• Pengembangan Biodisel Dijanjikan Tidak Ganggu Pangan

    Sekretaris Ketua Tim Nasional
    Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) Evita Legowo mengatakan, saat ini
    pemerintah masih terus mengkaji penggunaan bahan baku alternatif lain
    untuk pengembangan Biofuel yang tidak mengganggu kebutuhan pangan
    masyarakat.

    Hal ini ia sampaikan usai menjadi pembicara dalam seminar bertajuk CPO untuk pangan atau Energi di Jakarta, kemarin.

    Menurut Evita, saat ini memang minyak sawit mentah atau crude palm oil
    (CPO) yang dinilai paling tinggi keekonomiannya sebagai bahan baku
    untuk pengembangan Biofeul. Ia mengambil contoh jika menggunakan
    Jatropa atau tanaman jarak.

    Menurutnya, tanaman ini memang
    sudah berbuah dalam kurun waktu lima bulan. Namun baru bisa digunakan
    untuk menghasilkan kualitas minyak yang baik, setelah lima bulan.

    "Tapi kita tetap usahakan segera (penggunaan bahan baku non bahan pangan). Ini sudah kewajiban kita," jelasnya.

    Selain itu staf ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ini
    menjelaskan, produksi kelapa sawit kita masuk dalam daftar tertinggi di
    dunia. Sementara itu menurut catatan Asosiasi Produsen Biofuel
    Indonesia menyebutkan, produksi minyak sawit pada tahun 2006 mencapai
    16 Juta ton.

    Sedangkan kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 4
    juta ton dengan perincian 3,5 juta ton untuk minyak makan. Kemudian 1
    sampai 1,5 juta ton untuk kebutuhan lainnya dan untuk Biodiesel hanya
    sekitar 0,3 juta ton. "Jadi sebenarnya tidak masalah jika kita gunakan
    untuk bahan baku Biodiesel," tuturnya.

    Senada dengan Evita,
    perwakilan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan
    mengatakan, bahwa kebutuhan CPO untuk pengembangan Biofeul yang
    bertujuan untuk mengatasi krisis nasional itu tidak akan mengganggu
    kebutuhan pangan dalam negeri mengingat produksinya yang terus
    melimpah.

    "Untuk mengatasi krisis, alternatif energi di
    Indonesia yang paling siap adalah yang berasal dari minyak nabati.
    Dalam hal ini adalah minyak sawit," jelasnya.

    Ditempat yang
    sama Ketua pada Pokja Jarak Kadin Indonesia, Suharyo Husen mengatakan,
    pemerintah sebaiknya memang lebih mengutamakan penggunaan CPU untuk
    pangan dibandingkan untuk keperluan industri hilir. Sebab ia menilai,
    Indonesia memiliki alternatif bahan baku lain disamping bahan baku yang
    dapat mengganggu pangan masyarakat.

    "Kuba Kuba dan Venezuela
    saja bisa membuat Biofeul hanya dari ampas tebu sehingga tidak
    mengganggu pangan. Kenapa kita tidak bisa. Oleh karena itu saya kira
    CPO itu lebih utama untuk pangan daripada untuk keperluan industri
    hilir," jelasnya.

    Jumlah produksi Biodiesel sendiri sampai
    April tahun ini sudah mencapai 520 ribu kilo liter. Sedangkan untuk
    Bioethanol, mencapai 850 ribu kilo liter.

    Meita/Jurnal Nasional, 24/07/07. (Twt)