• Minyak Goreng Naik Lagi

    PALEMBANG, KOMPAS (16/7)  Harga minyak goreng curah di kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, kembali naik setelah sempat turun beberapa pekan terakhir. Pada sejumlah pasar, harga minyak goreng naik dari Rp 7.800 per kilogram menjadi Rp 8.200 per kilogram. Kenaikan harga tersebut kembali membuat warga resah.  Kenaikan harga minyak goreng juga terjadi di pelosok Kabupaten Siak yang merupakan salah satu daerah pemasok sawit di Provinsi Riau. Harga bahkan sudah mencapai Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram.

    Para pedagang di pasar 16 Ilir, Pasar Lemabang, dan pasar 26 Ilir, Palembang, Minggu (15/7), menyatakan, kenaikan harga itu telah berlangsung beberapa hari terakhir. ”Kami tak tahu mengapa harga naik ,” kata Jamaluddin, pedagang di Pasar Lemabang.

    Kenaikan harga minyak goreng meresahkan sejumlah warga di tengah beban ekonomi yang makin berat di awal tahun ajaran baru ini. Apalagi, belum lama berselang, masyarakat di hadapkan pada kenaikan harga susu.  Sebelumnya, harga minyak goreng setempat mengalami penurunan secara bertahap dari Rp 9.000 per kg menjadi Rp 7.800 per kg.

     ”Berat rasnya mengatur uang belanja sekarang ini. Harga minyak goreng naik lagi dan harga susu juga naik. Saya hampir putus asa mengatur pengeluaran agar cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari–hari.”  kata Zubaedah, warga Lemabang.  ’

    Zubaidah, warga Desa Tuah Indrapura, Kecamatan Bunga Raya, Siak, mengatakan bahwa harga minyak goreng selalu berubah setiap hari. Harga yang ada sekarang masih relatif tinggi di bandingkan dengan hari – hari sebelumnya.

    Berdasarkan penelusuran kompas si sektor hulu, produksi tandan buah segar (TBS) sawit saat ini memang merosot. Sekretaris Forum komunikasi Patani Kelapa Sawit Sumsel Ahmad Rofi’i, mengatakan, produksi sawit saat ini merosot hingga 50 persen, seiring berlangsungnya musim kemarau.

    Hal ini di duga kuat menjadi penyebab kenaikan harga minyak goteng. Pasalnya, jika pasokan minyak sawit mentah (crude palm oil / CPO)  berkurang, produksi minyak goreng ikut turun.

    Akan tetapi, menurut Direktur Jendral Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman di Jakarta, pasokan CPO di dalam negeri sangat cukup.

    Semester pertama 2007 produsen telah memasok  380.000 ton per bulan ke pasar domestik dari kebutuhan 263.000 ton.  ”Jadi, kenaikan harga minyak goreng benar–benar akibat tekanan harga internasional, bukan karena kekurangan pasokan CPO,” katanya.(LKT/ARTHAM/DAY) SLt