singapura pada November akan menetapkan sertifikasi minyak sawit.
     
    Ketua Harian Gapki Derom Bangun, salah satu Chairperson RSPO, mengatakan pada sidang kelima RSPO akan dirumuskan bentuk sertifikasi minyak sawit dan produk turunannya yang mengacu pada delapan prinsip dan 132 kriteria.
     
    "Sertifikasi itu sangat diperlukan untuk membuat standar minyak sawit dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan," ujarnya kepada Bisnis di Medan, kemarin.
     
    Menurut dia, sertifikasi minyak sawit mendesak dilakukan agar standar mutu serta pengelolaan perkebunan kelapa sawit memiliki standar yang baku dan diakui secara internasional.
     
    Persoalannya, kata dia, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia baru sedikit yang masuk.menjadi anggota RSPO. Dia mencontohkan dari 220 anggota Gapki di Indonesia baru 10% yang menjadi anggota RSPO. "Selebihnya belum masuk dengan berbagai pertimbangan," tuturnya.
     
    Padahal, kata dia, perkebunan sawit di Malaysia yang sudah masuk menjadi anggota RSPO sekitar 30%-40%. Demikian juga perusahaan perkebunan kelapa sawit di Papua Nugini, menurut dia, sudah sekitar 30%-40% menjadi anggota RSPO.
     
    Dia mengatakan bila pada sidang RSPO diputuskan sertifikasi minyak sawit dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkesinambungan, mau tidak mau, suka atau tidak semua perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia harus masuk jadi anggota RSPO.
     
    Di kalangan anggota Gapki, paparnya, sudah sering dilakukan sosialisasi betapa pentingnya masuk anggota RSPO. Dia mengatakan biasanya orang Indonesia baru sibuk setelah ada masalah yang terkena pada perusahaannya. Untuk menjadi anggota Gapki saja, tuturnya, tidak semua perusahaan satu grup didaftarkan menjadi anggota untuk menghindari iuran. (Master Sihotang) SLt.