• Turunkan PE Ekpor Turunan CPO

    (Bisnis Indonesia (4/7) JAKARTA). Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) meminta pemerintah menurunkan pungutan ekspor (PE) produk turunan minyak sawit mentah (CPO), pasalnya sejak kenaikan PE secara mentah ekspor komoditas itu merosot.

    Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan akibat pengenaan PE justru persentase peningkatan ekspor CPO lebih meningkat jika dibandingkan produk turunannya dari bulan sebelumnya.” Meski lalu ekspor turun, tapi prentasi ekspor CPO naik,“ ujar Sahat kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.

    Dulu ekspor CPO sekitar 35%-40%, sekarang sudah 58% dan turunnya tinggal 42%, artinya kemampuan ekspor menurun,” katanya.

    Berdasarkan  catatan GIMNI, ekspor CPO dan turunnya pada bulan Juni turun sebesar 250.000 ton menjadi sekitar 850.000 ton biasanya 1,1 juta ton. Dengan rincian  CPO  sebanyak 580.000 ton produk turunnya sekitar 250.000 ton–300.000 ton .

    Sementara itu, catatan Bisnis menunjukkan tren ekspor minyak sawit mentah terus meningkat hingga Mei. Ekspor CPO Januari baru sekitar 717.000 ton, meningkat15% pada Februari, dan Maret naik lagi sebesar 28% .Kenaikan ekspor komoditas itu terus berkanjut hingga April sebesar 38%, bahkan pada Mei melonjak 41% dari volume ekspor Januari menjadi 1.011.000 ton.

    Semenjak kenaikan PE  CPO dan turunnya sebesar 6,5%-10% pada 15 Juni, ekspor komoditas itu anjlok. Namun, menurut Sahat, jika PE itu bisa menghambat laju ekspor CPO berarti bagus.” Tetapi, apabila semua produk turunnya ikut terhambat ekspornya berarti nerungikan Indonesi. Karena peluang pasar ekspor jelas-jelas diambil eksportir lain, seperti Malaysia,” tukasnya.

    Sahat mengungkapkan pihaknya telah menyampaikan progress report lapangan mengenai kondisi pasar CPO dan turunnya setelah ada kanaikan PE. Laporan GIMNI, menyebutkan selama dua minggu ini RBD olein dan produk turunan sejenisnya telah kalah bersaing dengan Malaysia.” Maka, kami meminta dievaluasi untuk PE produk turunya,” tegasnya.

    Selain itu, tambahnya, utilisasi refinary pun mengalami penurunan menjadi sekitar 20%-22% dari semula 56%-59%, para pelaku indusri mengaku khawatir mengalami kerugian apabila ekspor, karena daya saing. “ Sebanyak 20% itu [refinery yang bekerja] hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri saja atau sekitar 160.000 ton. Jadi, penurunnya sangat drastis,” tandasnya. Sementara itu, harga CPO di bursa berjangka Malaysia kemarin mulai naik lagi. Harga pengapalan  Juli   menjadi RM2.461 per ton dari pekan sebelumnya sebesar RM2. 427 per ton. SLt