• Tata Niaga Gula Dipertahankan

    Binis Indonesia 19/9 JAKARTA. Departemen Perdagangan akhirnya memutuskan posisi pemerintah di bidang pergulaan nasional melalui keputusan untuk mempertahankan SK Menperindag No.527.2004 tentang Ketentuan Impor Gula.

    Keputusan untuk mempertahankan SK Menperindag No. 527/MPP/Kep/9?2004 itu al. menyangkut kuota impor, kewajiban importir terdaftar untuk menjaga harga minimum petani Rp.4.900 per kg.

    “Kewajiban IT menjaga harga minimum petani Rp.4.900 per kg dan harga eceran Rp.6.100 per kg untuk pulau Jawa dan RP.6.300 per kg untuk luar Jawa,” kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Jakarta, kemarin.

    Kebijakan tidak mengubah SK Menperindag 527/2004 itu berarti mempertahankan pemisahan antara gula kristal rafinasi untuk industri makanan dan minuman dengan gula kristal yang dapat dikonsumsi langsung tanpa proses lagi.

    Selain itu, pemerintah juga tetap membatasi jumlah importer terdaftar gula di antaranya dengan persyaratan perusahaan tersebut mendapatkan sedikitnya 75% tebu dari petani atau dari hasil kerja sama dengan petani setempat.

    Ketentuan tentang definisi gula dan jumlah IT gula merupakan bagian SK Menperindag No 527/2004 yang paling banyak mendapat ‘protes’ dari industri dan pengusaha di sektor pergulaan.

    Dari satu seminar tentang swasembada gula 2009 di Jakarta beberapa waktu yang lalu usulan perubahan terhadap SK tersebut sempat muncul di antaranya dari Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) yang menginginkan perubahan istilah gula dan Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) tentang pembatasan IT gula.

    Namun pemerintah akhirnya memutuskan mempertahankan tata niaga gula yang lama. Seperti diketahui, sampai saat ini Indonesia masih menjadi importer gula karena produk tebu petani belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    Lebih Rendah
    Terkait dengan stabilisasi harga pada bulan puasa dan lebaran. Mendag menyebutkan harga gula pasir lokal pada 13 September sekitar Rp.6.525 per kg lebih rendah 0,15% dari rata-rata harga pada bulan sebelumnya.

    Total stok fisik gula pada 1 September mencapai 700.050 ton atau sekitar 52% dari prognosis ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat sebesar 1,34 juta ton untuk periode tersebut.

    Posisi stok fisik gula, hasil penghitungan lapangan oleh Departemen Perdagangan itu, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama puasa dan lebaran, tahun ini berlangsung pada September-Oktober, sekitar 280.681 ton (M02) SLt