• Rhenald Kasali Kritik BUMN

    Pakar ekonomi
    bisnis Rhenald Kasali mengritik perusahaan Indonesia, terutama BUMN. Menurut
    dia, di era persaingan global saat ini perusahaan dituntut tidak sekadar
    bertahan. Masalahnya, banyak perusahaan Indonesia, termasuk BUMN, masih memakai
    cara berpikir lama dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat.

    Dia mencontohkan banyak perusahaan pelat merah yang melakukan perubahan ketika
    mengalami krisis (manajemen krisis) dan bukan ketika melakukan transformasi
    (chance management). "Jadi, kerja keras itu hanya menghentikan
    pendarahan," ujarnya saat tampil di seminar Transformasi Perusahaan dan
    Manusia: Belajar dari Kegagalan Perusahaan Besar di Hyatt Regency, akhir pekan
    lalu.

    Dia menyatakan sulit mengubah perusahaan-perusahaan lama jika cara berpikirnya
    menggunakan mainstream lama. Biasanya perusahaan yang jaya di masa lalu sulit
    menerima kenyataan ketika hadir pesaing baru yang lebih progresif dan inovatif.
    "Mereka hidup di tengah situasi pasar yang protektif, terbatas, dan
    mengandalkan loyal customer. Saat ini berubah 180 derajat. Pasar penuh
    kompetisi, bebas, dan no loyalty customer," paparnya.

    Untuk melakukan perubahan, kata dia, diperlukan energi besar. Aspek umur
    menjadi salah satu faktor menumbuhkan kreativitas. Dia mencontohkan riset dari
    sebuah majalah perbankan baru-baru ini. Berdasar riset itu, indeks service
    excellent lima bank BUMN berada di luar 20 besar. Prestasi malah diukir bank
    seperti NISP dan Danamon. "Setelah ditelusuri, rata-rata karyawan bank
    BUMN itu 49 tahun," ungkapnya.

    Perubahan, lanjut dia, juga membutuhkan keberanian untuk mencoba hal yang baru
    dan mendobrak sistem lama. "Perusahaan harus diisi orang-orang yang bisa
    bergerak cepat dalam mengisi pasar," terangnya. (kia), Kementerian Negara BUMN (04 Juni 2007) (Twt)