• Minyak sawit berkilau, bank gelontorkan kredit

    Bisnis Indonesia, (14/8) Licinnya minyak sawit ternyata cukup ampuh meluruhkan ketatnya sikap bank agar rela menggelontorkan banyak duit untuk pengembangan perkebunan dan industri turunan komoditas tersebut.

    Dahulu sektor perkebunan belum banyak dilirik perbankan karena dinilai beresiko tinggi. Namun sejak pemerintah menggelar program revitalisaai 2006-2010, dana publik di bank pun mengucur deras ke sektor perkebunan.

    Program revitalisasi perkebunan dengan kebutuhan dana Rp.40 triliun pada 2 juta ha ini, memang tak hanya sawit karena pemerintah juga ingin adanya pengembangan komoditas kakao dan karet.

    Sawit tetap menjadi primadona di industri perkebunan, meski pengembangan komoditas ini diterpa isu kartel, rencana pembatasan lahan untuk holding company, kenaikan harga patokan ekspor (HPE) hingga soal pabrik tanpa kebun.

    Tapi kilau harga crude palm oil masih cukup menggiurkan bagi perbankan mencari bunga besar dengan memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan yang bermain di kebun sawit.

    Kredit bank memang tak hanya yang komersial (kredit investasi dan modal kerja biasa) tetapi juga dibungkus dalam kredit program pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan (KPEN-RP).

    Pada kredit program, lima bank tercatat yang siap untuk mendukung dengan komitmen pendanaan  hingga Rp. 25,48 triliun, yaitu BRI, Bank Mandiri, Bukopin, Bank Nagari, dan Bank Pembangunan Daerah Sumut.

    Selaku bank dengan asset terbesar nasional, Bank Mandiri bahkan memiliki dua unit untuk melayani perkebunan, yaitu layanan kredit korporasi (plantation specialist) dan satunya di small business group.

    Kredit Perkebunan

     

    Sunarso, Senior Vice President Plantation Specialist Corporate Banking Bank Mandiri mengatakan baki debet kredit perkebunan sawit hingga 31 Juni 2007 mencapai Rp.10,5 triliun dari limit plafon Rp.17,8 triliun.

    Nilai tersebut merupakan 73% dari total kredit perkebunan (termasuk komoditas lainnya seperti karet, tebu, kopi dan teh) Bank Mandiri sebanyak Rp. 15,08 triliun hingga tahun ini.

    Dari dana Rp.0,5 triliun itu sebagian besar terserap pemain-pemain besar di industri perkebunan seperti sejumlah PTPN, kelompok usaha Sinar Mas, Lonsum, Astra Agro Lestari, Musim Mas. Sejak akhir tahun lalu paling tidak lebih dari 53 perusahaan yang merupakan kelompok korporasi bidang perkebunan sawit yang menjadi sasaran kredit Bank Mandiri.

    Awala tahun misalnya Sinar Mas, Incasi Raya, Satria Group serta Permata Hijau Sawit digelontori duit US$432 juta (Rp.3,9 triliun)

    Sinar Mas bakal membuka lahan kelapa sawit seluas 67.000 ha dengan nilai proyek Rp.2,8 triliun. Kelompok usaha pabrik pengolahan kelapa sawit kapasitas 30 ton per jam dengan nilai proyek Rp.45 miliar di Sumatera.

    Incasi tahun ini membuka lahan perkebunan seluas 32.000 ha di Sumatera Barat dan Kalimantan Barat dengan nilai proyek Rp.725 miliar. Selain itu pabrik biodiesel berkapasitas 200.000 ton per tahun senilai Rp.270 miliar juga akan dibangun di Sumbar.

    Sementara Satria hendak membuka perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 ha di Kalimantan Tengah senilai Rp.300 miliar. Sementara itu, Permata Hijau Sawit mendapatkan fasilitas pembiyaan proyek pabrik pengolahan biodiesel dengan kapasitas 198.000 ton pertahun dengan nilai proyek Rp.270 miliar di Riau. Itu belum seberapa, sebab pekan lalu Bank Mandiri juga menyalurkan kredit senilai US$71,59 juta kepada Union Sampoerna Triputra Persada Group (USTP) mengakuisisi lahan perkebunan sawit milik Kulim Sdn Bhd.

    Lolos

     

    Berita yang seakan lolos perhatian publik ini menarik di tengah derasnya investor asing yang masuk menggarap lahan kebun sawit di Tanah Air. USTP merupakan perusahaan kongsi milik dua eksekutif Astra TP Rachmat dan Benny Subianto, serta Soetjahjono Winarko salah satu anggota keluarga kelompok usaha HM Sampoerna.

    Perusahaan Malaysia itu sepakat menjual lahan seluas 63.305 ha di kabupaten Sukamara, Seroyan dan Lamandau di Kalimantan Tengah dengan nilai US$125 juta (sekitar Rp.1,1 triliun).

    Ahmad Mohamad Managing Director Kulim, beralasan hengkangnya Kulim dari usaha produksi di Indonesia lebih dikarenakan restrukturisasi internal, tak mau berpolemik soal kartel dan pembatasan lahan.

    Dia justru menyebutkan Kulim akan memfokuskan kegiatan produksi di Papua Nugini (44.713 ha) dan kepulauan Solomon (6.594 ha) serta tentu saja di Malaysia (32.644 ha). Bank Negara Indonesia lain lagi. Dirut BNI Sigit Pramono bahkan membantuk divisi khusus yang menangani penyaluran kredit dan mitigasi risiko untuk kredit perkebunan, terutama sawit.
    Tahun lalu, ada 50 debitor BNI yang menerima kredit senilai Rp.3,35 triliun untuk mengembangkan lahan perkebunan seluas 411.000 ha. Sedangkan tahun ini, bank plat merah tersebut telah menyepakati penyaluran kredit awal Rp.1,2 triliun kepada enam nasabah, baik debitor lama maupun baru seperti Sampoerna Agro, Sungai Budi Group, Rekayasa Group, Sinar Mas Group, Musimas Group dan Bio Energi Indonesia.

    Sigit menegaskan bank yang dipimpinnya menargetkan mampu menyalurkan kredit rata-rata sebesar Rp.5 triliun baik untuk usaha replanting lahan kelapa sawit maupun pabrik derivatifnya. (Fahmi Ahmad) SLt