• Tiga Komoditas Masuk Sistem Antisipasi Harga

    REPUBLIKA, JAKARTA- (21/7)  Kebijakan ini bukan melakukan pengontrolan harga. Pemerintah akan merapkan sistem antisipasi dini gejolak harga didalam negeri terhadap 3 komoditas bahan baku pokok, yaitu beras, gula, dan minyak goreng. Salah satu opsi antisipasi dini yang akan dilakukan dengan membentuk stok ketiga komoditas tersebut.

    Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan saat tim teknis yang berada di bawah koordinasi Menko perekonomian tengah melakukan pengkajian terhadap beberapa bahan kebutuhan pokok yang bisa di masukkan dalam mekanisme pengawasan harga ini.” Pengawasan yang kita lakukan mengenai gejolak harga ataupan antisipasi stabilisasi harga, apakah dengan membentuk stok atau instrumen lainnya. Tetapi sistem ini tidak akan kita lakukan terhadap semua kebutuhan pokok, tentu kita fokuskan utama seperti beras, gula dan minyak goreng,” papar  Mendag di jakarta, kamis (19/7).

    Selain itu, jelas Mendag, tim teknis ini juga akan menyiapkan sejumlah opsi dan menetapkan beberapa indikator yang nantinya akan nenjadi acuan pemerintah dalam melakukan langkah–langkah menjaga kestabilan harga bahan kebutuhan pokok di dalam negeri. Namun demikian, ungkap Mendag, langkah- langkah stabilisasi harga yang akan di ambil pemerintah akan berbeda untuk setiap komoditas. Mengingat gejolak harga di dalam negeri sangat erat kaitannya dengan pola –pola tertentu yang terjadi diluar negeri seperti fluktuasi harga minyak mentah dunia.

    Lebih lanjut Mendag menegaskan, antisipasi gejolak harga ini bukan ditujukan untuk melakukan pengontrolan terhadap harga didalam negeri. ”Kalau mengenai kestabilan bahan pokok, Indonesia tidak bisa mengontrol harga dengan suatu undang–undang. Itu tidak memungkinkan dalam konteks negara seperti Indonesia, kalaupun itu diterapkan kita akan balik ke zaman dulu,” ujarnya.

    Dalam melakukan mekanisme sistem antisipasi dini ini, tambah Mendag, pemerintah belum berencana membentuk badan yang khusus melakukan pengawasan terhadap gejolak harga ketig komoditas ini di dalam negeri seperti halnya yang akan diterapkan pemerintah Malaysia sedikitnya melakukan pengawasan harga terhadap 23 komoditas didalam negeri jiran itu melalui sebuah badan khusus.

    Dalam kesempatan sama Mendag menuturkan Departemen Perdagangan (Depdag) menargetkan peningkatan ekspr sebesar14,5 persen di tahun 2008 mendatang. Angka peningkatan ekspor ini merupakan target optimistis minimum yang dapat di capai Depdag. “Itu target berdasarkan rencana kerja dan anggaran pemerintah (RKAP) 2008. Kalau kinerja investasi di tahun ini membaik, kita optimistis ini akan mendorong peningkatan kapasitas ekspor ditahun depan lebih baik,” ujar Mendag.

    Mendag menambahkan, jika melihat realisasi pertumbuhan inventasi sepanjang semester pertama 2007, dirinya optimistis peningkatan ekspor ditahun 2008 akan melebihi target dalam RKAP 2008 yang sebesar 14,5 diatas 14,5 persen, yakni sekitar 16-18 persen,” tandas dia.

    Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono minta semua pihak terkait untuk bersiap menghadapi kompetisi yang akan keras dan terkadang tidak adil dalam perdagangan internasional . ”Kita harus siap menghadapi kompetisi yang keras, kejam dan kadang–kadang tidak adil ,” katanya di Istana Negara, Kamis, saat menerima para peserta rapat kerja Departemen Perdagangan.

    Menurut Presiden, dalam persaingan global semua pihak yang terlibat boleh jadi tidak mau berbagi keuntungan. Oleh karena itu, lanjutnya, bangsa Indonesia harus berusaha sekuat tenaga untuk mendorong perdagangan luar negeri.

    Untuk dapat melalui kompetisi keras di dunia internasional maka, menurut Kepala Negara, Indonesia harus terlebih dahulu mendapat kepercayaan dalam perdagangan internasional.

    Presiden Yudhoyono juga meminta agar perwakilan RI di luar negeri para duta besar untuk turut terlibat dalam upaya itu dengan memahami pasar setempat misalnya mengenai kebijakan perdagangan dan lain-lain. (dia/ant) SLt