• Malaysia incar kebun sawit skala kecil

    Bisnis Indonesia (1/10) MEDAN: Penguasaan investor asing terhadap lahan sawit di Indonesia akhir-akhir ini semakin meluas karena banyak investor Malaysia melakukan pembelian sawit di Indonesia di bawah tangan dan tidak dilaporkan kepada instansi terkait.

    Ketua Harian Gapki Derom Bangun membenarkan investor Malaysia akhir-akhir ini mengincar kebun-kebun berskala kecil seperti 300 hektare dan 6.000 hektare. Bahkan,? di bawah luas itu pun dibeli.

    "Trennya akhir-akhir ini memang seperti itu. Jadi sulit menetapkan berapa luas sawit investor asing saat ini di Indonesia," tuturnya, akhir pekan lalu.
    Sekitar 10? tahun lalu, menurut dia, jual beli sawit masih dilakukan antara pemegang saham satu perusahaan dan investor baru lewat transaksi terbuka dan dilaporkan kepada pemerintah. Dia mencontohkan penjualan PT Bakrie Sumatra Plantation (BSP), transaksi PT Mina Mas (Gutrie Malaysia), dan pembelian atau akuisisi PT PP London Sumatera.

    Rupanya, kata Bangun akhir-akhir ini ada tren masyarakat yang mengusahakan areal perkebunan 15.000 ha, 10.000 ha, 6.000 ha, 300 ha, dan malahan di bawahnya juga menjual arealnya kepada investor terutama dari Malaysia, tanpa balik nama.

    "Kalau disebut transaksi di bawah tangan kurang tepat karena pengusahaan lahan tetap atas nama pemilik lama. Gapki kurang tahu bagaimana perjanjian jual beli mereka," tuturnya.

    Dia mencontohkan ada sejumlah kebun yang pemiliknya WNI, tapi dikuasai investor Malaysia. Namun, nama perusahaan dan pemegang saham masih atas nama orang lama. Secara hukum, kata dia, akan menimbulkan masalah dikemudian hari. "Kemungkinan besar ada hal-hal yang dihindari, sehingga kepemilikan kebun itu tetap dibiarkan yang lama," tuturnya.

    Sementara itu Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Asmar Arsjad mengakui praktik jual beli kebun sawit seperti itu akhir-akhir memang marak. "Sulit mendeteksi saat ini apakah satu perkebunan sudah menjadi milik asing atau belum. di depan masih orang kita, namun, lanjutnya, pemilik sesungguhnya sudah investor asing.
    Dia mencontohkan kebun kelapa sawit Graha Dura Leidong Prima dan Sawita Leidong Jaya seluas 15.000 ha di Labuhan Batu, disebut-sebut milik investor Malaysia. Tapi, kata dia, yang muncul ke permukaan adalah warga negara Indonesia. "Kebun ini akan diakuisisi PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP)," tuturnya.

    Beralih ke Malaysia

    Contoh lain adalah PT Karimun Aromatic, Kabupaten Langkat yang disebut-sebut juga sudah beralih ke investor Malaysia apakah lewat penjualan atau kontrak.
    Sistem pengalihan kebun ke investor Malaysia sudah menjadi tren. Karena itu, pemerintah diharapkan membuat aturan yang jelas agar penguasaan asing terhadap perkebunan kelapa sawit tidak semakin dominan.

    Ketika mau dikonfirmasi soal status PT Karimun Aromatic kepada manajernya, mereka tidak bersedia memberikan jawaban. "Yang pasti ada lima orang Malaysia di perusahaan ini sekarang untuk menjalankan usaha ini," tutur seorang karyawan perusahaan yang dulu milik Handoko Winata itu.

    Derom malahan mengusulkan kepada pemerintah agar perkebunan swasta asing dan lokal yang membuka perkebunan skala besar menyisihkan 20% arealnya untuk masyarakat sekitar kebun di luar areal perkebunan inti rakyat (PIR) yang akan dikembangkan. (Master Sihotang) SLt