• Petani Tuntut Dana PE CPO Untuk Subsidi Benih

    (JAKARTA, BISNIS, 18/06/07) Setelah pungutan ekspor minyak sawit mentah naik hingga 10%, kalangan petani menuntut pemerintah mengembalikan dana hasil PE yang mencapai Rp10 triliun dalam bentuk subsidi benih dan peremajaan tanaman.

    Setidaknya, 1 juta hektare lahan perkebunan rakyat mendesak diremajakan (replanting) karena umur tanaman yang tua menyebabkan produktivitas buah menurun sehingga tidak lagi menguntungkan bagi petani.

    Apalagi, kenaikan PE CPO yang diputuskan 15 Juni 2007 menekan harga tandan buah segar (TBS) petani saat ini sekitar Rp100-Rp150 per kilogram (kg) dibandingkan pekan lalu.

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsyad menyebutkan harga TBS di Sumut sebelum kenaikan PE mencapai Rp1.300 per kg. Awal pekan ini, harga TBS turun hanya Rp1.150 per kg.

    "Fokus kami bagaimana agar dana yang dipungut melalui PE, bisa disalurkan kembali untuk membantu petani. Pungutan itu mencapai Rp10 triliun. Kami butuh bantuan replanting," katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

    Dia menjelaskan kebutuhan peremajaan tanaman di lahan petani murni mencapai 700.000 ha, sedangkan di lahan milik petani plasma berkisar 300.000 ha. Kendala lain, pasokan benih tidak merata karena distribusi terpusat di kota.

    Kondisi ini memberatkan kalangan petani kendati harga CPO terus melonjak di kisaran US$700 per ton. Sayangnya, pemerintah telah memutuskan kenaikan tarif PE CPO pekan lalu setelah kontroversi dua bulan terakhir karena harga minyak goreng melambung.

    Tarif PE CPO dan produk turunannya naik bervariasi 6,5%-10% dengan rincian buah kelapa sawit dan kernel (inti) kelapa sawit naik dari 3% menjadi 10%, CPO 1,5% menjadi 6,5%.

    Sementara itu, produk turunan CPO, yaitu crude olein, refined bleached deodorized (RBD) olein, dan RBD palm oil, naik dari 0,3% menjadi 6,5%, sedangkan crude stearin, palm kernel oil (PKO), RBD PKO, dan RBD stearin, yang semula dikenai PE 0% dinaikkan 6,5%.

    Asmar menuturkan dengan harga patokan ekspor CPO US$622 per ton dan PE 6,5%, pemerintah memungut Rp36,387 juta per ton CPO.

    Kaji harga

    Di lain pihak, Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan pihaknya tengah mengkaji perhitungan harga TBS yang wajar sehingga kenaikan PE CPO tidak terlalu menekan harga petani.

    "Soal subsidi benih kami selalu menganggarkan tetapi memang tidak selalu semua dapat. Untuk replanting kan ada program revitalisasi perkebunan dimana pemerintah sudah memberikan subsidi bunga ke petani."

    Menurut dia, kenaikan harga CPO di bursa Rotterdam otomatis juga mengangkat harga TBS di dalam negeri. Kendati mengurangi margin petani, keputusan kenaikan PE itu cukup wajar.(Twt)