• Pemerintah Kaji Dirikan BUMN Pabrik Gula

    TEMPO Interaktif, Jakarta 28-06-07:Pemerintah sedang mengkaji kemungkinan untuk mendirikan perusahaan negara khusus pengolahan gula. Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian Benny Wahyudi ini masuk dalam kajian yang sedang berlangsung saat ini.

    Opsi lainnya, kata dia, adalah memperbaiki pabrik gula yang ada. "Kalau opsi kedua ini yang dilakukan agak berat karena perusahaan itu biasanya terbebani utang rekening dana investasi atau utang bank," kata Benny menjawab Tempo di Gedung DPR/MPR.

    Departemen Perindustrian, lanjut Benny, kebagian tugas untuk merancang pabrik dan teknologi yang akan digunakan. "Kami melibatkan PT Barata dan PT Rekayasa Industri untuk mendesain pabrik dengan teknologi yang tepat," kata dia kepada pers di Gedung DPR/MPR.

    Ia mengatakan ini menanggapi pertanyaan yang muncul dalam rapat kerja dengan Komisi VI terkait revitalisasi pabrik gula di Indonesia. Choirul Sholeh, anggota komisi itu, menyakan rencana departemen Perindustrian untuk memperbaiki pabrik-pabrik gula yang ada.

    Sebelumnya, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla juga melontarkan ide yang sama. Ini karena mayoritas pabrik gula di tanah air memiliki mesin yang sudah ketinggalan jaman dan tidak efisien. Akibatnya, produk yang dihasilkan sulit bersaing dalam harga dan kualitas dengan produk luar.

    Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, kemungkinan mendirikan pabrik gula yang dinamai pabrik gula Merah-Putih. "Artinya pabrik itu menggunakan teknologi, dan karya sendiri," kata dia.

    Untuk memperbaiki teknologi yang ada, kata Fahmi, sejumlah negara maju bisa dipelajari. "Misalnya Jepang," kata dia. Pabrik gula Cina, lanjut dia, meskipun terbilang tidak terlalu maju tapi mampu memproduksi gula hingga enam juga ton per tahun.

    "Ini baru dari pabrik di Guanxi saja lho," kata dia yang telah mengundang pengusaha gula negeri bambu itu untuk bertukar pikiran.

    Ketua Komisi VI DPR Didik J. Rachbini, dalam rapat kerja dengan departemen Perindustrian semalam, mengatakan, pemerintah harus konsisten mendukung revitalisasi ini. "Jangan nanti ada importir yang lobi-lobi lalu bea impornya jadi nol," kata dia.

    Didik juga meminta agar dana yang dikumpulkan dari pengenaan bea impor digunakan untuk memperbaiki kualitas pabrik gula yang ada. "Dana yang dialokasikan dalam anggaran negara tidak sepadan dengan yang diperoleh dari bea impor gula," kata dia.

    Fahmi mengakui, daya saing pabrik gula dalam negeri terbilang lemah. "Ada yang pabriknya dibangun sejak 1800 an," kata dia. "Yang terbaru pabrik gula di Lampung yang dibangun 1980an," kata dia.

    Kalangan perbankan, lanjut Fahmi, telah memberikan sinyal siap mendanai pabrik gula. Ia berharap dalam enam bulan ke depan, strategi revitalisasi pabrik gula ini bisa rampung. "Kami juga melibatkan PT Rekayasa Industri dan PT Barata untuk mencarikan teknologi terbaik," kata dia. budiriza (Twt)