• Mentan: Industri Kelapa Sawit Tak Merusak Lingkungan

    Suara Pembaruan (3/10) JAKARTA. Departemen Pertanian dan Dewan Minyak Sawit Indonesia mengadakan pertemuan dengan sejumlah pihak, termasuk kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Eropa, di London, Inggris, untuk menjelaskan masalah industri kelapa sawit. LSM asing itu selalu berkampanye negatif tentang industri sawit sehingga merugikan Indonesia .

    "Sejumlah LSM di Eropa selalu menuduh industri kelapa sawit kita merusak lingkungan. Tuduhan itu tidak sepenuhnya benar, karena semua industri besar kelapa sawit sudah menjalankan prinsip industri berwawasan lingkungan dan berkelanjutan," ujar Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono melalui telepon dari London, kepada SP, di Jakarta, Selasa (2/10).

    Mentan yang memimpin delegasi Indonesia itu sudah bertemu dengan pemerintah Inggris, dalam hal ini Department of Environment, Food and Rural Affairs (DEFRA), dan dua media setempat. Selanjutnya, delegasi Indonesia akan bertemu beberapa media berpengaruh di Eropa dan sejumlah LSM.

    "Pihak DEFRA dan dua media Inggris dapat menerima penjelasan mengenai kondisi perkelapasawitan di Indonesia . Mereka bisa memahami posisi kita, dan sekarang bisa mendapatkan masukan yang seimbang. Selama ini, informasi yang mereka peroleh kebanyakan hanya dari LSM," tutur Anton.

    Dia menyesalkan sikap LSM Eropa yang melihat industri kelapa sawit Indonesia selalu dari sisi negatif. Mereka menuduh industri kelapa sawit merusak hutan, mengakibatkan berkurangnya satwa langka, dan penyumbang terbesar pemanasan global. LSM itu juga menuduh perkebunan kelapa sawit mengakibatkan hilangnya sumber-sumber air.

    Kesalahan
    Anton mengakui, ada beberapa usaha perkebunan yang melakukan kesalahan, namun tidak seperti yang dituduhkan. Pihaknya sudah memaparkan berbagai fakta untuk menghindari kesalahpahaman.

    Pemerintah, katanya, telah mengeluarkan kebijakan untuk mengembangkan industri perkelapasawitan demi kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.

    Pemerintah, menurutnya, telah berkomitmen untuk mengembangkan industri yang berkelanjutan melalui sejumlah program, seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), menurunkan kadar emisi gas CO2, mengimplementasikan Good Agriculture Practice, serta menjaga hutan hujan tropis dan satwa langka.

    "Dasar kita untuk menjawab tuduhan LSM internasional dan masyarakat Eropa terhadap pengembangan sawit di Indonesia, antara lain telah dijalankannya Corporate Social Responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan), serta pemberdayaan usaha kecil dan mikro di lingkungan perkebunan kelapa sawit," ucapnya. [S-26] SLT