• Sulit capai target biofuel jadi pengganti BBM

    JAKARTA Antara – Target penggantian bahan bakar minyak dengan Bahan
    Bakar Nabati (BBN/biofuel) ke depan sulit tercapai karena dari target
    Desa Mandiri Energi (DME) kebun jarak pada 2009 seluas sekitar 600.000
    hektare baru tersedia 25.581 hektare hingga Mei.

    "Sistem perdagangan minyak jarak pagar baru bisa tercapai kalau DME
    pada 2009 sudah sebanyak 2.000 unit di mana satu DME memiliki luas
    antara 250 dan 300 hektare, jadi memang masih jauh," ujar Deputi BPPT
    bidang Agroindustri dan Bioteknologi Wahono Sumaryono di Jakarta hari
    ini.

    Minyak dari biji jarak pagar (jatropha curcas), menurut dia, sangat
    tepat menjadi solusi kebutuhan akan bahan bakar nabati daripada minyak
    sawit karena harga minyak sawit tidak lagi kompetitif sejak kebutuhan
    sawit di pasar internasional melonjak.

    "Jika sawit sudah dikomersialisasi secara massal dengan sistem
    perdagangan yang mapan sehingga tinggal mengolahnya menjadi BBN, jarak
    pagar belum dibudidayakan sehingga jika mulai ditanam tahun lalu panen
    baru bisa dilakukan dua tahun lagi," katanya.

    Pohon jarak pagar yang telah ditanam saat ini antara lain yang terbesar
    hanya di Lampung sekitar 13.707 ha, Jawa Tengah 6.500 ha, Jawa Timur
    5.530 ha, NTT 3.400 ha, dan Jawa Barat 2.500 ha, sedangkan provinsi
    lain hanya dalam skala ratusan hektare. "Jauh sekali dari harapan."

    Setiap satu hektar pohon jarak pagar, ujarnya, akan menghasilkan empat
    hingga lima ton biji jarak setiap panen (10 bulan) dan dari setiap biji
    jarak, hanya 20%-25% saja yang bisa digunakan jadi minyak nabati
    pengganti BBM.

    "Angka ini hampir sama dengan yang dihasilkan minyak sawit. Tetapi
    kelebihan jarak pagar bisa ditanam di lahan kritis dan marjinal
    sehingga tidak mengganggu hutan seperti halnya sawit. Jarak ini bisa
    jadi solusi bagus daripada sawit," kata anggota Timnas BBN ini.

    Rencananya, lanjut dia, di setiap desa mandiri akan dilengkapi unit
    pengolah minyak jarak satu hingga dua ton per hari serta dihubungkan
    dengan sistem perdagangan BBN, jadi jangan sampai seperti sekarang di
    mana banyak petani tanam jarak lima hektare tetapi tak bisa menjual
    karena tak bertemu yang membutuhkan.

    Dia juga mengatakan sebelum perkebunan jarak pagar bisa dipanen,
    sebenarnya minyak sawit sangat diharapkan mengisi kebutuhan biofuel
    (biodiesel pengganti solar dan bioethanol pengganti bensin) yang mulai
    digenjot sekarang ini.

    Untuk biofuel sebenarnya hanya dibutuhkan minyak sawit (CPO) yang
    kualitasnya rendah (offgrade) atau kadar asam lemak bebasnya (Free
    Fatty Acid) tinggi (di atas 5%).

    "Hanya saja dalam pasar CPO ada kepentingan lain selain pengguna
    biofuel yang menginginkan harga murah, yakni perusahaan sawit yang
    lebih untung jika mengekspor saja CPO, sehingga pemerintah perlu
    menengahi ini agar harganya di dalam negeri stabil," katanya.

    Hingga April produksi CPO khusus untuk biodiesel sebesar 520.000 kilo
    liter dan direncanakan akan ditambah dengan 4 juta kilo liter per tahun
    dengan penambahan lahan 3,6 juta hektare dari sawit dan jarak pagar
    hingga 2011. (Twt)